KABARBURSA.COM – PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) mengambil langkah penguatan struktur permodalan dengan menyuntikkan dana ke entitas anaknya, PT Industri Pameran Nusantara (IPN), di tengah kondisi arus kas yang sedang tertekan akibat fase ekspansi agresif.
Langkah ini dilakukan untuk menopang pengembangan fasilitas Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) di kawasan Central Business District PIK2, yang menjadi salah satu pilar strategis pengembangan jangka panjang perusahaan.
Dalam keterangannya pada Senin, 26 Januari 2026, manajemen CBDK menyampaikan bahwa IPN telah menerbitkan 14.705.883 saham Seri B dengan nilai nominal Rp17.000 per saham atau setara Rp250 miliar.
Seluruh saham baru tersebut diambil bagian oleh CBDK, sehingga pengendalian atas IPN tetap berada di tangan induk usaha. Seiring dengan transaksi tersebut, IPN juga meningkatkan modal dasar secara signifikan menjadi Rp8 triliun dari sebelumnya Rp2,30 triliun.
Setelah aksi ini, kepemilikan CBDK di IPN meningkat menjadi 149.741.558 saham Seri B atau setara dengan 99,9934 persen dari modal ditempatkan dan disetor IPN.
Tambahan modal tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas keuangan IPN dalam mendukung operasional serta pengembangan lanjutan fasilitas MICE yang dijalankan melalui Nusantara International Convention & Exhibition (NICE).
Fasilitas NICE sendiri telah mulai beroperasi sejak akhir Agustus 2025 dan diproyeksikan menjadi salah satu jangkar aktivitas ekonomi di kawasan CBD PIK2, seiring meningkatnya kebutuhan ruang konvensi dan pameran berskala besar di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Manajemen menegaskan bahwa secara langsung transaksi peningkatan modal ini tidak menimbulkan dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha CBDK.
Kas Turun 68,88 Persen
Jika dilihat dari kinerja keuangannya, hingga periode September 2025, pendapatan CBDK melonjak menjadi Rp1,10 triliun atau tumbuh sekitar 79 persen secara tahunan. Lonjakan pendapatan ini diikuti oleh peningkatan EBITDA menjadi Rp750,15 miliar, naik lebih dari 155 persen, dengan beban operasional yang relatif terkendali di level Rp122,12 miliar.
Dampaknya, laba bersih tercatat Rp794,55 miliar atau melonjak 179 persen secara tahunan, dengan margin laba bersih mencapai 72,06 persen.
Namun, di balik lonjakan laba tersebut, arus kas memperlihatkan dinamika yang berbeda. Arus kas dari aktivitas operasi hanya mencapai Rp145,51 miliar, turun 68,88 persen secara tahunan.
Tekanan semakin terasa pada arus kas investasi yang mencatat arus keluar Rp447,83 miliar, mencerminkan belanja modal besar untuk pengembangan aset dan infrastruktur kawasan. Secara keseluruhan, perubahan bersih kas menjadi negatif Rp326,24 miliar, dengan free cash flow tercatat minus Rp125,94 miliar.
Meski arus kas mengalami penurunan, posisi likuiditas CBDK masih ditopang oleh kas dan investasi jangka pendek sebesar Rp4,22 triliun. Dengan cadangan kas tersebut, penyertaan modal Rp250 miliar ke IPN hanya menyerap sekitar enam persen dari kas yang tersedia.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa penguatan anak usaha dilakukan melalui kas internal, bukan lewat penambahan utang atau aksi korporasi eksternal. Pendekatan ini sejalan dengan praktik umum korporasi, di mana induk usaha memanfaatkan likuiditas yang kuat untuk memperkuat anak usaha, terutama saat proyek masih berada pada tahap awal pengembangan.
Dari sisi neraca, CBDK mencatat total aset Rp22,06 triliun dengan liabilitas Rp10,07 triliun dan ekuitas Rp11,99 triliun, mencerminkan struktur permodalan yang relatif seimbang. Rasio pengembalian seperti return on assets sebesar 8,52 persen dan return on capital 15,76 persen menunjukkan bahwa aset dan modal yang digunakan mulai menghasilkan imbal hasil yang kompetitif.
Namun, price to book value di level 4,93 kali juga menunjukkan bahwa pasar telah memberikan premi yang cukup tinggi terhadap nilai buku, sejalan dengan ekspektasi atas potensi pengembangan kawasan PIK2.
Dengan menggabungkan kinerja keuangan dan aksi korporasi tersebut, langkah CBDK menyuntikkan modal ke IPN terlihat sebagai bagian dari strategi terencana untuk mengamankan fondasi aset strategis di tengah fase ekspansi. Arus kas yang tertekan mencerminkan percepatan investasi, bukan tekanan likuiditas yang bersifat darurat.
Bagi pasar, langkah ini lebih mencerminkan keyakinan manajemen terhadap potensi jangka panjang fasilitas MICE dan ekosistem bisnis PIK2, dengan catatan bahwa keberhasilan berikutnya akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat investasi tersebut mampu mengonversi laba akuntansi menjadi arus kas operasional yang berkelanjutan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.