KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah kembali membuat pasar menahan napas. Mata uang Garuda akhirnya menembus level psikologis Rp18.014 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis pagi, 4 Juni 2026, setelah sehari sebelumnya ditutup melemah di kisaran Rp17.966 per dolar AS.
Data Investing menunjukkan pada pukul 07.15 WIB rupiah telah bergerak ke level Rp18.014 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,43 persen atau sekitar 76,3 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Bahkan dalam 24 jam terakhir, rupiah sempat menyentuh posisi terlemah di level Rp18.013 per dolar AS. Angka tersebut menjadi sorotan karena level Rp18.000 selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting yang kerap mencerminkan tingkat kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.
Di tengah tekanan terhadap rupiah yang terus berlanjut, pemerintah membantah anggapan bahwa pelemahan mata uang nasional dipicu oleh kebijakan fiskal yang dinilai pasar terlalu agresif.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fiskal Indonesia justru berada dalam posisi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
“Banyak yang bilang rupiah melemah karena fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, tidak begitu,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurut dia, penerimaan pajak yang tumbuh pada tahun ini menunjukkan reformasi perpajakan yang dijalankan pemerintah mulai membuahkan hasil.
Pernyataan tersebut muncul ketika pasar justru sedang mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal di tengah berbagai program belanja besar dan kebutuhan pembiayaan yang terus meningkat.
Di sisi lain, pelaku pasar melihat tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perkembangan geopolitik global, terutama konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
Ketegangan kawasan tersebut dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia dan memicu kenaikan harga komoditas strategis, terutama minyak.
Selain itu, pasar juga masih mencermati arah hubungan Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan kepastian. Ketidakjelasan hasil negosiasi kedua negara membuat investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Kombinasi tekanan eksternal dan meningkatnya kehati-hatian investor membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam posisi yang rentan.(*)