KABARBURSA.COM — Nilai tukar dolar Amerika membuka pekan dengan langkah agak sempoyongan. Mata uang berjuluk greenback itu mundur perlahan pada perdagangan Senin, ketika pelaku pasar kembali gelisah melihat suhu politik yang memanas dan arah selera risiko yang berubah di awal minggu.
Dilansir dari Seeking Alpha, Selasa, 20 Januari 2026, dolar terakhir tercatat turun 0,36 persen ke level USD99,04 atau sekitar Rp1.663.872. Meski begitu, kalau ditarik garis dari awal tahun, indeks dolar masih membukukan kenaikan 0,86 persen. Jadi ceritanya belum sepenuhnya suram, hanya saja momentumnya sedang tersendat.
Dalam sepekan terakhir, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia masih naik 0,19 persen. Kenaikan ini ditopang data ekonomi Amerika Serikat yang relatif solid. Dolar sempat melemah di awal pekan, tetapi akhirnya tetap menutup minggu dengan catatan positif. Polanya mulai terasa akrab. Data kuat menarik dolar naik, lalu isu politik menyeretnya turun lagi.
Faktor politik kembali menjadi pemantik utama volatilitas. Sejumlah laporan mengaitkan goyangan dolar dengan penyelidikan yang menyeret Ketua bank sentral AS, Jerome Powell, serta perdebatan lama soal independensi bank sentral.
Salah satu bank internasional menyebut pola ini sebagai strategi “buy on the subpoena, sell on the indictment”, sebuah gambaran bahwa pasar cepat masuk saat isu muncul, lalu buru-buru keluar ketika tensi meningkat. Investor pun mulai menghitung ulang risiko tambahan jika tekanan politik terhadap bank sentral benar-benar mengerek premi risiko.
Di luar Amerika, cerita mata uang dunia bergerak dengan warna lokal masing-masing. Yen Jepang melemah ke level terendah dalam beberapa bulan, terseret isu kemungkinan pemilu cepat di Jepang. Sejumlah bank mulai mempertanyakan apakah posisi beli dolar terhadap yen masih layak dipertahankan dalam jangka menengah.
Di Eropa, pound sterling menemukan pijakan menjelang rilis data penting Inggris. Sejumlah bank global tetap menyuarakan pandangan optimistis terhadap euro untuk jangka menengah. Sementara itu di pasar negara berkembang, perhatian tertuju ke Venezuela yang berencana kembali menjual dolar, serta sinyal bahwa bank sentral China mungkin akan membalik beberapa kebijakan valas terakhir seiring menguatnya yuan.
Pasar obligasi AS ikut memberi nada. Imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun naik lima basis poin ke level 4,23 persen. Imbal hasil tenor dua tahun ikut menanjak empat basis poin ke 3,59 persen. Kenaikan ini menandakan pasar masih bersiap menghadapi ketidakpastian arah kebijakan ke depan.
Pergerakan mata uang utama dalam rentang 12 hingga 18 Januari menunjukkan dinamika yang beragam. Euro terhadap dolar turun 0,28 persen. Pound sterling melemah 0,58 persen. Yen Jepang justru menguat 0,63 persen. Yuan China naik tipis 0,18 persen. Franc Swiss melemah 0,14 persen. Dolar Australia turun 0,28 persen dan dolar Kanada terkoreksi 0,18 persen.
Pada perdagangan terakhir, euro tercatat menguat 0,40 persen. Mata uang ini mendapat dukungan setelah inflasi zona euro turun ke 1,9 persen pada Desember. Inflasi Jerman bahkan melandai ke 1,8 persen. Angka-angka ini menguatkan keyakinan bahwa tekanan harga di kawasan Eropa mulai jinak, memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Pasar saham Eropa bergerak campur aduk di tengah banjir data ekonomi dan kembali mencuatnya ancaman tarif dari Amerika Serikat. Investor menimbang data perdagangan yang melemah dengan sinyal stabilisasi pertumbuhan di Jerman, serta fakta bahwa indeks saham kawasan sempat mencetak rekor tertinggi di awal pekan.
Pound sterling terakhir naik 0,34 persen setelah data menunjukkan ekonomi Inggris tumbuh 0,3 persen pada November. Mata uang Inggris ini bergerak seirama dengan bursa Eropa yang juga bimbang, di tengah tarik-menarik antara inflasi AS yang lebih lunak dan ancaman tarif baru dari Washington.
Yen Jepang menguat 0,32 persen. Penguatan ini muncul ketika pasar Asia merespons inflasi AS yang lebih jinak, meski pergerakan saham regional tetap bercampur. Yen bergerak mengikuti perubahan selera risiko, dengan investor menimbang pelemahan saham teknologi Wall Street, kekisruhan politik domestik Jepang, serta ketegangan geopolitik yang belum reda di kawasan.
Yuan China ikut menguat 0,17 persen. Mata uang ini mendapat sokongan dari data inflasi AS yang lebih lunak dan mengikuti arah Wall Street. Dukungan tambahan datang dari data perdagangan yang menunjukkan China mencatat surplus perdagangan rekor sebesar USD1,2 triliun atau sekitar Rp20.160 triliun. Meski begitu, pasar kawasan tetap sensitif terhadap isu geopolitik dan risiko tarif dari Amerika Serikat.
Keseluruhan cerita ini menunjukkan satu benang merah. Dolar masih kuat di atas kertas, tetapi mudah goyah oleh isu politik. Mata uang lain bergerak mencari pijakan, masing-masing membawa beban cerita domestiknya sendiri. Pasar pun kembali diingatkan bahwa dalam dunia keuangan global, data ekonomi dan drama politik sering berjalan beriringan, saling tarik menarik menentukan arah.(*)