KABARBURSA.COM — Harga emas kembali mencetak sejarah baru. Pada Kamis, 29 Januari 2026, logam mulia ini menembus level psikologis yang selama ini hanya jadi bahan spekulasi pasar, melampaui USD5300 per ons untuk pertama kalinya. Lonjakan ini tidak datang tiba-tiba, melainkan lahir dari kombinasi keresahan ekonomi global, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta kegelisahan investor menunggu arah kebijakan bank sentral AS yang semakin diselimuti isu independensi.
Dilansir dari Reuters, di pasar spot, emas menguat 1,7 persen ke posisi USD5278,28 per ons atau setara sekitar Rp88,93 juta per ons dengan kurs Rp16.850. Dalam perjalanannya, harga sempat menyentuh rekor intraday di USD5311,31 per ons atau sekitar Rp89,48 juta. Kenaikan ini melanjutkan reli tajam sehari sebelumnya, ketika harga emas sudah melonjak lebih dari 3 persen.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ikut terangkat lebih agresif. Harga futures melonjak 3,8 persen ke USD5275,30 per ons atau sekitar Rp88,87 juta. Di saat yang sama, indeks dolar AS bergerak di dekat level terendah empat tahun terakhir. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih murah bagi pembeli di luar Amerika, sehingga memperkuat dorongan beli lintas negara.
Reli logam mulia ini bahkan dinilai sudah bergerak dengan momentumnya sendiri. Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menyebut bahwa pasar emas kini seolah tak lagi menunggu pemicu tunggal.
“Reli logam mulia saat ini sudah seperti memiliki kehidupannya sendiri,” kata Grant.
Meski demikian, Grant mengingatkan bahwa secara teknikal emas sudah berada di area jenuh beli dan rentan mengalami koreksi. Namun, setiap kali harga terkoreksi, minat beli justru muncul dengan cepat. Kondisi ini, menurutnya, masih membuka ruang kenaikan lanjutan dengan target berikutnya di kisaran USD5400 per ons atau sekitar Rp90,99 juta.
Di balik euforia harga, pasar global menahan napas menunggu keputusan kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan diumumkan Rabu pukul 14.00 waktu New York. Suku bunga diperkirakan tetap ditahan, tetapi perhatian utama tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell setelah rapat. Pernyataan ini menjadi krusial di tengah sorotan tajam terhadap independensi bank sentral AS.
Tekanan politik juga ikut memperkeruh suasana. Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya menyatakan akan segera mengumumkan calon pengganti Powell, yang masa jabatannya sebagai ketua berakhir Mei mendatang. Trump bahkan memprediksi pemangkasan suku bunga di bawah kepemimpinan baru, sebuah sinyal yang langsung ditangkap pasar sebagai potensi pelemahan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Emas, yang dikenal sebagai aset lindung nilai dan tidak memberikan imbal hasil bunga, secara historis memang bersinar di tengah suku bunga rendah dan ketidakpastian luas. Sejak awal tahun, harga emas telah melonjak lebih dari 20 persen, melanjutkan performa luar biasa tahun lalu yang juga diwarnai rekor demi rekor.
Namun di sisi hilir, lonjakan harga justru menahan langkah sebagian pembeli ritel. Grant mencatat permintaan dari konsumen individu masih relatif lemah karena harga yang sudah terlalu tinggi. Meski begitu, tekanan permintaan yang tertahan justru menumpuk di balik layar.
“Permintaan ritel masih lemah karena harga yang mencetak rekor, dan ada banyak permintaan tertahan yang menunggu koreksi. Dealer juga mulai menarik diri dari bisnis scrap karena penyulingan logam sangat padat antrean dan tidak menerima pesanan baru sampai stok lama selesai diproses,” ujar Grant.
Tak hanya emas yang berpesta. Perak ikut melanjutkan tren naik meski dengan laju lebih terbatas. Harga spot perak naik tipis 0,1 persen ke USD113,08 per ons atau sekitar Rp1,91 juta, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di USD117,69 pada Senin. Secara tahun berjalan, harga perak sudah melonjak hampir 60 persen, mencerminkan tingginya minat terhadap logam mulia alternatif di tengah gejolak pasar.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lain menunjukkan arah yang lebih beragam. Platinum turun 0,9 persen ke USD2618,21 per ons atau sekitar Rp44,12 juta, setelah sempat menyentuh rekor USD2918,80 pada awal pekan. Sebaliknya, palladium justru menguat 4,6 persen ke USD2022,25 per ons atau sekitar Rp34,08 juta.
Lonjakan harga emas dan perak kini bukan lagi sekadar cerita komoditas. Ia telah menjelma menjadi cermin kegelisahan pasar global, ketika ketidakpastian ekonomi, politik, dan kebijakan moneter saling bertaut, mendorong investor kembali merapat ke aset-aset keras yang dianggap paling aman di tengah badai.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.