KABARBURSA.COM - PT BSA Logistics Indonesia Tbk dengan kode saham WBSA mencatatkan sejarah sebagai emiten pertama dan satu-satunya yang berani melantai di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2026. Namun belum lama mengecap manisnya lantai bursa emiten ini langsung dihadapkan pada kenyataan pahit.
WBSA melantai pada 10 April 2026 dengan harga 168 per lembar. Ia melepas 1,8 miliar lembar sahamnya untuk publik.
Berdasarkan pengumuman resmi bursa nomor Peng-00010-HSC/BEI.WAS/05-2026 dan KSEI-3075/DIR/0526 saham WBSA resmi masuk dalam daftar High Shareholding Concentration atau HSC karena struktur kepemilikannya yang sangat terpusat.
Struktur kepemilikan saham WBSA memang tergolong sangat padat karena hanya dikuasai oleh segelintir pihak saja. Data terbaru dari keterbukaan informasi, per 30 April 2026 menunjukkan bahwa PT Tiga Beruang Kalifornia Pte Ltd menjadi pengendali utama dengan kepemilikan mencapai 6,85 miliar lembar saham atau setara 79,01 persen. Di posisi kedua ada Caerdydd Investments Pte Ltd yang memegang 422,14 juta lembar atau 4,87 persen diikuti oleh Lion Trust Singapore Limited sebesar 356,89 juta lembar atau 4,11 persen dan Zico Trust S Ltd sebanyak 324,18 juta lembar atau 3,74 persen.
Jika ditotal para pemegang saham ini secara agregat mengontrol hingga 95,82 persen dari seluruh saham WBSA.
Menurut data Stockbit sebenarnya freefloat atau saham beredar WBSA sebesar 12,12 persen— di bawah ketentuan regulasi bursa yang baru perusahaan tercatat wajib minimal freefloat 15 persen. Angka itu di antaranya dari data yang sama PT Beruang Kalifornia memegang 79.01 persen, masyarakat non warkat 20,75 persen dan masyarakat warkat 0,24 persen.
Kondisi inilah yang membuat Bursa Efek Indonesia menyematkan status HSC karena jumlah saham yang beredar di publik atau free float menjadi sangat terbatas. Akibat minimnya likuiditas ini WBSA juga harus rela masuk ke dalam jeratan mekanisme Full Call Auction atau FCA yang berada di bawah Papan Pemantauan Khusus. Masuknya WBSA ke zona FCA membuat saham ini menjadi sulit diperdagangkan secara dinamis layaknya saham di pasar reguler.
Berdasarkan data perdagangan terbaru Selasa, 12 Mei 2026 dari pantauan layar bursa harga saham WBSA saat ini berada di level 1.175. Kemudian mulai bergerak pada pukul 09.55 WIB ke 1.240. Namun investor harus waspada karena data Indicative Equilibrium Price atau IEP menunjukkan potensi harga keseimbangan berada di angka 1.060 yang berarti ada potensi koreksi sebesar 115 poin atau sekitar 9,79 persen. Nilai transaksi atau Indicative Equilibrium Volume juga terpantau sebesar 497,98 ribu yang menunjukkan volume perdagangan yang sangat tipis di pasar.
Melihat lebih detail pada aktivitas broker domestik di pasar reguler transaksi didominasi oleh broker XL dengan nilai beli 2,5 miliar dan nilai jual 3,6 miliar. Disusul oleh broker MU dengan pembelian 1,2 miliar dan penjualan 61,1 juta serta broker DR dengan nilai beli 1,1 miliar.
Sementara itu di pasar negosiasi broker XL terpantau melakukan transaksi beli dan jual yang seimbang masing-masing senilai 642,4 juta dengan harga rata-rata 1.071. Di sisi lain keterlibatan investor asing terpantau sangat minim di mana hanya broker YP yang mencatatkan aktivitas beli bersih senilai 2,8 juta saja di pasar reguler.
Berbeda dengan pasar reguler yang transaksinya berlangsung terus-menerus dalam FCA order beli dan jual dikumpulkan terlebih dahulu dalam satu periode waktu tertentu untuk kemudian dicocokkan pada waktu yang telah ditentukan bursa. Sistem ini sebenarnya ditujukan untuk memberikan kestabilan harga pada saham-saham yang tidak likuid namun konsekuensinya investor tidak bisa mengeksekusi order secara instan.
Untuk bisa keluar dari jeratan FCA WBSA harus memenuhi syarat ketat dari bursa. Berdasarkan aturan terbaru emiten setidaknya harus berada di Papan Pemantauan Khusus selama 7 hari bursa berturut-turut dengan catatan likuiditas yang sehat. Syarat tersebut mencakup rata-rata nilai transaksi harian di atas Rp5 juta dan rata-rata volume transaksi harian lebih dari 10.000 saham dalam tiga bulan terakhir.(*)