Logo
>

Danantara Berencana Suntik Dana ke GIAA, Buat Beli 50 Pesawat Boeing?

Danantara buka peluang injeksi modal lanjutan ke Garuda, namun fokus utama saat ini adalah merger maskapai BUMN dan efisiensi armada.

Ditulis oleh Adi Subchan
Danantara Berencana Suntik Dana ke GIAA, Buat Beli 50 Pesawat Boeing?
Ilustrasi penyuntikan dana ke PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Danantara Indonesia membuka kemungkinan untuk kembali menyuntikkan dana segar ke PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Sebelumnya, lembaga ini telah memberikan modal sebesar USD1,4 miliar atau sekitar Rp23 triliun pada November 2025 silam.

Hal itu dikatakan Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas. “Capital injection harus ada nanti next,” kata Rohan Hafas menanggapi pertanyaan soal potensi injeksi modal susulan bagi maskapai pelat merah tersebut, Selasa, 3 Maret 2026.

Meski opsi penyuntikan modal tambahan terbuka, Rohan menekankan bahwa hal itu belum menjadi prioritas Danantara saat ini. Fokus utama lembaga sovereign wealth fund (SWF) tersebut adalah menyelesaikan proses holdingisasi atau merger maskapai BUMN, yang ditarget rampung pada semester I-2026.

“Merger dulu lebih bagus digabung supaya jumlah armadanya menjadi efisien,” jelas Rohan.

Menurutnya, percepatan proses holdingisasi dianggap lebih realistis dibandingkan pembelian armada baru, karena pembelian pesawat, seperti Boeing, memerlukan waktu tunggu hingga tujuh tahun bagi seluruh maskapai.

Hingga 31 Oktober 2025, Garuda Indonesia tercatat memiliki 78 pesawat serviceable, terdiri dari 46 pesawat berbadan kecil (narrow body) dan 32 berbadan lebar (wide body), termasuk enam unit yang sedang dihentikan sementara.

Sementara Citilink, anak usaha Garuda, memiliki 64 armada serviceable, terdiri dari 56 pesawat Airbus, tujuh turboprop, satu fighter, dan tujuh pesawat dalam tahap penghentian sementara.

Mengenai rencana pembelian 50 pesawat Boeing dari Amerika Serikat, Rohan menjelaskan bahwa prosesnya masih dalam tahap pembahasan G2G (government-to-government).

“Danantara siap membeli 50 pesawat Boeing itu, tapi pihak Boeing belum menyampaikan berapa unit yang bisa disediakan,” ujarnya.

Sumber pendanaan pembelian pesawat tersebut bervariasi, tidak selalu berasal dari Danantara atau kas internal Garuda Group.

“Suppliers credit juga ada dari Boeing. Bisa dicicil atau tunai, tergantung kesepakatan. Namanya orang mau beli, orang mau jual, harus ketemu di titik yang sama-sama senang, termasuk soal bunga dan pembayaran,” terang Rohan.

Sementara itu, Komisaris Utama GIAA, Fadjar Prasetyo saat dihubungi menyarankan agar persoalan tersebut ditanyakan langsung kepada direksi. “Mungkin lebih baik ke direksi saja ya,” kata mantan KSAU ini melalui pesan singkat WhatsApp (WA), Selasa, 3 Maret 2026.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani mengatakan saat ini pihaknya dan Boeing tengah melakukan komunikasi secara intensif untuk membahas detail kebutuhan armada yang sesuai dengan pangsa pasar Garuda.

Ia mengatakan rencana pembelian pesawat tersebut merupakan salah satu langkah strategis jangka panjang dalam upaya penyehatan Perseroan.

"Melalui transformasi bisnis dengan penguatan armada dan optimalisasi jaringan penerbangan dalam lima tahun ke depan," ujar dia dalam keterbukaan informasi, Senin, 21 Juli 2025.

Wamildan menyebut pembelian 'burung besi'  telah disetujui oleh Menteri BUMN (saat itu), Erick Thohir yang sebelumnya juga telah disetujui oleh Presiden Indonesia, Prabowo Subianto pada 23 Juni 2025.

"Perseroan juga secara paralel tengah menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak pemberi dana potensial," katanya.

Menurutnya, penambahan  armada  akan menunjang transformasi bisnis Garuda dari aspek network dan fleet melalui rasionalisasi jaringan rute yang didasari pada profitability uplift potential dan strategic network serta ekspansi armada yang align dengan dengan permintaan market.

Meski begitu, Wamildan menegaskan pihaknya akan tetap menjaga efisiensi atas operating cost, yang diharapkan dapat mengoptimalkan pendapatan Perseroan. 

"Saat ini Perseroan dan Boeing melanjutkan komunikasi secara intensif untuk membahas lebih komprehensif terkait detail kebutuhan armada yang sesuai dengan pangsa pasar Perseroan, termasuk terkait dengan waktu delivery pesawat. Hal ini juga mempertimbangkan dari sisi kesiapan Boeing untuk menyediakan tipe pesawat yang dibutuhkan oleh Perseroan," pungkasnya.

Perlu diketahui, pembelian pesawat tersebut merupakan bagian dari syarat kesepakatan tarif 19 persen yang dicanangkan AS terhadap produk dari Indonesia.

Dalam persyaratan, Indonesia diharuskan membeli 50 pesawat buatan Boeing. Kesepakatan juga mengharuskan Indonesia membeli energi dan mengimpor produk pertanian dari Negeri Paman Sam.

Tak hanya itu, Presiden AS, Donald Trump menyatakan barang ekspor AS ke Indonesia tidak akan dikenakan biaya atau nol persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Adi Subchan

Adi Subchan, telah berkarir sebagai jurnalistik sejak 2002 dan telah meliputi tentang Politik, Olahraga, Lifestyle, dan Ekonomi di berbagai media berskala nasional maupun lokal (daerah). Dan pernah ditugaskan meliput peristiwa-peristiwa besar di Indonesia dan dunia. Tercatat pula sebagai Wartawan Utama melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diinisiasi LPSD dengan nomor 749-LPDS/WU/DP/I/2012/03/05/79.