KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak fluktuatif cenderung melemah terbatas pada perdagangan sepekan ke depan, 9–13 Februari 2026, di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang masih menekan psikologis pasar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memperkirakan ruang gerak IHSG berada di kisaran support 7.716 dan resistance 8.207, setelah tekanan jual yang terjadi dalam sepekan terakhir belum sepenuhnya mereda.
Selama sepekan terakhir, IHSG terkoreksi cukup dalam sebesar minus 4,73 persen ke level 7.935. Tekanan tersebut terjadi seiring dengan outflow di pasar reguler sebesar Rp1,2 triliun yang mencerminkan sikap wait and see investor. Sentimen utama datang dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memberikan ancaman Indonesia berpotensi masuk ke frontier market apabila tidak dapat memenuhi permintaan MSCI terkait transparansi pemegang saham.
Dari sisi global, pasar juga dibayangi dinamika geopolitik Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan tidak langsung AS-Iran yang dimediasi Oman di Muscat berjalan sangat baik dan membuka peluang pertemuan lanjutan pada awal pekan depan.
Iran juga menyatakan perundingan awal berlangsung positif untuk meredam ketegangan dan menghindari konflik militer. Namun, Teheran menegaskan pembahasan hanya soal nuklir, sementara AS ingin memperluas isu ke rudal dan milisi regional. Kabar ini sempat menekan harga minyak Brent di bawah USD67 per barel sebelum kembali stabil.
“IPOT melihat risiko geopolitik tetap tinggi karena AS pada saat yang sama menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran," kata Imam dalam pernyataan tertulis yang diterima KabarBursa.com pada Senin, 9 Februari 2026.
Imam menjelaskan, Iran menyita kapal tanker kecil di Teluk Persia dan kedua pihak saling melontarkan ancaman. "Kami menilai peluang eskalasi serangan terbatas di maritim masih terbuka meski jalur diplomasi berlanjut,” ujarnya.
Di sisi lain, meredanya ketegangan perang dagang Amerika Serikat dan India memberi sentimen positif bagi ekonomi domestik mengingat India merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Presiden Donald Trump menghapus tarif tambahan 25 persen dan memangkas tarif resiprokal sehingga tarif efektif turun menjadi 18 persen.
Sebagai imbalannya, India berkomitmen membatasi impor minyak Rusia, meningkatkan pembelian energi dari AS, serta sepakat membeli produk AS senilai USD500 miliar dalam lima tahun. Kesepakatan ini juga mencakup penghapusan berbagai hambatan perdagangan di sektor pertanian, manufaktur, kesehatan, dan teknologi. Meski positif, sentimen ini belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari faktor risiko global lainnya.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari keputusan Moody’s yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 namun menurunkan outlook menjadi negatif. Moody’s menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta melemahnya prediktabilitas dan koordinasi pemerintah berisiko menggerus kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor, meskipun fundamental ekonomi dinilai masih relatif solid dengan pertumbuhan sekitar 5 persen, defisit fiskal terjaga di bawah 3 persen PDB, dan rasio utang pemerintah yang tetap rendah.
“Moody’s menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar, sementara eskalasi risiko politik dan volatilitas pasar keuangan berpotensi menekan stabilitas makro jika tidak diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang lebih kuat,” kata Imam.
Penurunan outlook sovereign Indonesia ini berdampak langsung pada penurunan batas atas peringkat atau rating cap sejumlah emiten besar, termasuk BUMN seperti Telkom, Pertamina, serta bank-bank utama Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan BTN. Emiten non-BUMN seperti Indofood CBP dan United Tractors juga terdampak melalui ketergantungan pada stabilitas makro dan akses pendanaan.
Kondisi ini mempersempit ruang kenaikan peringkat serta membuat emiten lebih sensitif terhadap potensi penurunan peringkat lanjutan jika tekanan fiskal dan ketidakpastian kebijakan berlanjut. ICBP juga memiliki eksposur utang dolar AS dari akuisisi Pinehill, sehingga volatilitas nilai tukar dan kenaikan premi risiko negara berpotensi mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
Di tengah tekanan sentimen tersebut, fundamental ekonomi domestik masih memberikan bantalan. Ekonomi Indonesia pada 2025 tumbuh solid sebesar 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan pada triwulan IV 2025 bahkan mencapai 5,39 persen secara tahunan, didorong oleh sektor transportasi dan pergudangan.
Permintaan domestik yang kuat melalui sektor jasa dan konsumsi digital, aktivitas produksi di zona ekspansi, serta lonjakan belanja modal pemerintah hingga 40,14 persen secara tahunan turut menjaga momentum ekspansi ekonomi nasional hingga akhir tahun. Namun, pasar cenderung menilai bahwa sentimen risiko jangka pendek masih lebih dominan dalam memengaruhi pergerakan IHSG pekan ini.
Memasuki perdagangan 9–13 Februari 2026, investor akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat yang diproyeksikan turun menjadi 2,5 persen yoy dari 2,7 persen yoy, yang berpotensi memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Initial jobless claims diperkirakan di kisaran 235 ribu, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan stabil di 4,4 persen, mencerminkan pasar tenaga kerja AS yang mulai melandai.
Dari China, inflasi diproyeksikan turun menjadi 0,4 persen yoy dari 0,8 persen yoy, mengindikasikan tekanan permintaan domestik yang masih lemah dan membuka ruang pelonggaran kebijakan. Data ini penting bagi Indonesia mengingat peran China sebagai mitra dagang utama dan pengaruhnya terhadap sentimen komoditas global.
Dari domestik, perhatian pasar tertuju pada rilis penjualan ritel Desember 2025 dan data penjualan mobil Januari 2026 sebagai indikator daya beli dan tren konsumsi awal tahun. Meski data ekonomi berpotensi memberikan konfirmasi ketahanan konsumsi rumah tangga, pasar masih dibayangi kehati-hatian akibat perkembangan kebijakan Moody’s dan dampaknya terhadap persepsi risiko serta biaya pendanaan emiten Indonesia.
IPOT menilai pergerakan IHSG pada sepekan ke depan akan cenderung bervariasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Rentang pergerakan 7.716 hingga 8.207 diperkirakan mencerminkan tarik-menarik antara sentimen risiko global, kehati-hatian investor terhadap isu peringkat kredit dan MSCI, serta dukungan fundamental ekonomi domestik yang masih solid.(*)