Logo
>

COIN ke Zona Rugi, Pasar Mulai Hitung Ulang Valuasi

COIN mencatat rugi Rp19,6 miliar pada kuartal I 2026 saat sahamnya melemah dan tekanan jual masih mendominasi orderbook.

Ditulis oleh Yunila Wati
COIN ke Zona Rugi, Pasar Mulai Hitung Ulang Valuasi
Hampir separuh pendapatan Indokripto tergerus tekanan biaya dan beban operasional. (Foto: dok COIN)

KABARBURSA.COM – Euforia saham kripto mulai menghadapi ujian nyata. PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) resmi membukukan rugi bersih pada kuartal I 2026, sementara pergerakan sahamnya di pasar juga mulai kehilangan momentum setelah reli agresif beberapa waktu lalu.

Dalam laporan keuangan terbaru, COIN mencatat rugi bersih sebesar Rp19,6 miliar pada tiga bulan pertama 2026. Angka ini berbalik tajam dibanding posisi laba bersih tahun 2025 yang sempat mencapai Rp49,1 miliar.

Penurunan kinerja tersebut terlihat cukup dalam jika dibandingkan secara kuartalan. EBITDA perusahaan berubah negatif menjadi minus Rp7 miliar dari sebelumnya positif Rp130,6 miliar pada akhir 2025.

Pendapatan COIN pada kuartal I 2026 tercatat Rp41,5 miliar. Nilai ini turun sekitar 48,3 persen dibanding posisi kuartalan sebelumnya yang mencapai Rp284,8 miliar.

Meski margin kotor masih tercatat 100 persen, tekanan besar muncul pada level operasional. COIN mencatat rugi usaha Rp23,5 miliar dan net margin negatif 47,2 persen. Artinya, hampir separuh pendapatan perusahaan habis tergerus tekanan biaya dan beban operasional.

Dari sisi rasio, kondisi COIN juga mulai terlihat berat. EPS tercatat minus Rp1,33 per saham dengan PER negatif 808 kali. Return on asset (ROA) berada di minus 1,25 persen dan return on equity (ROE) minus 1,28 persen.

Namun di balik tekanan laba tersebut, struktur neraca COIN sebenarnya masih relatif cukup sehat. Perusahaan memiliki kas Rp330,6 miliar dengan total utang yang sangat rendah.

Utang jangka pendek hanya Rp38,8 miliar dan utang jangka panjang Rp3,8 miliar. Debt to equity ratio juga hanya 0,03 kali, menandakan tekanan leverage perusahaan masih sangat ringan.

Masalah utama pasar sekarang bukan lagi soal utang, melainkan kemampuan COIN menjaga pertumbuhan bisnis setelah fase euforia awal industri kripto mulai mereda.

Kinerja Saham Buruk

Hal tersebut mulai tercermin dalam perdagangan saham hariannya. Pada perdagangan terakhir, saham COIN ditutup di level 1.075 atau turun 3,59 persen. Harga dibuka di area 1.120 sebelum sempat naik ke 1.145 dan akhirnya turun hingga menyentuh level terendah 1.055.

Nilai transaksi saham mencapai Rp7,4 miliar dengan volume sekitar 68,93 ribu lot dan frekuensi transaksi 2.539 kali. Aktivitas ini menunjukkan saham COIN masih cukup aktif diperdagangkan pasar meski tekanan jual mulai membesar.

Arus transaksi asing juga mulai menunjukkan tekanan distribusi. Foreign buy tercatat sekitar Rp1,6 miliar, sedangkan foreign sell mencapai Rp1,9 miliar. Artinya, saham ini masih mengalami net foreign sell pada perdagangan hari ini.

Valuasi Premium

Struktur orderbook juga memperlihatkan pasar mulai cenderung defensif. Total antrean bid mencapai 28.635 lot dengan frekuensi 956 kali, sedangkan offer berada di 23.416 lot dengan frekuensi 421 kali.

Lapisan bid terbesar terlihat menumpuk di area 1.050 sebanyak 5.660 lot dan 1.055 sekitar 3.146 lot. Area ini mulai terlihat sebagai zona pertahanan jangka pendek yang sedang dijaga pasar.

Namun di sisi atas, tekanan offer masih cukup tebal sejak level 1.075 hingga 1.100. Antrean jual terbesar terlihat di area 1.100 sebanyak 1.022 lot dan 1.080 sekitar 981 lot.

Pola seperti ini menunjukkan pasar masih berada dalam fase tarik-menarik. Sebagian pelaku mulai mencoba menahan harga di area bawah, tetapi tekanan distribusi di atas masih cukup aktif sehingga membuat saham kesulitan rebound agresif.

Menariknya, valuasi pasar COIN saat ini masih tergolong sangat premium. Dengan harga saham di level 1.075 dan jumlah saham beredar 14,7 miliar lembar, kapitalisasi pasar perusahaan mencapai sekitar Rp15,8 triliun.

Angka tersebut jauh lebih besar dibanding total ekuitas perusahaan yang berada di kisaran Rp1,52 triliun. Kondisi ini membuat PBV COIN masih berada di level tinggi sekitar 10,34 kali.

Di titik inilah pasar mulai memperdebatkan cerita besar COIN. Sebagian investor masih melihat perusahaan ini sebagai representasi pertumbuhan industri aset digital dan ekosistem kripto Indonesia. Namun sebagian lain mulai mempertanyakan kemampuan fundamental perusahaan menopang valuasi tinggi setelah laba mulai berubah negatif.

Apalagi, bisnis berbasis aset digital cenderung sangat sensitif terhadap volatilitas pasar kripto global, sentimen regulasi, hingga perubahan aktivitas transaksi investor ritel.

Karena itu, pergerakan COIN saat ini mulai memasuki fase yang lebih menarik. Bukan lagi sekadar soal hype industri kripto, tetapi apakah perusahaan benar-benar mampu membangun profitabilitas yang konsisten setelah fase euforia pasar mulai mendingin.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79