KABARBURSA.COM – Harga minyak mentah berjangka turun tajam pada Kamis, 12 Februari 2026, seiring pasar mulai merespons penurunan proyeksi permintaan global sekaligus meredanya kekhawatiran konflik di Timur Tengah, menurut laporan Reuters.
Brent crude turun USD1,88 atau 2,71 persen ke USD67,52 per barel, sementara patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), turun USD1,79 atau 2,77 persen ke USD62,84 per barel pada penutupan perdagangan.
Laporan bulanan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menyebut pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 akan lebih lambat dari estimasi sebelumnya, dengan kenaikan diproyeksikan sekitar 850.000 barel per hari, turun dari perkiraan sebelumnya 930.000 barel per hari.
IEA juga memperkirakan pasokan minyak global akan mengalami surplus signifikan meskipun sempat ada gangguan produksi di awal tahun.
Sentimen pasar sempat mendapat dukungan awal dari kekhawatiran terhadap potensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, komentar pejabat bahwa negosiasi antara kedua negara masih berlanjut dinilai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.
“Fakta bahwa Presiden Trump terus bernegosiasi dengan Iran akan mengurangi risiko geopolitik,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, yang dikutip Reuters.
Lipow menambahkan proyeksi IEA menunjukkan penurunan permintaan yang cukup signifikan untuk tahun 2026.
Data dari Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS melonjak sebesar 8,5 juta barel menjadi total 428,8 juta barel pada pekan terakhir, jauh melampaui ekspektasi analis. Lonjakan stok ini menjadi tekanan tambahan terhadap harga minyak.
Selain itu, tingkat utilisasi kilang minyak AS turun 1,1 poin persentase menjadi 89,4 persen, mengindikasikan permintaan pengolahan minyak yang lebih lemah dalam jangka pendek.
Di sisi pasokan global, pasar juga mulai mengantisipasi potensi peningkatan output dari negara-negara seperti Venezuela, yang dipandang bisa menambah pasokan minyak di pasar internasional dalam beberapa bulan mendatang.
Secara mingguan, tren harga minyak menunjukkan tekanan turun karena kombinasi proyeksi surplus pasokan dan pelemahan permintaan global, meskipun faktor geopolitik masih dipantau ketat oleh pelaku pasar. (*)