KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal menikmati reli mayoritas bursa Asia pada penutupan perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Indeks berakhir tertekan cukup dalam akibat aksi jual di saham energi dan sejumlah big caps perbankan.
IHSG ditutup turun 63 poin atau melemah 0,92 persen ke level 6.905. Koreksi ini membuat indeks kembali menjauh dari area psikologis 7.000 yang sebelumnya sempat diuji pasar dalam beberapa sesi terakhir.
Tekanan jual terlihat cukup merata sejak awal perdagangan. Meski sempat mencoba bertahan di sesi pertama, arus jual perlahan membesar memasuki perdagangan siang hingga penutupan pasar.
Nilai transaksi masih tergolong tinggi mencapai Rp20,28 triliun dengan volume perdagangan sekitar 410,1 juta lot saham. Aktivitas tersebut menunjukkan pasar sebenarnya masih sangat aktif, tetapi arah transaksi lebih banyak diwarnai aksi pengurangan posisi.
Dari kelompok saham unggulan LQ45, tekanan terbesar datang dari saham-saham berbasis energi dan konglomerasi. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA).
Kemudian, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (AADI) masuk dalam jajaran top losers.
Di sisi lain, pasar masih memberikan ruang penguatan untuk beberapa saham berbasis komoditas mineral dan konsumsi. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Astra International Tbk (ASII).
Lalu, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjadi penopang utama daftar top gainers LQ45.
Secara sektoral, saham infrastruktur justru menjadi kelompok paling kuat dengan kenaikan 1,52 persen. Namun penguatan tersebut tidak cukup menahan tekanan besar dari sektor energi yang anjlok 2,02 persen.
Pelemahan sektor energi dipimpin saham-saham minyak dan batu bara seperti PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), hingga PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR).
Kospi Agresif, Hang Seng Bergerak Tipis
Menariknya, tekanan di IHSG justru terjadi ketika mayoritas bursa Asia bergerak menguat. Pasar regional cenderung mengabaikan ketegangan geopolitik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.
Korea Selatan menjadi bursa dengan performa paling agresif setelah indeks Kospi melonjak 4,32 persen ke level 7.822. Bursa China juga tampil cukup solid dengan Shanghai Composite naik 1,08 persen dan Shenzhen melonjak 2,16 persen.
Sementara itu, Hang Seng Hong Kong bergerak tipis naik 0,05 persen dan Taiwan menguat 0,45 persen. Jepang bergerak campuran dengan Nikkei225 turun 0,47 persen, sedangkan Topix masih mampu naik 0,30 persen.
Pasar global saat ini sedang berada dalam posisi yang cukup sensitif terhadap perkembangan Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump disebut menolak proposal terbaru Iran terkait penghentian perang dan pencabutan sanksi.
Iran sendiri dilaporkan kembali mengajukan proposal baru yang berisi penghentian konflik di seluruh lini serta pelonggaran sanksi ekonomi. Namun pasar tetap mencemaskan risiko perang berkepanjangan karena konflik kini sudah memasuki minggu ke-11.
Situasi semakin rumit setelah Iran secara efektif masih membatasi jalur Selat Hormuz, salah satu koridor energi paling penting dunia yang biasa dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas global.
Meski begitu, pasar Asia tampaknya mulai melihat lonjakan harga energi lebih sebagai hambatan pertumbuhan daripada ancaman resesi langsung. Kepala ekonom global JPMorgan Bruce Kasman bahkan menyebut harga energi saat ini masih berada di level “penghambat”, belum menjadi “penghenti” ekspansi ekonomi global.
Rupiah dan Yen Kompak Turun
Dari sisi mata uang, tekanan terhadap aset Asia masih terlihat cukup jelas. Rupiah ditutup melemah 0,18 persen ke level Rp17.414 per dolar AS. Yen Jepang juga turun ke 157,01 per dolar AS, sementara rupee India melemah paling dalam sebesar 0,76 persen.
Di tengah situasi tersebut, pergerakan IHSG hari ini memperlihatkan pasar domestik masih berada dalam fase rapuh. Ketika regional mulai mencoba rebound, investor di Indonesia justru masih cenderung defensif terhadap saham berbasis energi dan saham berkapitalisasi besar.
Pasar tampaknya sedang menunggu dua hal sekaligus: kepastian arah geopolitik global dan stabilitas arus dana asing di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang belum benar-benar mereda.(*)
SEO Description:
SEO Keywords: