KABARBURSA.COM – Penurunan rasio dana murah atau current account savings account (CASA) di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mulai menjadi sorotan pelaku pasar, seiring perubahan komposisi pendanaan bank.
Riset UOB Kay Hian mencatat rasio CASA BMRI mengalami pelemahan. Pelemahan ini menandakan adanya peningkatan ketergantungan terhadap dana mahal seperti deposito berjangka. Perubahan ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang memperketat likuiditas dan meningkatkan kompetisi penghimpunan dana di industri perbankan.
Untuk diketahui, penurunan CASA ini secara langsung akan berdampak pada struktur biaya dana (cost of funds). Porsi dana murah yang mengecil membuat bank harus menawarkan bunga lebih tinggi untuk menarik likuiditas, sehingga beban bunga berpotensi meningkat.
Dalam kondisi suku bunga yang masih relatif tinggi, ruang penyesuaian bunga kredit tidak sepenuhnya fleksibel. Inilah yang kemudian menekan net interest margin (NIM) dan mulai menjadi perhatian khusus.
Target NIM 2026
Manajemen BMRI sendiri menargetkan NIM di kisaran 4,6 hingga 4,8 persen pada 2026. Target ini mencerminkan adanya ruang margin yang lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Target ini dibuat terutama ketika biaya dana meningkat sementara yield aset produktif tidak bergerak secepat itu.
Kondisi tersebut menempatkan stabilitas margin sebagai variabel yang sensitif terhadap perubahan struktur pendanaan.
Dividen dan Menciutnya CASA
Di tengah dinamika tersebut, perhatian pasar juga tertuju pada agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 29 April 2026, khususnya terkait penetapan dividen tahun buku 2025.
BMRI sebelumnya telah membagikan dividen interim sebesar Rp100 per saham pada Januari 2026 dengan total nilai mencapai Rp9,3 triliun. Keputusan dividen final akan melengkapi distribusi laba bersih yang telah dibukukan sepanjang 2025.
Secara historis, BMRI dikenal memiliki kebijakan dividen yang konsisten dengan rasio pembayaran yang tinggi. Dengan laba per saham (EPS) sebesar Rp609 dan proyeksi dividend payout ratio (DPR) di kisaran 60 hingga 80 persen, estimasi dividen final berada di rentang Rp300 hingga Rp400 per saham setelah dikurangi interim.
Pada harga saham di kisaran Rp5.000-an, potensi yield dividen berada di level high single digit dan dalam beberapa skenario mendekati dua digit.
Namun, penurunan CASA mulai memunculkan pertanyaan terhadap keberlanjutan yield tersebut. Ketika biaya dana meningkat, tekanan terhadap margin berpotensi memengaruhi pertumbuhan laba ke depan.
Dalam kondisi ini, ruang untuk mempertahankan atau meningkatkan DPR menjadi lebih terbatas karena bank perlu menjaga keseimbangan antara distribusi dividen dan kebutuhan modal untuk ekspansi kredit.
Potensi Yield Dua Digit
Dengan demikian, potensi yield dua digit tidak serta-merta hilang dalam jangka pendek karena dividen yang akan diputuskan pada RUPST 2026 tetap berbasis pada kinerja laba 2025 yang sudah terealisasi.
Data hingga Februari 2026 menunjukkan laba bersih BMRI mencapai Rp8,9 triliun, tumbuh 16,7 persen secara tahunan, yang menjadi dasar utama dalam perhitungan dividen. Namun, tekanan pada CASA mulai membentuk ekspektasi baru terhadap arah yield pada periode berikutnya.
Pergerakan saham BMRI pada perdagangan Senin, 6 April 2026, mencerminkan dinamika tersebut. Hingga pukul 11.11 WIB, saham berada di level Rp4.620 atau turun 0,65 persen dari penutupan sebelumnya Rp4.650.
Sepanjang sesi, harga bergerak dalam rentang Rp4.600 hingga Rp4.700, dengan tekanan jual yang muncul bertahap di area atas dan membentuk pola pergerakan yang cenderung tertahan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengakomodasi perubahan pada sisi fundamental pendanaan tanpa disertai tekanan ekstrem. Level Rp4.600 menjadi area uji support terdekat, sementara Rp4.650–Rp4.700 menjadi zona distribusi jangka pendek.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana sentimen penurunan CASA, ekspektasi margin, dan narasi dividen mulai terintegrasi dalam pembentukan harga saham BMRI.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.