KABARBURSA.COM – Tekanan jual ekstrem menghantam pasar saham domestik sepanjang perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan terperosok tajam dan menutup sesi di zona merah dalam.
IHSG anjlok 659 poin atau setara 7,35 persen ke level 8.320. Sejak pembukaan perdagangan, IHSG langsung bergerak turun tajam tanpa fase konsolidasi yang berarti. Tekanan jual terpantau menyebar merata di hampir seluruh papan, dengan volatilitas tinggi dan minimnya respons beli yang mampu menahan laju pelemahan.
Salah satu katalis utama yang membebani sentimen adalah pernyataan dari MSCI yang memperingatkan potensi penurunan peringkat Indonesia dari status pasar negara berkembang. Dalam pernyataannya, MSCI menyoroti isu fundamental yang dinilai masih membayangi kelayakan investasi, terutama terkait kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran akan potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar.
Tekanan jual tercermin jelas dari tingginya aktivitas transaksi. Volume perdagangan mencapai 601,7 juta lot saham dengan nilai transaksi menembus Rp44,82 triliun.
Di dalam indeks LQ45, tekanan terlihat dominan pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama indeks. Daftar top losers diisi oleh saham-saham seperti DSSA, EXCL, EMTK, BRPT, BUMI, SCMA, dan TLKM, yang mencatatkan penurunan tajam dan berkontribusi signifikan terhadap pelemahan indeks.
Di sisi lain, ruang penguatan sangat terbatas, dengan hanya segelintir saham yang mampu bertahan di zona hijau, di antaranya INDF dan MDKA, yang masuk jajaran top gainers LQ45 namun tidak cukup untuk mengimbangi tekanan jual yang meluas.
Pelemahan juga tercermin dari kinerja sektoral yang seragam negatif. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terpuruk dengan penurunan mencapai 10,15 persen. Saham-saham infrastruktur utama mengalami koreksi dalam, seperti EXCL yang anjlok 14,92 persen, TLKM turun 11,93 persen, ISAT melemah 10,57 persen, TBIG terkoreksi 10,15 persen, dan SMDR turun 9,69 persen.
Sementara itu, tekanan yang lebih moderat terlihat pada MTEL yang turun 2,56 persen, JSMR melemah 1,91 persen, serta PGAS terkoreksi 1,85 persen.
Bursa Asia Hijau
Berbanding terbalik dengan kondisi domestik, pergerakan bursa Asia pada hari yang sama cenderung menunjukkan nada yang lebih positif. Di Jepang, Nikkei 225 menguat tipis 0,05 persen ke level 53.358, sementara Topix justru melemah 0,79 persen ke 3.535.
Di China, indeks utama bergerak stabil menguat, dengan Shanghai Composite naik 0,27 persen ke 4.151, Shenzhen Component menguat 0,09 persen ke 14.342, dan CSI300 bertambah 0,26 persen ke 4.717.
Sentimen positif paling kuat terlihat di Hong Kong, di mana Hang Seng melonjak 2,58 persen ke 27.826, sementara Kospi Korea Selatan menguat 1,69 persen ke 5.170 dan Taiex Taiwan naik 1,50 persen ke 32.803. Sebaliknya, ASX200 Australia terkoreksi tipis 0,09 persen ke 8.933.
Yen Melemah, Rupiah Semakin Kuat
Di pasar valuta Asia, pergerakan mata uang berlangsung variatif. Yen Jepang melemah 0,16 persen ke level 152,46 per dolar AS, sementara dolar Singapura menguat tipis 0,10 persen ke 1,2601 per dolar AS. Dolar Australia melemah 0,06 persen ke 0,7007 per dolar AS.
Rupiah justru menguat 0,27 persen ke posisi 16.722 per dolar AS, sejalan dengan penguatan mata uang kawasan seperti yuan China yang naik 0,13 persen ke 6,9455 per dolar AS dan ringgit Malaysia yang melonjak 0,93 persen ke 3,916 per dolar AS.
Di sisi lain, rupee India turun 0,03 persen ke 91,7538 per dolar AS, sementara baht Thailand melemah 0,21 persen ke 30,982 per dolar AS.
Secara keseluruhan, kontras tajam antara kejatuhan IHSG dan relatif stabilnya bursa Asia menegaskan bahwa tekanan di pasar domestik lebih dipicu oleh sentimen spesifik terhadap Indonesia, terutama terkait persepsi risiko struktural dan kekhawatiran investor global, ketimbang oleh tekanan regional atau global yang bersifat umum.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.