Logo
>

Harga Minyak Ambles 2 Persen di Tengah Ketegangan AS, Israel, dan Iran

Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional berakhir turun USD2,44 atau 2,3 persen ke level USD102,58 per barel

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Harga Minyak Ambles 2 Persen di Tengah Ketegangan AS, Israel, dan Iran
Ilustrasi minyak dunia. Foto: dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia bergerak liar sepanjang perdagangan Kamis sebelum akhirnya ditutup merosot hampir 2 persen. Ketidakjelasan arah penyelesaian konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menebarkan kecemasan di pasar energi global, memicu gelombang spekulasi yang membuat perdagangan berlangsung sangat fluktuatif.

Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional berakhir turun USD2,44 atau 2,3 persen ke level USD102,58 per barel, berdasarkan laporan Reuters dari New York pada Kamis 21 Mei waktu setempat atau Jumat 22 Mei 2026 pagi WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat terkoreksi USD1,90 atau 1,9 persen menjadi USD96,35 per barel. Kedua kontrak tersebut sekaligus mencatatkan harga penutupan terendah dalam hampir dua pekan terakhir.

Pada awal sesi perdagangan, pasar sempat diguncang reli tajam. Harga minyak melesat hingga 4 persen setelah Reuters melaporkan bahwa pemimpin tertinggi Iran mengeluarkan arahan yang memudarkan optimisme terhadap penyelesaian cepat perang antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel.

Laporan yang mengutip dua sumber senior Iran itu menyebut Teheran mulai mengambil posisi yang lebih rigid terhadap salah satu tuntutan utama Washington. Instruksi dari Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dinilai dapat memperumit jalur diplomasi dan sekaligus menghambat ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik berkepanjangan tersebut.

Belakangan, Trump menegaskan Amerika Serikat pada akhirnya akan mengambil alih cadangan uranium Iran yang telah diperkaya pada tingkat tinggi. Washington meyakini material tersebut diarahkan untuk pengembangan senjata nuklir. Namun Teheran terus bersikeras bahwa program nuklirnya sepenuhnya ditujukan bagi kepentingan sipil dan damai.

Perkembangan itu muncul hanya sehari setelah Iran mengumumkan pembentukan Persian Gulf Strait Authority, lembaga baru yang bertugas mengawasi wilayah maritim terkendali di Selat Hormuz—jalur vital yang menjadi nadi distribusi energi dunia.

Sepanjang perdagangan, harga minyak berayun sangat tajam. Lonjakan harga semakin agresif setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa penerapan sistem pungutan di Selat Hormuz akan membuat peluang tercapainya kesepakatan diplomatik nyaris mustahil.

Namun reli tersebut tak bertahan lama. Penguatan harga terpangkas setelah Rubio mengungkapkan bahwa pejabat Pakistan yang berperan sebagai mediator akan melakukan perjalanan ke Iran guna melanjutkan pembicaraan damai.

Dalam catatan risetnya, analis ING menyebut pasar energi berkali-kali menghadapi situasi serupa yang pada akhirnya berujung antiklimaks. Meski demikian, lembaga tersebut masih mempertahankan proyeksi rata-rata harga Brent di kisaran USD104 per barel untuk kuartal berjalan.

Secara terpisah, UBS menaikkan estimasi harga minyak sebesar USD10 per barel. Bank investasi itu kini memperkirakan Brent akan menyentuh USD105 per barel, sedangkan WTI diproyeksikan mencapai USD97 per barel pada September mendatang.

Iran juga kembali memperingatkan potensi serangan lanjutan sambil memperketat kontrol di Selat Hormuz yang hingga kini sebagian besar masih tertutup. Sebelum perang meletus, kawasan tersebut menjadi rute distribusi minyak dan gas alam cair yang setara dengan hampir 20 persen konsumsi energi global.

Efek konflik mulai menjalar ke ekonomi dunia. Aktivitas ekonomi zona euro pada Mei tercatat mengalami kontraksi terdalam dalam lebih dari dua setengah tahun terakhir. Melonjaknya biaya hidup akibat perang disebut menghantam permintaan sektor jasa di Eropa serta mendorong perusahaan mempercepat gelombang pemutusan hubungan kerja.

Dari sisi suplai, tujuh negara produsen utama OPEC+ diperkirakan akan menyepakati kenaikan produksi minyak secara terbatas untuk Juli dalam pertemuan 7 Juni mendatang. Informasi tersebut diperoleh Reuters dari empat sumber yang mengetahui pembahasan internal kelompok produsen minyak itu.

Pasar minyak global juga semakin ketat akibat lonjakan permintaan bahan bakar musim panas, terbatasnya ekspor baru dari Timur Tengah, dan terus menurunnya stok minyak dunia.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa pasar minyak berpotensi memasuki fase kritis pada Juli hingga Agustus apabila kondisi pasokan terus memburuk.

Bahkan CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), Sultan Al Jaber, menilai bahwa sekalipun konflik Timur Tengah berhenti hari ini, arus distribusi penuh minyak melalui Selat Hormuz kemungkinan baru dapat pulih pada kuartal pertama atau kedua tahun 2027.

Iran secara efektif menutup jalur strategis tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang memicu perang sejak 28 Februari. Walau sebagian besar pertempuran mereda setelah gencatan senjata April, Teheran masih membatasi lalu lintas di Hormuz sementara Amerika Serikat mempertahankan blokade di sepanjang pesisir Iran.

Sejak konflik dimulai, kehilangan pasokan minyak dari kawasan produsen utama Timur Tengah diperkirakan mencapai hampir 10 juta barel per hari. Situasi itu memaksa banyak negara menguras cadangan komersial maupun strategis mereka secara besar-besaran, memunculkan kekhawatiran baru mengenai menipisnya stok minyak global.

Di Amerika Serikat, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan pemerintah menarik hampir 10 juta barel minyak dari cadangan strategis pekan lalu—menjadi penarikan terbesar sepanjang sejarah. Persediaan minyak mentah komersial AS juga tercatat turun lebih dalam dibanding ekspektasi pasar.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Richmond Thomas Barkin mengatakan respons dunia usaha dan konsumen terhadap guncangan ekonomi berkepanjangan akan menjadi faktor penentu apakah bank sentral dapat mengabaikan lonjakan inflasi saat ini atau justru perlu kembali mempertimbangkan kenaikan suku bunga.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.