Logo
>

Wall Street Melambat, Dolar Coba Bangkit dari Titik Terendah

Indeks saham AS bergerak tipis di dekat level tertinggi sepanjang masa, sementara dolar mulai stabil setelah tertekan isu geopolitik, tarif, dan arah kebijakan The Fed.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Wall Street Melambat, Dolar Coba Bangkit dari Titik Terendah
Wall Street bergerak tipis di level rekor, didukung saham teknologi dan euforia AI, sementara dolar AS mencoba bangkit usai tekanan geopolitik dan tarif. Foto: VCG via China Daily

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Wall Street bergerak pelan di dekat rekor tertingginya pada Kamis, 29 Januari 2026. Indeks-indeks utama cenderung datar, seolah pasar sedang menarik napas setelah reli panjang. Di saat yang sama, nilai tukar dolar AS mulai menemukan pijakan, berhenti melemah setelah sempat jatuh ke level terendah dalam hampir empat tahun.

    Dilansir dari AP, Indeks S&P 500 turun tipis 0,1 persen dari posisi rekor terbarunya. Dow Jones Industrial Average nyaris tak bergerak, naik lima poin atau kurang dari 0,1 persen pada pukul 13.39 waktu New York. Nasdaq justru sedikit menguat 0,1 persen, ditopang saham-saham teknologi besar.

    Sektor teknologi mendapat dorongan setelah laporan optimistis dari ASML, perusahaan asal Belanda yang memproduksi mesin penting untuk industri semikonduktor. Proyeksi pendapatan ASML untuk 2026 melampaui ekspektasi analis dan memberi sinyal bahwa permintaan chip belum kehabisan tenaga.

    CEO ASML Christophe Fouquet mengatakan para pelanggan mereka kini jauh lebih percaya diri melihat prospek jangka menengah, terutama karena keyakinan akan “keberlanjutan” permintaan yang didorong oleh ledakan kecerdasan buatan. Pernyataan itu meredam kekhawatiran bahwa euforia AI telah melampaui batas dan berpotensi berubah menjadi gelembung yang mudah pecah.

    Saham Nvidia, yang selama ini dianggap ikon utama reli AI, naik 1,7 persen dan menjadi penopang terbesar bagi penguatan S&P 500. Namun, saham ASML yang diperdagangkan di Amerika justru berbalik arah, dari sempat menguat menjadi turun 2,7 persen.

    Di luar saham teknologi, pergerakan pasar tampak terpecah. Laporan keuangan emiten datang silih berganti, dengan respons investor yang tidak seragam.

    Seagate Technology mencuri perhatian setelah sahamnya melonjak 20,6 persen, salah satu kenaikan terbesar hari itu. Produsen perangkat penyimpanan data tersebut membukukan laba dan pendapatan yang melampaui perkiraan pasar. CEO Seagate Dave Mosley menyebut aplikasi berbasis AI sebagai salah satu faktor utama yang menopang kinerja perusahaannya.

    Starbucks juga ikut menguat 1,2 persen setelah pendapatan kuartal terakhir melampaui ekspektasi analis. Salah satu pemicunya datang dari produk cangkir edisi khusus yang viral di media sosial. Meski begitu, laba perusahaan untuk akhir 2025 tetap berada di bawah target analis.

    Di sektor kesehatan, saham Elevance Health melonjak 6,2 persen setelah mencatatkan laba lebih kuat dari perkiraan. Kenaikan ini menjadi semacam pemulihan, setelah sehari sebelumnya saham perusahaan tersebut anjlok 14,3 persen. Tekanan sebelumnya datang dari rencana pemerintah AS menaikkan tarif Medicare Advantage, yang nilainya jauh di bawah harapan investor dan memukul seluruh saham asuransi kesehatan.

    Namun tidak semua laporan bagus berujung apresiasi pasar. Saham Amphenol justru terjun 11 persen meski perusahaan itu melaporkan pertumbuhan laba dan pendapatan yang lebih tinggi dari ekspektasi. Pasar menilai ekspektasi terhadap Amphenol sudah terlalu tinggi, mengingat sahamnya telah melesat sekitar 23 persen sejak awal tahun.

    Tekanan terhadap emiten-emiten besar kini semakin terasa. Setelah reli panjang yang mendorong harga saham ke level mahal, perusahaan dituntut membuktikan bahwa pertumbuhan laba benar-benar menyusul. Dalam jangka panjang, harga saham cenderung mengikuti arah laba perusahaan. Tanpa pertumbuhan laba yang solid, kritik soal valuasi mahal sulit diredam.

    Saham Apple turun 1,3 persen menjelang rilis laporan keuangan yang dijadwalkan pada Kamis. Bobot Apple yang besar membuat pergerakannya ikut membebani S&P 500.

    Di pasar valuta asing, dolar AS mulai menunjukkan stabilitas. Mata uang Negeri Paman Sam menguat terhadap poundsterling Inggris, yen Jepang, dan beberapa mata uang utama lainnya. Sehari sebelumnya, indeks dolar sempat jatuh ke titik terlemahnya sejak awal 2022.

    Pelemahan dolar secara umum terjadi sejak Presiden Donald Trump kembali masuk Gedung Putih tahun lalu. Tekanan semakin kuat setelah Trump melontarkan ancaman tarif terhadap sejumlah negara Eropa awal bulan ini, menyusul penolakan mereka terhadap rencana AS mengambil alih Greenland.

    Ancaman geopolitik semacam itu, ditambah kekhawatiran terhadap beban utang pemerintah AS yang membengkak, kerap mendorong investor global mengurangi eksposur ke aset Amerika. Fenomena ini dikenal di pasar dengan istilah Sell America.

    Sementara itu, di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury bergerak naik menjelang pengumuman kebijakan suku bunga dari bank sentral AS pada sore hari. Konsensus pasar memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga acuannya.

    The Fed memang telah memangkas suku bunga beberapa kali tahun lalu untuk menopang pasar tenaga kerja. Namun, inflasi yang masih bertahan di atas target 2 persen membuat ruang pelonggaran kebijakan menjadi terbatas. Penurunan suku bunga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berisiko kembali memanaskan inflasi.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).