KABARBURSA.COM - Sepanjang tahun 2025, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) harus menelan pil pahit. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp6,08 triliun, melonjak tajam hingga 299 persen dibandingkan kerugian pada Tahun Buku 2024 yang sebesar Rp1,52 triliun.
Mengacu pada laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, emiten yang berada di bawah kendali PT Danantara Asset Management ini membukukan pendapatan usaha Rp16,27 triliun. Angka tersebut terkontraksi 17,9 persen dari capaian tahun sebelumnya yang mencapai Rp19,81 triliun. Sebuah penurunan yang mencerminkan tekanan di lini pendapatan.
Sejalan dengan merosotnya kinerja top line, beban pokok pendapatan turut mengalami koreksi. Nilainya turun 13,8 persen secara tahunan menjadi Rp14,81 triliun. Namun, efisiensi ini belum cukup menahan laju penurunan. Laba bruto sepanjang 2025 tercatat Rp1,46 triliun, tergerus 44,6 persen dibandingkan posisi 2024 yang sebesar Rp2,63 triliun.
Dalam rentang Januari hingga Desember 2025, emiten konstruksi pelat merah ini juga mencatatkan lonjakan rugi sebelum pajak. Nilainya mencapai Rp7,73 triliun, melesat 363,5 persen dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,67 triliun. Angka tersebut menegaskan tekanan yang kian intens di sisi operasional.
Setelah memperhitungkan beban pajak neto sebesar Rp272,16 miliar, rugi tahun berjalan PTPP membengkak menjadi Rp8 triliun. Kenaikannya signifikan, yakni 348,1 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk Tahun Buku 2025 tercatat Rp6,08 triliun.
Dampak dari kerugian tersebut menjalar ke posisi ekuitas. PTPP membukukan defisit saldo laba—akumulasi rugi yang belum ditentukan penggunaannya—sebesar Rp6,04 triliun per 31 Desember 2025. Angka ini meningkat tajam dari posisi akhir 2024 yang berada di level Rp1,52 triliun.
Pada saat yang sama, struktur permodalan turut mengalami tekanan. Ekuitas perusahaan yang juga dimiliki oleh investor individu Haiyanto ini tercatat Rp4,31 triliun, anjlok 65,2 persen dibandingkan posisi Rp12,39 triliun pada akhir 2024. Penurunan drastis ini mencerminkan erosi nilai yang signifikan.
Meski demikian, perseroan masih mampu menekan total liabilitas menjadi Rp38,68 triliun, turun 8,2 persen secara tahunan. Kendati begitu, komposisinya tetap didominasi oleh kewajiban jangka pendek yang mencapai Rp19,45 triliun, menandakan tekanan likuiditas yang belum sepenuhnya mereda.
Hingga penghujung Desember 2025, total aset PTPP tercatat Rp42,98 triliun, menyusut 21,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, posisi kas dan setara kas tersisa Rp2,89 triliun, merosot 30,8 persen dari posisi akhir Desember 2024 yang sebesar Rp4,18 triliun.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.