Logo
>

DEWA Rebound Kuat Terkerek Isu Re-Klasifikasi?

Sentimen akuntansi, percepatan eksekusi proyek, dan prospek pertumbuhan jangka menengah mendorong pasar mulai menilai ulang posisi saham Darma Henwa.

Ditulis oleh Yunila Wati
DEWA Rebound Kuat Terkerek Isu Re-Klasifikasi?
Ada banyak katalis positif yang membuat rebound DEWA sangat kuat, namun risiko masih mengintai. Foto: Dok Darma Henwa.

KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) pada perdagangan Selasa, 27 Januari 2026, mencerminkan perubahan sikap pasar yang cukup agresif terhadap emiten jasa pertambangan ini. 

Hingga menjelang penutupan sesi II, DEWA melonjak ke level 675, menguat 45 poin atau 7,14 persen dibanding penutupan sebelumnya di 630. Kenaikan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berlangsung seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap kombinasi sentimen akuntansi, operasional, dan proyeksi pertumbuhan jangka menengah.

Secara intraday, DEWA dibuka di 640, sempat turun hingga 625, lalu berbalik menguat dan menutup rentang siang hari di area atas. Pergerakan yang membentuk higher low sejak tengah sesi menunjukkan bahwa minat beli menguat setelah jeda makan siang, jadi bukan sekadar lonjakan sesaat di awal perdagangan. 

Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp27,46 triliun, kenaikan harga ini berlangsung dalam kondisi likuiditas yang relatif terjaga dan menandakan bahwa reli tidak terjadi dalam kondisi pasar yang kering.

Dorongan utama datang dari narasi perubahan struktur ekuitas. Re-klasifikasi selisih kurs yang tengah disorot pasar berpotensi menggeser posisi retained earnings DEWA dari defisit menjadi surplus sekitar Rp558 miliar. 

Jika skema ini terealisasi dan tercermin dalam laporan keuangan, maka secara akuntansi DEWA akan keluar dari status defisit laba ditahan, dan membuka ruang bagi opsi pembagian dividen. Estimasi yield di kisaran 2,6 persen mungkin tidak besar, tetapi bagi saham yang selama ini dipersepsikan murni sebagai growth dan turnaround play, sinyal dividen memiliki bobot psikologis yang signifikan.

Operasional Sedang Gaspol

Di sisi operasional, pasar juga merespons percepatan eksekusi proyek. Armada XCMG yang sebelumnya menjadi sorotan kini telah fully deployed, sehingga mendorong kapasitas produksi menuju kisaran 115 juta bank cubic meter (Mbcm). 

Peningkatan kapasitas ini memberi dasar yang lebih konkret bagi pertumbuhan volume overburden removal dan produksi batu bara klien. Dengan begitu, cerita pertumbuhan DEWA tidak lagi semata proyeksi, melainkan mulai ditopang realisasi di lapangan.

Isu pendanaan turut menjadi faktor penenang risiko. Fasilitas modal kerja sebesar Rp350 miliar, dengan opsi penambahan hingga Rp500 miliar, serta dukungan lanjutan dari Bank Mandiri dan BCA, mengurangi kekhawatiran pasar terkait kebutuhan belanja modal dan ekspansi armada. 

Dengan struktur pendanaan ini, pasar membaca bahwa ekspansi tidak harus mengorbankan stabilitas kas jangka pendek.

Ekspektasi kontrak baru, terutama yang terkait dengan BUMI Group, ikut memperkuat sentimen. Dalam proyeksi jangka panjang, DEWA dipandang memiliki jalur pertumbuhan pendapatan yang cukup agresif.

Ada estimasi pendapatan yang melampaui Rp13 triliun pada 2030, dengan laba bersih berpotensi mencapai Rp2,4 triliun. Hal ini seiring CAGR pendapatan sekitar 18 persen dan laba bersih sekitar 49 persen. 

Angka-angka ini menjadi latar belakang mengapa pasar mulai menoleransi valuasi yang tampak mahal secara trailing, tercermin dari P/E ratio yang masih tinggi saat ini.

Proyek Emas Gayo

Di luar bisnis inti batu bara, pasar juga mulai memasukkan unsur optionalitas proyek emas Gayo. Meski masih berada pada tahap indikatif, potensi kandungan emas dan tembaga memberikan dimensi tambahan pada valuasi DEWA, terutama sebagai katalis re-rating jika proyek tersebut menunjukkan kemajuan yang terukur. 

Elemen ini memang belum sepenuhnya tercermin dalam harga, tetapi mulai dibicarakan sebagai lapisan cerita di balik reli saham.

Dari sisi valuasi relatif, DEWA diperdagangkan dengan EV/EBITDA FY26F sekitar 15,6 kali, yang disebut berada pada diskon sekitar 58 persen dibanding TMAS. 

Pembacaan ini membuat sebagian pelaku pasar menilai bahwa, meski harga saham telah naik signifikan dari level bawah, ruang re-rating masih terbuka jika proyeksi pertumbuhan dan perbaikan struktur keuangan benar-benar terealisasi.

Dengan struktur perdagangan hari ini, kenaikan DEWA lebih mencerminkan fase repricing awal, bukan euforia akhir. Harga bergerak naik seiring masuknya sentimen fundamental baru, tetapi masih berada jauh di bawah level tertinggi 52 minggu di 865 dan target harga optimistis di kisaran 1.100 yang mulai beredar di kalangan analis. 

Risiko yang Harus Diwaspadai

Namun, pengamat pasar modal Kalvin Lie mengingatkan risiko yang melekat. Mulai dari cuaca yang dapat mengganggu operasional, volatilitas harga batu bara, hingga tantangan eksekusi proyek non-batu bara.

Pada tahap ini, arah harga DEWA dibaca sebagai proses bertahap, dengan pasar mulai menimbang ulang posisi saham ini dari sekadar kontraktor tambang menjadi entitas dengan skala, kapasitas, dan opsi pertumbuhan yang lebih luas. 

Reli hari ini menandai meningkatnya keyakinan tersebut, meski kesinambungannya akan sangat bergantung pada konsistensi eksekusi dan konfirmasi data keuangan berikutnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79