Logo
>

Bursa Asia Rontok, Pasar Pantau Perang AS–Israel dan Iran

Ini juga Tekanan di pasar saham Asia juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan perdagangan global dan lonjakan harga energi, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi dari Timur Tengah seperti Jepang dan Kor

Ditulis oleh Syahrianto
Bursa Asia Rontok, Pasar Pantau Perang AS–Israel dan Iran
Ilustrasi: Data pasar ditampilkan di Bursa Efek Taiwan. (Foto: Flickr/Wang Yu Ching/Office of the President)

KABARBURSA.COM – Bursa saham di kawasan Asia kompak melemah pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Sejumlah indeks utama di kawasan mencatat penurunan tajam, sementara harga minyak kembali naik karena investor memantau perkembangan konflik di Timur Tengah.

Seperti dilansir BBC, Indeks acuan Kospi Korea Selatan ditutup turun 12,2 persen, sementara indeks Nikkei 225 Jepang merosot lebih dari 4 persen. 

Pada perdagangan sore, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 2,5 persen dan indeks Shanghai Composite di China turun sekitar 0,8 persen.

Tekanan juga terlihat di beberapa bursa Asia lainnya. Di Korea Selatan dan Thailand, perdagangan sempat dihentikan sementara setelah indeks saham anjlok lebih dari 8 persen dan memicu mekanisme circuit breaker yang dirancang untuk menahan aksi jual panik di pasar.

Tekanan di pasar Asia juga merembet ke pasar domestik Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada sesi I perdagangan Selasa, 4 Maret 2026.

IHSG tercatat turun 343,19 poin atau 4,32 persen ke level 7.596,58.

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun Kabarbursa.com, indeks dibuka di level 7.896,38 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 7.897,81 sebelum bergerak turun hingga mencapai level terendah 7.584,86 sepanjang sesi.

Nilai transaksi tercatat sekitar Rp17,79 triliun dengan volume perdagangan mencapai 345,25 juta lot.

Tekanan di pasar saham Asia juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan perdagangan global dan lonjakan harga energi, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi dari Timur Tengah seperti Jepang dan Korea Selatan.

Harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 2,8 persen pada perdagangan sore di Asia setelah melonjak dalam dua hari sebelumnya. Kenaikan harga energi terjadi setelah serangkaian serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak paling vital di dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global biasanya melewati Selat Hormuz, jalur perairan sempit antara Iran dan Uni Emirat Arab. Namun lalu lintas kapal di kawasan tersebut dilaporkan hampir sepenuhnya terhenti setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan Angkatan Laut AS siap melindungi kapal-kapal di kawasan tersebut jika diperlukan untuk memastikan pasokan energi global tetap mengalir.

Perang yang kini memasuki hari kelima tersebut memicu ketidakpastian baru di pasar keuangan global, sementara investor terus memantau apakah konflik akan berkembang menjadi perang berkepanjangan yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.