KABARBURSA.COM – Sudah berjalan lebih dari tiga tahun terakhir, pergerakan saham Bank Central Asia (BBCA) masih terkurung di zona merah. Meskipun laporan keuangannya konsisten dan menegaskan posisi sebagai bank terbesar di Indonesia, namun tidak ada yang menarik dari pergerakan saham, kecuali dividen yang besar.
Dalam laporan keuangannya, BBCA menutup tahun 2025 dengan laba bersih Rp57,5 triliun. Angka tersebut bertumbuh 5 persen secara tahunan dan secara praktis mencapai sekitar 100 persen dari estimasi consensus.
Capaian ini tidak mengejutkan. Apalagi jika dilihat dari laba bersih kuartal IV-2025 sebesar Rp14,1 triliun, turun tipis 2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi masih naik 3 persen secara tahunan.
Penurunan kuartalan terutama dipengaruhi oleh normalisasi pendapatan bunga bersih dan pembentukan provisi yang kembali ke level yang lebih konservatif, sementara secara tahunan kinerja tetap ditopang oleh pertumbuhan kredit, efisiensi biaya, serta ekspansi pendapatan nonbunga.
Bisa dikatakan, kinerja BBCA sebagai “on track”, kuat secara fundamental, tetapi belum cukup agresif untuk menjadi katalis penggerak harga saham dalam jangka pendek.
CASA Bertumbuh 13 Persen
Dari sisi pendanaan, pertumbuhan CASA menjadi salah satu sorotan utama sepanjang 2025. Total dana murah BBCA tumbuh 13 persen secara tahunan, jauh lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan pada 2023–2024 yang hanya sekitar 4 persen.
Lonjakan ini terutama berasal dari current account dan savings account, yang masing-masing tumbuh 20 persen dan 9 persen secara tahunan. Manajemen BBCA mengaitkan pertumbuhan tersebut dengan strategi penetrasi yang lebih agresif ke segmen non-retail, yang terbukti mampu memperluas basis dana sekaligus memperkuat struktur likuiditas.
Rasio CASA pun naik ke kisaran 84–85 persen, mencerminkan dominasi dana berbiaya rendah yang masih menjadi keunggulan struktural BBCA dibandingkan bank besar lainnya.
Pertumbuhan CASA yang kuat ini tidak hanya berdampak pada biaya dana, tetapi juga ikut mendorong pendapatan nonbunga. Sepanjang 2025, non-interest income BBCA tumbuh sekitar 16 persen secara tahunan, sementara pada kuartal IV 2025 meningkat 11 persen.
Fee-based income yang solid menjadi penyangga kinerja di tengah tekanan bertahap pada Net Interest Margin. Untuk 2026, BBCA menargetkan pertumbuhan non-interest income di kisaran 8–10 persen, dengan asumsi momentum CASA tetap terjaga dan aktivitas transaksi nasabah tetap tinggi.
Kredit Bertumbuh Delapan Persen
Di sisi intermediasi, pertumbuhan kredit BBCA pada akhir 2025 mencapai 8 persen secara tahunan, berada di batas atas panduan manajemen. Akselerasi terlihat jelas pada Desember 2025, ketika pertumbuhan kredit bank-only melonjak dari sekitar 5 persen YoY pada November.
Manajemen menegaskan bahwa peningkatan ini lebih mencerminkan perbaikan permintaan kredit secara umum, bukan semata faktor musiman seperti persiapan Ramadan 2026. Struktur pertumbuhan masih didominasi segmen korporasi, sejalan dengan strategi BBCA yang cenderung selektif pada segmen ritel dan UMKM.
Efisiensi operasional menjadi aspek lain yang memperkuat narasi kinerja BBCA sepanjang 2025. Cost-to-Income Ratio turun ke level 30,7 persen, terendah sepanjang sejarah BBCA. Penurunan ini didorong oleh disiplin biaya yang konsisten serta penerapan teknologi, termasuk AI dan otomasi operasional.
Meski demikian, manajemen memproyeksikan CIR 2026 akan sedikit naik ke kisaran 31–33 persen, seiring kebutuhan investasi dan normalisasi biaya, namun tetap berada di level yang lebih baik dibandingkan panduan tahun sebelumnya.
Dari sisi risiko, kualitas aset relatif stabil. Cost of Credit sepanjang 2025 berada di sekitar 0,5 persen, dengan rasio NPL gross dan net masing-masing berada di kisaran rendah dan terkendali.
Proyeksi CoC Tahun ini
Untuk 2026, BBCA memproyeksikan CoC di rentang 0,4–0,6 persen, mencerminkan sikap hati-hati di tengah ketidakpastian eksternal yang masih tinggi, namun tanpa sinyal tekanan signifikan pada kualitas kredit.
Meski fundamental relatif kuat dan sesuai ekspektasi, pergerakan saham BBCA justru mencerminkan cerita yang berbeda. Dalam setahun terakhir, harga saham BBCA tercatat turun lebih dari 23 persen, dengan kinerja negatif di hampir semua horizon waktu, mulai dari satu bulan hingga satu tahun.
Tekanan harga ini terjadi di tengah tren pelemahan saham perbankan besar secara umum, seiring kekhawatiran pasar terhadap penurunan margin bunga, normalisasi pertumbuhan laba, serta rotasi dana ke sektor-sektor lain yang dianggap lebih agresif secara siklus.
Secara valuasi, BBCA saat ini diperdagangkan di kisaran 3 kali price-to-book value forward satu tahun, sekitar 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata historis 10 tahun yang berada di sekitar 3,8 kali. Valuasi ini mencerminkan diskon yang cukup dalam untuk bank dengan kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas setinggi BBCA.
Pasar Masih Tunggu Katalis Kuat
Di sisi lain, pasar tampak menunggu katalis yang lebih kuat, baik dari percepatan pertumbuhan laba, ekspansi margin, maupun sentimen makro yang lebih mendukung sektor perbankan.
Dari perspektif arus kas pemegang saham, BBCA tetap menawarkan daya tarik melalui dividen. Dengan estimasi dividend payout ratio sekitar 70 persen untuk tahun buku 2025, potensi dividend yield final diperkirakan mencapai sekitar 3,6 persen.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya dan mencerminkan ruang kebijakan dividen yang relatif fleksibel, seiring posisi permodalan yang tetap solid.
Secara keseluruhan, kinerja BBCA pada 2025 menunjukkan bank ini tetap bergerak konsisten sesuai ekspektasi, dengan pertumbuhan kredit yang terakselerasi, efisiensi yang semakin tajam, serta struktur pendanaan yang semakin kuat.
Namun, konsistensi tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi apresiasi harga saham, yang masih berada di zona merah akibat kombinasi faktor siklus, sentimen, dan ekspektasi pasar yang lebih tinggi.
Dalam konteks ini, BBCA berada pada fase di mana fundamental berjalan stabil, sementara pasar masih mencari alasan baru untuk kembali memberikan premi valuasi.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.