Logo
>

MSCI Minta Transparansi Data Free Float: BEI Minta Investor Tak Perlu Panik!

Reaksi pasar yang terjadi hari ini lebih bersifat sentimen jangka pendek

Ditulis oleh Desty Luthfiani
MSCI Minta Transparansi Data Free Float: BEI Minta Investor Tak Perlu Panik!
Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Dok KabarBursa.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta investor tetap tenang dan tidak melakukan panic selling menyusul pengumuman MSCI terkait permintaan transparansi data free float yang memicu tekanan pasar saham pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026. Hal ini disampaikan beriringan dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun sampai 8 persen dan sempat dilakukan trading halt (penghentian perdagangan sementara) pada 13.43 sampai 14.13 waktu Jakarta Automated Trading System atau JAST.

    Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menegaskan bahwa reaksi pasar yang terjadi hari ini lebih bersifat sentimen jangka pendek, bukan karena perubahan fundamental pasar modal Indonesia.

    “Dari apa yang terjadi hari ini memang ada menurut saya panic selling,” ujar Iman di Gedung BEI Jakarta pada Rabu, 28 Januari 2026.

    Iman menjelaskan, sejak pagi BEI menerima pengumuman resmi dari MSCI terkait permintaan keterbukaan data free float sesuai proposal metodologi yang telah dikonsultasikan sejak akhir tahun lalu. Dalam proposal tersebut, MSCI meminta pemisahan data kepemilikan saham kategori korporasi dan others, khususnya untuk kepemilikan di bawah 5 persen, guna meningkatkan transparansi perhitungan free float emiten.

    Ia menjelaskan MSCI berencana menggunakan data yang bersumber dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Namun, data yang ada saat ini masih mencampurkan kepemilikan saham di bawah dan di atas 5 persen, sehingga dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan metodologi MSCI.

    Iman mengatakan, sejak awal BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI telah melakukan diskusi langsung dan intensif dengan MSCI untuk menjelaskan kondisi tersebut sekaligus menyampaikan keberatan.

    “Kami minta equal treatment sebagai bagian dari konstituen indeks MSCI,” kata Iman.

    Selain meminta perlakuan yang setara dengan bursa lain, BEI juga aktif mengusulkan sejumlah opsi teknis agar MSCI dapat menghitung free float secara lebih akurat tanpa menimbulkan salah tafsir data. Diskusi tersebut telah berlangsung sejak tahun lalu dan terus berlanjut hingga minggu lalu.

    Sebagai bentuk tindak lanjut konkret, Iman menegaskan bahwa BEI pada 2 Januari 2026 telah memublikasikan data free float yang lebih tersegmentasi dan komprehensif melalui situs resmi bursa. Data itu menurut Iman lebih komprehensif baik dari sisi BEI maupun KSEI.

    “Per 2 Januari, data free float per segmen sudah kami tampilkan di website,” ujar Iman.

    Ia menegaskan bahwa data tersebut bukan data baru, melainkan hasil pengelompokan yang lebih rinci dari data yang selama ini sudah tersedia. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan transparansi sekaligus mempermudah pihak eksternal, termasuk MSCI, dalam memahami struktur kepemilikan saham di Indonesia.

    Namun dalam pengumuman terbarunya, MSCI menyampaikan dua poin utama. Pertama, MSCI menetapkan rebalancing indeks pada Februari 2026 dalam kondisi freeze, sehingga tidak ada penambahan maupun pengurangan emiten Indonesia dalam indeks MSCI.

    “Tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen,” kata Iman.

    Kedua, MSCI menyatakan bahwa apabila hingga Mei 2026 transparansi data free float yang dibutuhkan belum terpenuhi, Indonesia berpotensi diturunkan dari kategori emerging market menjadi frontier market pada Juni 2026.

    “Jadi kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen Perusahaan tercatat kita di MSCI. Jadi misal jika sampai Mei mereka merasa data yang kami usulkan mereka merasa tidak cukup sesuai harapan. Maka mereka akan menurunkan peringkat kami dari emerging market menjadi frontier market,” Iman menjelaskan.

    Status emerging market dalam indeks MSCI menempatkan Indonesia satu kelompok dengan negara berkembang besar seperti India, China, Korea Selatan, Taiwan, dan Brasil, yang pasar sahamnya dinilai memiliki ukuran, likuiditas, serta aksesibilitas memadai bagi investor global. 

    Posisi ini penting karena banyak dana investasi internasional, termasuk dana pasif berbasis indeks MSCI, secara otomatis menempatkan alokasi ke negara-negara emerging market. MSCI memberi waktu hingga Mei untuk mengevaluasi apakah transparansi data free float Indonesia telah memenuhi metodologi mereka, sementara hingga periode tersebut tidak ada perubahan komposisi saham maupun bobot Indonesia yang tetap di level 1,5 persen. Potensi peninjauan status pada Juni bersifat evaluatif dan masih dalam proses dialog, sehingga tidak mencerminkan penurunan fundamental pasar modal Indonesia.

    Sementara, frontier market dalam klasifikasi MSCI adalah pasar saham yang masih berkembang dengan ukuran dan likuiditas lebih kecil dibanding emerging market, sehingga basis investornya lebih terbatas dan aliran dana global lebih selektif. 

    Kategori Frontier Market

    Contoh negara yang masuk kategori frontier market antara lain Vietnam, Filipina, Pakistan, Sri Lanka, dan Bangladesh, di mana pasar sahamnya tetap tumbuh namun belum menjadi tujuan utama dana pasif global berbasis indeks. Status ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang buruk, tetapi membuat bobot alokasi dana internasional lebih kecil dibanding negara emerging market.

    “Artinya kita mungkin akan disejajarkan dengan Vietnam dan Filipina Sementara kalau kita sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia,” ujarnya.

    Meski demikian, Iman menekankan pihaknya sudah berdiskusi dengan SRO lain seperti OJK dan KSEI untuk menindaklanjuti permintaan itu. “ Kami menghormati  independensi masing-masing dalam tata cara penilaian,” katanya. 

    Menurut Iman, kondisi tersebut seharusnya tidak menjadi alasan bagi investor untuk bereaksi berlebihan. BEI bersama OJK dan KSEI saat ini tengah mempersiapkan langkah lanjutan untuk memenuhi kebutuhan transparansi data MSCI, terutama terkait data kepemilikan saham di bawah 5 persen yang berada di KSEI.

    “Kami berkomitmen memenuhi transparansi data,” kata Iman.

    Ia menegaskan, pemenuhan transparansi ini bukan semata karena permintaan MSCI, melainkan juga sejalan dengan upaya penguatan tata kelola dan kredibilitas pasar modal Indonesia secara jangka panjang.

    “Ini bukan hanya baik untuk MSCI, tapi juga baik untuk pasar modal Indonesia,” ujarnya.

    Iman juga menekankan bahwa BEI menghormati metodologi dan independensi MSCI sebagai penyusun indeks global. Namun, BEI ingin memastikan MSCI tidak salah kaprah dalam membaca data, mengingat saat ini informasi kepemilikan saham masih tersebar di berbagai sumber.

    “Datanya tersebar, tidak di satu tempat,” kata Iman.

    Ia menegaskan bahwa komunikasi dengan MSCI akan terus berjalan dan BEI berharap investor tetap rasional dalam menyikapi dinamika pasar.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Desty Luthfiani

    Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

    Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

    Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

    Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".