Logo
>

Geopolitik Memanas dan Risiko Selat Hormuz, Elnusa Pede Kejar ini

Situasi tersebut ikut memicu diskusi mengenai ketahanan energi Indonesia

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Geopolitik Memanas dan Risiko Selat Hormuz, Elnusa Pede Kejar ini
PT Elnusa Tbk dalam kode saham ELSA, sebagai perusahaan jasa energi yang tergabung dalam Pertamina Group

KABARBURSA.COM – Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Salah satu yang menjadi perhatian adalah potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Situasi tersebut ikut memicu diskusi mengenai ketahanan energi Indonesia. Apalagi pemerintah sebelumnya menyebut cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 23 hari jika terjadi gangguan pasokan global.

Di tengah dinamika itu, kerja sama perusahaan migas nasional dengan perusahaan jasa migas global juga menjadi sorotan. Salah satunya kolaborasi dengan perusahaan jasa migas asal Amerika Serikat, Halliburton, yang memunculkan pertanyaan publik mengenai peran perusahaan jasa energi domestik dalam mendukung produksi minyak nasional.

PT Elnusa Tbk dalam kode saham ELSA, sebagai perusahaan jasa energi yang tergabung dalam Pertamina Group, menilai situasi geopolitik justru menjadi momentum untuk mempercepat peningkatan produksi minyak dan gas (migas) dalam negeri.

Direktur Utama Elnusa, Litta Ariesca mengatakan kinerja perusahaan sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan yang solid dan menjadi modal untuk memperluas kontribusi dalam mendukung target produksi nasional.

“Alhamdulillah Elnusa di tahun 2025 cukup solid ya. Jadi dengan disiplin dan juga kerja keras, kami bisa mencapai target yang diharapkan, bahkan melebihi dari target yang diharapkan,” ujar Litta di Bimasena, Jakarta Selatan pada Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menjelaskan pendapatan perusahaan meningkat sekitar 8 persen secara year on year, sementara laba bersih tumbuh sekitar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Untuk revenue kami naik 8 persen year on year, sedangkan untuk pencapaian net profit kalau dibandingkan dengan operasional kami naik 11 persen year on year,” kata dia.

Menurut Litta, Elnusa memiliki peran penting dalam mendukung target produksi minyak nasional yang dicanangkan pemerintah hingga mencapai 1 juta barel per hari.

Sebagai perusahaan jasa di sektor hulu migas, Elnusa menyediakan berbagai layanan mulai dari survei seismik, pengeboran, hingga teknologi peningkatan produksi yang mendukung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi lapangan minyak domestik.

“Sebagai bagian dari Pertamina Group, kami men-support dalam pencapaian 1 juta barrel pemerintah tentunya, dimana kami berupaya untuk tetap erat dengan hulu dan juga kami berupaya untuk bisa masuk sebagai locus operator dalam pencapaian target operasi dan juga target produksi,” jelasnya.

Ia menilai dinamika geopolitik global justru mempertegas pentingnya kemandirian energi nasional melalui peningkatan produksi domestik.

“Justru dengan adanya tantangan geopolitik global ini, kami semakin optimis bahwa pencapaian 1 juta barrel dan juga kemandirian nasional itu menjadi keharusan,” ujarnya.

Litta menambahkan bahwa meningkatnya target produksi minyak nasional akan berdampak langsung terhadap peningkatan aktivitas jasa energi.

Meski demikian, ia mengakui dampak geopolitik terhadap industri energi bersifat dua sisi. Indonesia sebagai negara net importer minyak tetap menghadapi tantangan ketika harga minyak dunia melonjak.

“Kalau kita bicara masalah hulu saja itu sebenarnya ada plus point kalau hulu, jadi harga minyak tinggi. Tapi kita juga harus melihat sebagai satu ekosistem antara upstream dan downstream,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan Elnusa Nelwin Aldriansyah menilai lonjakan harga minyak global akibat konflik geopolitik dapat membuka peluang baru bagi pengembangan lapangan migas domestik yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis.

“Kenaikan harga minyak ini bagi bisnis oil and gas yang berada di upstream mungkin akan membuat beberapa lapangan minyak yang sebelumnya kurang ekonomis menjadi cukup ekonomis untuk dilakukan lifting,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa biaya produksi minyak di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara produsen besar di Timur Tengah. Karena itu, kenaikan harga minyak dapat membuat lebih banyak lapangan migas domestik menjadi layak untuk dikembangkan.

“Kita tahu dibandingkan negara-negara di Timur Tengah, lifting cost di Indonesia itu cukup tinggi,” kata Nelwin.

Selain itu, meningkatnya aktivitas eksplorasi dan eksploitasi migas juga akan mendorong kebutuhan jasa penunjang yang menjadi lini bisnis utama Elnusa.

“Dengan meningkatnya harga minyak tentunya kebutuhan akan services seperti drilling, research and survey ini juga akan meningkat. Ini tentu akan berdampak positif pada kegiatan usaha Elnusa,” ujarnya.

Nelwin juga menyinggung risiko gangguan pasokan global akibat dinamika geopolitik, termasuk situasi di Selat Hormuz.

“Kita juga melihat ini dengan beberapa statement dari pemerintah bahwa cadangan BBM kita hanya cukup sekitar 20 sampai 23 hari. Ini tentunya cukup menjadi tantangan bagi sektor energi di Indonesia,” kata dia.

Menurutnya kondisi tersebut seharusnya mendorong percepatan kebijakan peningkatan produksi energi domestik agar ketergantungan impor dapat dikurangi.

Saat ini produksi minyak Indonesia berada di kisaran 800.000 barel per hari. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat hingga mencapai 1 juta barel per hari dalam beberapa tahun ke depan.
“Dengan inisiatif pemerintah dan cita-citanya ini akan menjadi 1 juta barrel, harapan kita mungkin ini lebih cepat sehingga ketergantungan kita akan impor dapat sedikit banyak digantikan oleh produksi dalam negeri,” ujarnya.

Di tengah kerja sama Pertamina dengan berbagai perusahaan jasa migas global seperti Halliburton, manajemen Elnusa menegaskan kolaborasi lintas perusahaan merupakan hal yang umum dalam industri migas karena skala proyek yang sangat besar.

Litta menekankan bahwa pencapaian target produksi nasional membutuhkan keterlibatan banyak perusahaan jasa energi.

“Pencapaian 1 juta barrel di Indonesia itu kan cukup besar ya. Jadi kerja sama dengan perusahaan mana pun itu sangat terbuka,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Elnusa tetap memiliki posisi strategis dalam ekosistem energi nasional sebagai penyedia layanan teknis yang mendukung eksplorasi dan produksi minyak di berbagai wilayah Indonesia.

“Intinya adalah kami membuka kesempatan untuk bekerja sama dengan seluruh perusahaan services maupun perusahaan migas lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Operasi Elnusa Andri Haribowo menjelaskan salah satu keunggulan perusahaan terletak pada kemampuan riset dan inovasi teknologi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan lapangan migas di Indonesia.

“Teknologi migas ini sangat update, gabungan dari teknologi IT bahkan teknologi kedokteran pun ada di kita,” ujarnya.

Ia mengatakan teknologi yang dikembangkan Elnusa tidak hanya mengadopsi teknologi global, tetapi juga disesuaikan dengan karakteristik lapangan migas domestik yang memiliki tantangan berbeda di setiap wilayah.

Menurut Andri, banyak inovasi perusahaan lahir dari permasalahan yang muncul langsung di lapangan, seperti persoalan pasir, air, hingga gangguan produksi pada sumur minyak.

“Teknologi yang kita komersialkan itu berdasarkan permasalahan yang muncul dari setiap lapangan, sehingga solusinya lebih tepat,” kata Andri.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".