Logo
>

Harga Batu Bara Australia Bertahan Tinggi, Perang Timur Tengah Picu Peralihan dari Gas

Harga batu bara Australia bertahan di atas USD130 per ton, terdorong peralihan dari gas akibat konflik Timur Tengah.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harga Batu Bara Australia Bertahan Tinggi, Perang Timur Tengah Picu Peralihan dari Gas
Harga batu bara Australia tetap tinggi akibat konflik Timur Tengah yang ganggu pasokan gas dan dorong peralihan energi di Asia. Foto: Dok. Minetech Indonesia

KABARBURSA.COM — Harga batu bara termal Australia tetap bertahan di level tinggi sepanjang April 2026, seiring lonjakan permintaan akibat gangguan pasokan energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Data Trading Economics yang dilihat Kamis, 23 April 2026, menunjukkan kontrak berjangka batu bara termal dari Australia berada di atas USD130 (Rp2,20 juta) per ton. Level ini mempertahankan sebagian besar kenaikan tajam yang terjadi pada Maret lalu.

Kenaikan harga ini tidak lepas dari gangguan serius di pasar energi, terutama pada komoditas gas. Konflik di kawasan Teluk Persia memicu serangan terhadap kapal pengangkut gas alam cair dan gas petroleum cair di jalur Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Selain itu, fasilitas pengolahan gas utama di Qatar juga terdampak, sehingga memperparah tekanan pasokan global.

Kondisi tersebut membuat pasokan bahan bakar untuk pembangkit listrik berbasis gas di Asia berkurang signifikan. Jepang dan Korea Selatan, yang selama ini menjadi konsumen utama batu bara termal kualitas tinggi dari pelabuhan Newcastle, Australia, mulai beralih ke batu bara sebagai alternatif.

Peralihan ini didorong oleh kesiapan infrastruktur di kedua negara yang memungkinkan substitusi cepat dari gas ke batu bara dalam pembangkit listrik.

Sebaliknya, China dan India cenderung tidak mengalami perubahan signifikan. Kedua negara ini memiliki kapasitas energi yang lebih stabil dan umumnya menggunakan batu bara dengan kualitas lebih rendah.

Situasi ini menunjukkan bahwa pergerakan harga batu bara saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor permintaan, tetapi juga menjadi refleksi dari ketegangan geopolitik yang mengganggu keseimbangan energi global.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).