Logo
>

BYAN di Harga Diskon, Pasar Masih Cuek?

Meski valuasi sudah berada di bawah rata-rata historis, saham BYAN belum memantik minat besar. Pergerakan sempit, volume biasa, dan suplai yang rutin muncul membuat pasar masih bersikap menunggu.

Ditulis oleh Yunila Wati
BYAN di Harga Diskon, Pasar Masih Cuek?
Tambang batu bara milik BYAN. Foto: Dok Bayan Resources.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Tidak semua saham yang murah otomatis menarik. Itulah yang sedang terjadi pada PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Meski valuasinya sudah masuk wilayah diskon dibandingkan rata-rata historisnya, pasar belum menunjukkan antusiasme untuk masuk. 

    Harga memang tidak jatuh, tetapi juga tidak diburu. BYAN seperti dibiarkan bergerak sendiri, tanpa sorak-sorai, tanpa dorongan.

    Pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, saham ini hanya menguat tipis ke level 17.175, naik 0,15 persen dari penutupan sebelumnya. Rentang pergerakannya sempit, volumenya biasa saja, dan tidak ada lonjakan partisipasi. 

    BYAN berada di level 17.175, menguat tipis 0,15 persen dari penutupan sebelumnya di 17.150. Sepanjang hari, harga hanya bergerak di rentang sempit 17.025–17.175, tanpa upaya berarti untuk keluar dari zona ini.

    Kenaikan memang terjadi, tetapi nyaris tanpa dorongan. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp207,2 miliar, dengan volume yang biasa saja. Tidak ada lonjakan partisipasi, tidak ada tanda-tanda euforia. Pasar seolah melihat, tetapi belum bertindak.

    Dari struktur orderbook, sikap menahan diri itu terlihat jelas. Antrean bid dan offer relatif berimbang, dengan suplai masih tebal di atas 17.200, sementara permintaan aktif tetapi terbatas di area 17.000–17.050. Setiap kali harga mencoba naik, pasokan langsung muncul. 

    Jika ditarik ke grafik harian, konteks ini semakin terasa. BYAN sudah lama keluar dari fase impulsifnya. Setelah mencapai puncak di atas 20.000 pada pertengahan 2024, harga bergerak turun secara bertahap, membentuk struktur lower high dan lower low

    Kini, saham ini seperti berhenti di tengah jalan, membangun zona keseimbangan baru di kisaran 16.500–17.500.

    Lonjakan singkat di awal 2026 memang sempat memberi harapan, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah struktur tren menengah. Artinya, yang terjadi sekarang bukan reli baru, melainkan proses memilah: apakah BYAN layak diburu kembali, atau tetap dibiarkan.

    Di sinilah ironi mulai muncul. Secara valuasi, BYAN sudah masuk wilayah yang secara historis tergolong murah. Berdasarkan PE Band tiga tahun, posisi PE saat ini berada di sekitar 28,21 kali—di bawah rata-rata historis 33,34 kali dan jauh dari +1 standar deviasi di 44,07 kali. Ini menempatkan BYAN di bawah zona normalnya sendiri.

    Dengan pendekatan mean reversion, harga wajar berbasis PE berada di kisaran 19.500–20.000, atau sekitar 15–20 persen di atas harga saat ini. Artinya, secara statistik, saham ini sedang diperdagangkan dengan diskon.

    Sinyal serupa juga muncul dari PBV Band. PBV BYAN kini berada di sekitar 14,74, di bawah mean historis 18,77 dan mendekati zona -1 standar deviasi di 16,18. Bahkan sempat menyentuh area 13,58, yang menandakan bahwa pasar telah memberikan diskon cukup dalam terhadap nilai bukunya.

    Jika penilaian pasar kembali ke level rata-rata, maka secara teoritis ruang pemulihan berada di kisaran 20–21 ribu. Bahkan target konservatif pun masih menempatkan BYAN di area 18 ribuan.

    Namun, di sinilah perbedaan antara murah di atas kertas dan menarik di mata pasar. Hari ini, BYAN belum diperlakukan sebagai saham diskon yang harus diburu. Ia lebih terlihat seperti saham yang sedang “ditinggal”, meskipun tidak dijual agresif.

    Kenaikan tipis, rentang sempit, dan volume yang biasa saja menandakan satu hal: pasar belum yakin. Tidak ada panic selling, tetapi juga belum ada keyakinan kolektif untuk masuk.

    Secara teknikal, area 17.000 kini menjadi support psikologis yang penting. Selama level ini bertahan, peluang pengujian ulang ke area 17.800–18.200 tetap terbuka. Namun zona 18.000 bukan sekadar target harga—ia adalah zona psikologis. 

    Selama harga masih bergerak di bawah 18.000 dan suplai masih rutin muncul di setiap kenaikan, maka BYAN belum keluar dari statusnya sebagai saham yang “murah tapi sepi peminat”.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79