Logo
>

DEWA Baru Sentuh 12 Persen Target Tahunan, Cukup Kencang?

Kinerja kuartal I tumbuh tahunan, namun tekanan kuartalan masih terlihat. DEWA membidik ekspansi volume dan diversifikasi bisnis sepanjang 2026.

Ditulis oleh Yunila Wati
DEWA Baru Sentuh 12 Persen Target Tahunan, Cukup Kencang?
Kenaikan laba bersih DEWA hingga 34,6 persen masih berada di kisaran 12 persen dari estimasi laba tahunan konsensus. (Foto: dok Darma Henwa)

Poin Penting :

KABARBURSA.COM - PT Darma Henwa Tbk (DEWA) bergerak solid di awal 2026. Kuartal pertama tahun ini, DEWA mencatatkan laba bersih sebesar Rp92,7 miliar. Laba bersih tersebut meningkat sekitar 34,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Angka ini menempatkan capaian awal tahun berada di kisaran 12 persen dari estimasi laba tahunan konsensus, mencerminkan awal yang masih dalam fase pembentukan.

Kenaikan laba secara tahunan tersebut tidak berdiri sendiri. Normalisasi tarif pajak efektif ke kisaran 21 persen menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan laba bersih, berbeda dengan periode sebelumnya yang berada di level lebih tinggi. 

Di saat yang sama, efisiensi operasional juga mulai terlihat, terutama dari peningkatan porsi pekerjaan yang menggunakan armada internal.

Namun jika ditarik ke perbandingan kuartalan, tekanan mulai terlihat di beberapa sisi. Core profit tercatat Rp125 miliar, turun 24 persen dibanding kuartal sebelumnya, dengan penurunan pendapatan sekitar 11 persen secara kuartalan. 

Kondisi ini dipengaruhi oleh turunnya rate pengerjaan sekitar 7 persen di tengah volume material yang relatif stabil, serta faktor eksternal seperti curah hujan yang lebih tinggi.

Tekanan juga muncul dari sisi biaya. Beban operasional meningkat sekitar 40 persen secara kuartalan, terutama dari komponen biaya lain-lain yang tidak dirinci lebih lanjut. 

Di sisi lain, proporsi pekerjaan in-house yang relatif tetap di kisaran 74 persen membuat penurunan beban subkontraktor hanya terbatas, sehingga ruang ekspansi margin menjadi tidak terlalu besar dalam jangka pendek.

Meski demikian, jika dibandingkan secara tahunan, struktur biaya menunjukkan perbaikan. Beban subkontraktor tercatat turun sekitar 30 persen secara tahunan. Kenaikan ini yang membantu menjaga margin laba kotor di tengah penurunan pendapatan sekitar 2 persen dan kenaikan beban keuangan sekitar 23 persen. Kombinasi ini membuat kinerja laba bersih tetap mencatat pertumbuhan positif di awal tahun.

Arah Bisnis DEWA di 2026

Di luar angka kuartalan, arah bisnis DEWA sepanjang 2026 mulai terlihat melalui target operasional yang ditetapkan. Perusahaan membidik volume overburden removal di kisaran 150 hingga 160 juta bcm, meningkat sekitar 8–15 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. 

Sementara itu, total volume kontrak ditargetkan mencapai 250 juta bcm melalui optimalisasi proyek berjalan dan tambahan kontrak baru.

Produksi batu bara diproyeksikan berada di kisaran 17 juta ton atau relatif stabil, sementara ekspansi mulai diarahkan ke sektor non-batubara seperti nikel, emas, dan mineral strategis lainnya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi untuk memperluas basis pendapatan di luar komoditas utama yang selama ini mendominasi.

Strategi tersebut berjalan dalam kerangka transformasi yang disebut sebagai “Reshaping the Future”. Fokusnya mencakup perluasan basis klien, peningkatan efisiensi melalui potensi penggunaan alat berat berbasis listrik, serta penguatan teknologi sebagai penggerak operasional. 

Dari sisi pembiayaan, perusahaan juga mengarahkan strategi ke penggunaan vendor financing dan arus kas internal untuk menjaga struktur permodalan.

Sejumlah sentimen eksternal juga mulai melekat pada saham ini. Hingga Februari 2026, DEWA telah merealisasikan buyback saham sebesar Rp429,99 miliar, yang menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga di pasar. 

Selain itu, mulai 1 Mei 2026, saham DEWA resmi masuk ke dalam indeks LQ45 dan IDX80. Kabar ini membuka potensi peningkatan likuiditas dan eksposur terhadap investor institusi.

Dari sisi pergerakan harga, saham DEWA sempat mencatatkan level tertinggi sepanjang masa di 866 pada awal Januari 2026. Sementara itu, proyeksi analis menempatkan target harga di kisaran 700 hingga 1.100. Masih ada rentang ekspektasi yang cukup lebar terhadap kinerja ke depan.

Dengan seluruh data tersebut, posisi DEWA di awal 2026 memperlihatkan kombinasi antara pertumbuhan laba tahunan, tekanan kuartalan di sisi operasional, serta ekspansi target bisnis yang lebih luas sepanjang tahun berjalan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79