KABARBURSA.COM- Evaluasi MSCI per 12 Mei 2026 kemarin membawa perubahan besar bagi sejumlah emiten raksasa di Bursa Efek Indonesia.
Lima saham berkapitalisasi jumbo, yakni Amman Mineral Internasional Tbk, Barito Renewables Energy Tbk, Chandra Asri Pacific Tbk, Dian Swastatika Sentosa Tbk, dan Petrindo Jaya Kreasi Tbk, terdegradasi dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index. Sementara itu, Sumber Alfaria Trijaya Tbk tetap berada di ekosistem MSCI, namun turun dari indeks standar ke MSCI Global Small Cap Index.
Perubahan klasifikasi ini menarik perhatian karena sebagian besar emiten yang terdepak justru merupakan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Faktor yang banyak disorot adalah minimnya free float dan menurunnya porsi kepemilikan investor asing, sehingga likuiditas saham di pasar menjadi relatif terbatas. Sementara Bursa Efek Indonesia saat ini sudah mulai menerapkan kebijakan free float minimal 15 persen untuk perusahaan tercatat.
1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
AMMN merupakan perusahaan holding pertambangan yang menjalankan kegiatan eksplorasi, pengembangan, penambangan, pemrosesan, dan ke depan pengolahan serta pemurnian mineral di Indonesia.
Melalui PT Amman Mineral Nusa Tenggara, Perseroan mengoperasikan tambang tembaga dan emas Batu Hijau di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Hingga 31 Desember 2022, tambang Batu Hijau telah memproduksi secara kumulatif 9.400 juta pon tembaga dan 9,5 juta ons emas.
Perseroan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2023 dengan harga IPO Rp1.695 per saham. Sebanyak 6.328.208.800 saham baru dilepas dengan nilai emisi Rp10,726 triliun. Free float Perseroan tercatat 19,06 persen.
Ultimate beneficial owner AMMN adalah Agoes Projosasmito, yang juga menjabat Komisaris Utama. Direktur Utama dijabat Arief Widyawan Sidarto. Penjamin emisi efek terdiri dari PT Mandiri Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Samuel Sekuritas Indonesia, dan PT Maybank Sekuritas Indonesia. Jumlah pemegang saham per April 2026 mencapai 29.622 investor.
Anak usaha AMMN mencakup PT Amman Mineral Industri (pengolahan logam/smelter), PT Amman Nusantara Gas (penyimpanan migas), PT Amman Nusa Propertindo (real estat), PT Amman Mineral Integrasi, PT Amman Mineral Energi, PT Teluk Indah Sekongkang, PT Pantai Nawasena Sekongkang, PT Segara Tentram Abadi, PT Angkasa Nusa Sarana, PT Sumbawa Nusantara Infrastruktur, PT Amman Swarna Abadi, PT Sumbawa Bumi Lestari, PT Amman Aviasi Indonesia, PT Angkasa Daya Nusa, PT Sakameri Sumbawa Barat, dan Amman Mineral Contractors Singapore Pte. Ltd.
Berdasarkan grafik holding composition per 4 Mei 2026, porsi kepemilikan investor asing di AMMN berada di kisaran 8 persen.
2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
BREN adalah perusahaan holding energi terbarukan yang merupakan bagian dari Grup Barito Pacific. Fokus utama Perseroan adalah panas bumi dan energi angin melalui Star Energy Geothermal Group.
Grup ini mengoperasikan tiga aset panas bumi di Jawa Barat dengan total kapasitas terpasang 886 megawatt, setara sekitar 38 persen pangsa pasar panas bumi Indonesia.
BREN IPO pada 9 Oktober 2023 dengan harga Rp780 per saham dan melepas 4.015.000.000 saham dengan nilai emisi Rp3,132 triliun. Free float tercatat 11,94 persen.
Pemegang saham terbesar adalah Barito Pacific sebesar 63,26 persen, Green Era Energy 24,75 persen, Jupiter Tiger Holdings 3,50 persen, dan Zhaocai VCC-Prime Hill Fund 3,17 persen. Ultimate beneficial owner Perseroan adalah Prajogo Pangestu. Jumlah pemegang saham per April 2026 mencapai 34.288 investor.
Direktur Utama dijabat Tan Hendra Soetjipto, sedangkan Komisaris Utama adalah Agus Salim Pangestu.
Anak usaha BREN meliputi Star Energy Group Holdings Pte. Ltd., Star Energy Geothermal Netherlands B.V., Star Energy Geothermal Philippines B.V., PT UPC Sidrap Bayu Energi, PT Barito Wind Operation and Maintenance Indonesia, PT Barito Wind Energy, Star Energy Geothermal Holdings (Salak Darajat) B.V., Star Energy Geothermal Pte. Ltd., Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Ltd., PT Star Energy Geothermal Drilling Services, PT Star Energy Geothermal Halmahera, PT Star Energy Geothermal Indonesia, Star Energy Geothermal Salak Ltd., Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd., Star Energy Geothermal Darajat I Ltd., Star Energy Geothermal Darajat II Ltd., PT Darajat Geothermal Indonesia, PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau, PT Sidrap Bayu Energy Tahap Dua, PT Sukabumi Bayu Energi, dan PT Lombok Timur Bayu Energi.
Berdasarkan grafik holding composition, kepemilikan investor asing di BREN berada di kisaran 20 persen.
3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
TPIA merupakan perusahaan petrokimia terbesar dan terintegrasi di Indonesia, sekaligus satu-satunya operator naphtha cracker domestik. Kompleks petrokimia Perseroan di Cilegon, Banten memproduksi etilena, propilena, polietilena, polipropilena, styrene monomer, butadiene, serta berbagai produk hilir petrokimia lainnya.
Perseroan IPO pada 26 Mei 2008 dengan harga Rp2.200 per saham dan menghimpun dana Rp1,602 triliun. Free float TPIA sebesar 9,91 persen.
Pemegang saham terbesar terdiri dari SCG Chemicals Public Company 30,57 persen, Barito Pacific 20,96 persen, Top Investment Indonesia 15 persen, dan Marigold Resources 5,60 persen. Ultimate beneficial owner perusahaan adalah Prajogo Pangestu. Jumlah pemegang saham per April 2026 tercatat 26.987 investor.
Direktur Utama dijabat Erwin Ciputra, sedangkan Wakil Direktur Utama adalah Baritono Prajogo Pangestu dan Pholavit Thiebpattama.
Anak usaha TPIA sangat banyak, di antaranya Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd., Chandra Asri Trading Company Pte. Ltd., Chandra Asri Capital Pte. Ltd., PT Chandra Asri Perkasa, PT Chandra Shipping International, PT Marina Indah Maritim, PT Chandra Cilegon Port, PT Chandra Environmental Solutions, PT Wastewater Solutions Indonesia, PT Chandra Global Maritim, PT Chandra Asri Alkali, PT Chandra Pelabuhan Nusantara, PT Chandra Trading Nusantara, PT Chandra Capital Indonesia, PT Chandra Cold Chain, PT Krakatau Chandra Energi, PT Krakatau Sarana Energi, PT Chandra Tirta Karian, PT Chandra Daya Investasi, dan PT Redeco Petrolin Utama.
Berdasarkan grafik holding composition, porsi kepemilikan investor asing di TPIA berada di kisaran 16 persen.
4. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
DSSA merupakan konglomerasi energi dan teknologi milik Grup Sinarmas yang bergerak di bidang pembangkitan listrik, pertambangan batu bara, pusat data, layanan digital, dan energi panas bumi.
Perseroan IPO pada 10 Desember 2009 dengan harga Rp1.500 per saham. Sebanyak 100 juta saham dilepas dengan nilai emisi Rp150 miliar. Free float Perseroan tercatat 18,51 persen.
Pemegang saham pengendali adalah Sinar Mas Tunggal sebesar 59,90 persen. Ultimate beneficial owner DSSA adalah Franky Oesman Widjaja. Jumlah pemegang saham per April 2026 mencapai 23.406 investor.
Direktur Utama dijabat Lay Krisnan Cahya, sedangkan Komisaris Utama adalah Franky Oesman Widjaja.
Anak usaha DSSA sangat luas, mencakup PT Golden Energy Mines Tbk, PT Borneo Indobara, PT Barasentosa Lestari, PT Kuansing Inti Makmur, PT Bungo Bara Utama, PT Tanjung Belit Bara Utama, PT Berkat Nusantara Permai, PT Innovate Mas Indonesia, PT Eka Mas Republik, PT SMPlus Sentra Data, PT Sintesa Sinergi Nusantara, PT Daya Mas Bittuang Geothermal, PT Daya Mas Papandayan Geothermal, PT EDC Indonesia, PT EDC Panas Bumi Indonesia, PT Kotosani Tanjungbingkung Geothermal, PT GWS Medika Prima, PT GWS Medika Sejahtera, PT ASIX Indonesia Cerdas, PT Dalligent Solusi Indonesia, Golden Multimedia Holdings Pte. Ltd., Sunshine Network Pte. Ltd., dan Dalligent Solutions Pte. Ltd.
Berdasarkan grafik holding composition, porsi investor asing di DSSA berada di kisaran 11 persen.
5. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
CUAN merupakan perusahaan holding yang menjalankan kegiatan usaha investasi dan konsultasi manajemen, dengan bisnis utama melalui entitas anak yang mengelola konsesi tambang batu bara dan investasi energi.
Perseroan IPO pada 8 Maret 2023 dengan harga Rp220 per saham dan melepas 1.690.000.000 saham dengan nilai emisi Rp372 miliar. Free float CUAN sebesar 17,14 persen.
Prajogo Pangestu menguasai 78,40 persen saham atau setara 88,14 miliar saham, sehingga menjadi ultimate beneficial owner Perseroan. Jumlah pemegang saham per April 2026 mencapai 102.948 investor.
Direktur Utama dijabat Michael, sedangkan Komisaris Utama adalah Erwin Ciputra.
Anak usaha CUAN mencakup PT Multi Tambangjaya Utama, PT Kreasi Jasa Persada, PT Borneo Bangun Banua Bestari, PT Armada Maritim Persada, PT Borneo Berkat Kutai, PT Prima Mineral Investindo, Tigranix Ventures Pte. Ltd., PT Volta Energi Nusantara, PT Green Natural Investama, PT Tamtama Perkasa, PT Mareta Persada, PT Equator Sumber Energi, dan kepemilikan 65 persen pada PT Golden Eagle Energy Tbk.
Berdasarkan grafik holding composition, porsi kepemilikan investor asing di CUAN hanya sekitar 2 persen.
6. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
AMRT merupakan operator jaringan minimarket Alfamart yang berdiri pada 1989 dan menjadi salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia dengan lebih dari 20.000 gerai.
Perseroan IPO pada 15 Januari 2009 dengan harga Rp395 per saham dan menghimpun dana Rp136 miliar. Free float AMRT tercatat 40,98 persen.
Pemegang saham terbesar adalah Sigmantara Alfindo sebesar 44 persen, Amanda Cipta Persada 8,94 persen, Mitsubishi Corporation 4,90 persen, Jonathan Chang 4,81 persen, dan YSW & Co 4,14 persen. Ultimate beneficial owner perusahaan adalah Djoko Susanto. Jumlah pemegang saham per April 2026 mencapai 36.920 investor.
Direktur Utama dijabat Anggara Hans Prawira, sedangkan Komisaris Utama adalah Feny Djoko Susanto.
Anak usaha utama AMRT meliputi Alfamart Retail Asia Pte. Ltd., PT Sumber Trijaya Lestari, PT Midi Utama Indonesia Tbk, PT Global Loyalty Indonesia, PT Lancar Wiguna Sejahtera, dan PT Sumber Indah Lestari.
Secara keseluruhan, porsi investor asing pada AMRT berada di kisaran 12 persen.
Berbeda dengan lima emiten lainnya, AMRT tetap bertahan di MSCI Global Small Cap Index setelah dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index. Sementara selain 6 saham big caps yang didepak, dari MSCI Global standar index. masih ada setidaknya 13 emiten Indonesia yang lain turut dikeluarkan dari Global Small Cap Index MSCI.(*)