KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada perdagangan pagi ini dan langsung terperosok ke level 8.372,77, turun 607,46 poin atau setara 6,76 persen pada Rabu, 28 Januaei 2026.
Sepanjang sesi awal perdagangan, tekanan jual mendominasi pasar seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG dibuka di level 8.393,51 dengan level tertinggi 8.397,60 dan terendah 8.349,66. Total volume transaksi tercatat sebanyak 40,33 juta lot dengan nilai perdagangan mencapai Rp2,66 triliun dari sekitar 213.930 transaksi.
Pelemahan tajam ini mencerminkan sentimen risk-off yang kuat di pasar saham domestik.
Dari sisi aliran dana, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih. Nilai beli asing (foreign buy) mencapai Rp8,94 triliun, sementara nilai jual asing (foreign sell) sebesar Rp10,56 triliun, sehingga terjadi net foreign sell di seluruh pasar sebesar Rp1,61 triliun dan di pasar reguler sebesar Rp1,65 triliun.
Di sisi lain, transaksi tunai dan negosiasi masih mencatatkan net foreign buy sebesar Rp38,60 miliar. Komposisi transaksi menunjukkan investor domestik mendominasi dengan porsi 64,53 persen, sedangkan investor asing sebesar 35,47 persen.
Tekanan juga terlihat merata di seluruh sektor. Sektor energi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 9,26 persen, diikuti sektor infrastruktur yang melemah 7,34 persen dan sektor teknologi yang turun 6,92 persen. Sektor barang baku tercatat turun 6,41 persen, sektor properti melemah 5,09 persen, sektor industri turun 4,86 persen, dan sektor konsumer siklikal melemah 4,82 persen.
Sementara itu, sektor keuangan turun 2,99 persen, sektor transportasi terkoreksi 2,47 persen, sektor kesehatan turun 3,11 persen, dan sektor konsumer non-siklikal menjadi yang paling defensif dengan penurunan 1,62 persen.
Di tengah tekanan indeks, sejumlah saham masih mencatatkan penguatan. Saham PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) dari sektor perdagangan menjadi top gainer setelah melonjak 28,72 persen ke level 242.
Saham PT Buana Artha Anugerah Tbk (STAR) dari sektor keuangan menguat 14,40 persen ke 715, disusul PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) dari sektor teknologi yang naik 11,25 persen ke 89.
Saham PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE) dari sektor properti naik 9,59 persen ke 800, dan PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA) dari sektor konstruksi menguat 5,77 persen ke 110.
Sebaliknya, tekanan jual ekstrem mendorong sejumlah saham masuk daftar top loser. Saham PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS) dari sektor properti turun 15,00 persen ke 595. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dari sektor pariwisata juga anjlok 15,00 persen ke 1.445.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari sektor energi terkoreksi 15,00 persen ke 98.600, diikuti PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) dari sektor barang baku yang turun 15,00 persen ke 3.060 dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) dari sektor properti yang melemah 15,00 persen ke 238.
Tekanan pasar ini turut dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap tata kelola kebijakan ekonomi. Ekonom sekaligus Dosen Departemen Akuntansi Universitas Brawijaya Noval Adib menyatakan, pasar keuangan merespons negatif isu independensi Bank Indonesia (BI) menyusul penunjukan Thomas Djiwandono yang diketahui merupakan keponakan Presiden terpilih Prabowo Subianto sebagai Deputi Gubernur BI.
Ia juga diisukan tukar guling dengan Juda Agung—Deputi sebelumnya, menjadi Wakil Menteri Keuangan mengisi jabatan Thomas sebelumnya.
“Sudah pasti ini adalah hal yang melanggar tatakelola yang baik perekonomian suatu negara. Kepercayaan investor menjadi menurun karena pengendalian kebijakan fiskal dan moneter dijadikan satu," kata Noval kepada KabarBursa.com.
Menurut dia, kebijakan moneter yang mestinya menjadi penyeimbang kebijakan fiskal, sekarang menjadi alat bantu kebijakan fiskal. "Pembukaan IHSG yang merah pagi ini dan sekarang semakin merah mencerminkan ketidakpercayaan investor tersebut," ujar dia.
Noval menjelaskan investor memandang bahwa resiko investasi menjadi semakin tinggi dalam hal ini, ketika bank sentral tidak lagi independen dalam mengambil kebijakan.
"Potensi capital outflow atau pelarian modal meningkat karena investor melihat lingkungan investasi di Indonesia semakin tidak kondusif ketika melihat perekonomian Indonesia tidak dikelola dengan tatakelola yang baik," kata dia.
Dari sisi teknikal, riset MNCS Daily Scope Wave edisi 28 Januari 2026 mencatat IHSG sempat menguat tipis 0,05 persen ke level 8.980 dengan peningkatan volume beli, namun posisi indeks masih berada pada bagian wave [iv] dari wave 5 sehingga rawan mengalami koreksi lanjutan.
Area koreksi diperkirakan berada di kisaran 8.708 hingga 8.790, dengan level support di 8.852 dan 8.816. Sementara itu, area resistance berada di 9.039 dan 9.120, dengan potensi penguatan terbatas di rentang 8.992 hingga 9.018. (*)