KABARBURSA.COM — PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) menandai babak baru ekspansinya dengan pelaksanaan keel laying untuk kapal tipe LCT Cipta Jaya Harapan 99.
Proses keel laying yang digelar di galangan PT Untung Brawijaya Sejahtera tersebut merupakan langkah konkret pertama dari program pembangunan tiga unit kapal LCT yang sepenuhnya dibiayai dari hasil penawaran umum perdana saham (IPO) senilai Rp158,4 miliar.
Ketiga kapal itu diproyeksikan mulai dibangun pada kuartal I 2026 dan diharapkan memperkuat kapasitas angkutan berat PJHB untuk melayani sektor pertambangan, migas, konstruksi, dan perkebunan.
“Dengan ekspansi tiga kapal baru, dan kontrak industri terus bertambah, kami mematok pertumbuhan lebih dari 50 persen pada 2026. Fundamental sudah terbentuk sejak tahun ini, dan kapasitas baru akan mulai berdampak penuh tahun depan,” kata Direktur Utama PJHB, Go Sioe Bie (Abie) melalui keterangan resmi yang diterima KabarBursa.com, Rabu, 10 Desember 2025.
Ia menjelaskan bahwa ketiga kapal LCT memiliki panjang antara 72–75 meter dengan kapasitas sekitar 2.500 DWT per unit. Desain kapal menerapkan struktur double bottom atau dasar kapal berlapis dua, langkah yang ditempuh agar kapal memenuhi persyaratan teknis untuk memperoleh notasi klasifikasi A100 dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).
Dengan konfigurasi ini, PJHB menekankan aspek keselamatan dan kekuatan lambung agar armada siap untuk operasional komersial berskala industri.
Galangan PT Untung Brawijaya Sejahtera sebelumnya telah bekerja sama dengan PJHB dalam sejumlah proyek docking dan pembangunan, sehingga kolaborasi tersebut Abie pandang sebagai kelanjutan hubungan yang telah teruji.
Menurut dia, pembangunan kapal bukan sekadar penambahan aset tetapi bagian dari strategi memperkuat layanan logistik laut yang menjadi tulang punggung perusahaan.
Sejak IPO pada 6 November lalu, saham PJHB tercatat mengalami reli signifikan. Harga saham emiten ini naik lebih dari 100 persen sejak pencatatan, memicu sorotan investor terhadap prospek bisnis perusahaan yang sedang melakukan ekspansi kapasitas.
Lonjakan harga saham juga dianggap sebagai sentimen pasar yang positif terhadap prospek permintaan jasa angkutan berat dan solusi logistik maritim, khususnya di kawasan Indonesia bagian timur dan area pertambangan.
Abie menyatakan saat ini PJHB mengoperasikan lima unit kapal LCT dan menargetkan memiliki delapan unit armada pada 2027 setelah seluruh kapal baru beroperasi.
Tambahan tiga kapal itu diharapkan menjadi pengungkit kapasitas angkut yang memungkinkan perusahaan memenangkan lebih banyak kontrak jangka menengah hingga panjang, termasuk sebagai pemenang tender pengadaan kapal LCT untuk proyek BP Tangguh.
Dari sisi korporasi, PJHB memiliki struktur kepengawasan dan jejaring bisnis yang kuat: Presiden Komisaris Hero Gozali dan Prajogo Pangestu hadir sebagai figur penting yang sama-sama berasal dari Kalimantan, dan salah satu klien penting perusahaan adalah Petrosea Tbk, yang dimiliki Prajogo Pangestu. Koneksi tersebut memberi dimensi relasional yang memudahkan penetrasi pasar proyek-proyek industri berat.
Penambahan kapasitas angkut diklaim berpotensi menaikkan pendapatan kontraktual dan memperpanjang siklus pendapatan perusahaan ke depan, asalkan pelaksanaan konstruksi berjalan lancar dan tidak mengalami keterlambatan signifikan.
Dari sudut pandang keuangan, hasil IPO yang dialokasikan untuk belanja modal pembangunan tiga kapal diharapkan memberikan efek ganda seperti memperkuat kapabilitas operasional sekaligus mengurangi kebutuhan pendanaan eksternal jangka pendek.
Bila manajemen mampu merealisasikan target utilisasi kapal pada 2026 dan 2027 sesuai rencana, dampak terhadap pendapatan dan laba operasional bisa signifikan sehingga mendukung klaim manajemen tentang potensi pertumbuhan lebih dari 50 persen pada 2026.
Namun demikian, investor disarankan memperhatikan laporan arus kas proyek, jadwal serah terima kapal, dan kontrak-kontrak jangka panjang yang sudah ditandatangani untuk menilai realisasi manfaat ekonomi dari investasi ini.(*)