KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terjebak dalam tekanan jual. Pasar saham Indonesia sedang berada dalam fase yang tidak nyaman. Setiap kali muncul harapan akan terjadi pemantulan, tekanan jual datang dan mendorong IHSG semakin menjauh dari level psikologis.
Di akhir pekan, Jumat, 5 Juni 2026, IHSG kehilangan 245 poin atau turun 4,20 persen ke level 5.594,77. Jika dihitung secara mingguan, koreksi bahkan mencapai 8,69 persen. Penurunan ini sangat signifikan dan memperlihatkan bahwa pasar masih memilih mengurangi risiko dibandingkan menambah eksposur.
Aktivitas perdagangan tetap tinggi, dengan nilai transaksi yang mencapai lebih dari Rp31 triliun. Namun, tingginya transaksi tersebut belum menjadi sinyal positif karena lebih banyak diwarnai oleh aksi distribusi dibandingkan akumulasi.
Secara teknikal, kondisi ini masih belum memberikan ruang yang cukup untuk optimistis. IHSG diperkirakan masih berada pada bagian wave (v) dari wave [v] dari wave 5, sebuah fase yang dalam teori Elliott Wave sering kali menjadi akhir dari tren turun, tetapi juga menjadi periode dengan volatilitas yang sangat tinggi.
Artinya, pasar masih memiliki peluang melanjutkan pelemahan menuju area 5.395 hingga 5.412. Rentang tersebut juga menjadi area yang menarik karena bertepatan dengan gap yang belum tertutup serta mendekati posisi Moving Average (MA) 200 secara bulanan.
Dengan kata lain, fondasi baru kemungkinan baru akan terbentuk setelah pasar menyelesaikan fase koreksi ini.
Namun, tidak semua saham kehilangan daya tariknya. MNC Sekuritas dalam risetnya memilih empat saham yang masih menarik untuk diperdagangkan.
ANTM: Menunggu Koreksi untuk Koleksi
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memang ikut terkoreksi 0,36 persen ke level 2.750. Tekanan jual masih terlihat pada order book dan arus dana asing juga belum sepenuhnya kembali masuk.
Meski demikian, secara teknikal ANTM diperkirakan baru memasuki awal wave 4 dari wave (C), sehingga koreksi saat ini lebih menyerupai fase konsolidasi dibandingkan perubahan tren jangka menengah.
Strategi yang lebih menarik adalah menunggu harga bergerak ke area 2.690 hingga 2.740 untuk melakukan buy on weakness. Jika area tersebut mampu bertahan, peluang menuju target 3.020 hingga 3.200 masih terbuka dengan batas risiko di bawah 2.630.
BRMS: Orang Dalam Mulai Masuk
BRMS menjadi salah satu saham yang menarik perhatian bukan karena kenaikan harga, melainkan aksi para petinggi perusahaan yang mulai mengakumulasi saham saat harga sedang turun.
Direksi tercatat membeli saham di kisaran 500 hingga 580, sementara harga kini berada di level 510.
Sinyal insider buying tersebut memang memberikan sentimen positif. Namun investor asing masih belum menunjukkan akumulasi yang konsisten sehingga pendekatan bertahap tetap menjadi pilihan yang lebih aman.
Area 494 hingga 510 menjadi zona buy on weakness dengan target 610 hingga 660, sementara stop loss berada di bawah 482.
MBMA: Didukung Konsensus Buy, tapi Jangan Kejar Harga
Optimisme terhadap PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) masih sangat kuat. Sebanyak 14 dari 16 analis memberikan rekomendasi buy dengan target harga rata-rata Rp817, jauh di atas harga pasar saat ini.
Sayangnya, optimisme tersebut belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan harga.
MBMA memang naik tipis 0,46 persen ke level 434 dan mulai diikuti volume pembelian, tetapi tekanan offer masih sedikit lebih besar dibandingkan antrean bid. Investor asing juga belum menunjukkan akumulasi agresif.
Karena itu, strategi yang lebih rasional adalah menunggu harga turun ke area 390 hingga 418 sebelum mulai melakukan akumulasi bertahap.
Target teknikal berada di kisaran 472 hingga 520, dengan stop loss di bawah 374.
DAAZ: Reli Masih Berjalan, Mulai Kunci Keuntungan
Berbeda dengan tiga saham sebelumnya, DAAZ justru menjadi bintang pada perdagangan terakhir setelah melonjak 7,60 persen ke level 1.840.
Arus dana asing juga masih memberikan dukungan yang cukup solid melalui net foreign buy yang kembali mencatatkan angka positif.
Namun justru di tengah euforia tersebut, risiko mulai meningkat.
Secara teknikal, DAAZ diperkirakan sedang berada pada bagian wave 5 dari wave (C), fase yang sering kali menjadi penutup tren naik sebelum memasuki koreksi yang lebih dalam.
Penguatan harga juga masih tertahan oleh MA20 sehingga peluang terjadinya aksi ambil untung semakin besar.
Bagi investor yang sudah memiliki posisi, strategi terbaik adalah menerapkan sell on strength di area 1.930 hingga 2.070 sambil tetap menjaga sebagian posisi apabila momentum positif masih berlanjut.
Selektif, Bukan Agresif
Kondisi pasar saat ini belum memberikan sinyal bahwa tekanan jual telah benar-benar berakhir. IHSG masih bergerak mencari dasar baru, sementara sentimen global dan domestik belum cukup kuat untuk mengangkat indeks keluar dari fase koreksi.
Dalam situasi seperti ini, pendekatan terbaik bukan mengejar saham yang sedang naik, melainkan memilih emiten yang memiliki struktur teknikal lebih sehat dan masuk pada area akumulasi yang terukur.
ANTM, BRMS, dan MBMA lebih menarik untuk strategi buy on weakness dengan disiplin terhadap level stop loss masing-masing. Sebaliknya, DAAZ yang sudah lebih dulu melesat justru lebih cocok dimanfaatkan untuk mengamankan keuntungan secara bertahap.(*)