KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah, termasuk wacana ekspor sumber daya alam melalui satu pintu BUMN yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto.
Sehari setelah pidato tersebut disampaikan di DPR pada 20 Mei 2026, IHSG pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, ditutup anjlok 3,54 persen ke level 6.094,94 sekaligus menembus area psikologis 6.100. Tekanan berlanjut pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, ketika IHSG kembali dibuka turun 0,64 persen atau 39,24 poin ke posisi 6.055,70 pada pukul 09.00 WIB.
Pelemahan pasar saham domestik terjadi di tengah mayoritas bursa global yang justru bergerak positif. Berdasarkan data perdagangan Stockbit pada Jumat pagi, indeks S&P 500 Amerika Serikat menguat 0,17 persen, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,55 persen.
Di kawasan Asia, indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,45 persen, Shanghai Composite China menguat 0,11 persen, dan Nikkei Jepang melonjak 1,99 persen. Sementara di Eropa, indeks FTSE 100 Inggris masih bertahan di zona hijau meski sejumlah indeks utama lainnya bergerak bervariasi.
Perbedaan arah pergerakan tersebut dinilai menunjukkan tekanan terhadap IHSG lebih dipengaruhi sentimen domestik dibanding faktor eksternal semata.
Di pasar mata uang, nilai tukar rupiah juga masih berada dalam tekanan. Berdasarkan data Morningstar pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 09.26 WIB, rupiah berada di level Rp17.704 per dolar Amerika Serikat.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai koreksi IHSG saat ini merupakan gabungan sentimen domestik dan global.
“Kelemahan ini mengindikasikan tekanan pasar yang masif,” kata Hendra kepada KabarBursa.com.
Menurut dia, tekanan terhadap IHSG terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait pembentukan regulator ekspor sumber daya alam yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan mengurangi daya saing ekspor nasional.
“Tekanan IHSG telah terjadi sejak persoalan MSCI, HSC, kelemahan rupiah, hingga ketegangan geopolitik. Perbedaan, pasar Indonesia kini semakin rapuh karena likuiditas berkurang, IPO sepi, dan kepercayaan investor terhadap kualitas emiten juga diuji,” ujar Hendra.
Ia menambahkan, hingga pertengahan tahun ini hanya terdapat satu IPO yang melantai di Bursa Efek Indonesia.
“Medium tahun ini cuma ada 1 IPO langsung diindikasikan bahwa HSC adalah sinyal kapital market Indonesia menghadapi tantangan,” katanya.
Menurut Hendra, selama kepastian kebijakan dan kepercayaan investor belum pulih, IHSG masih berpotensi bergerak volatil.
“Selama kepastian kebijakan dan kepercayaan investor belum pulih, IHSG masih berpotensi volatile,” tuturnya.
Hendra mengungkapkan arus dana asing keluar sejak awal tahun telah mencapai lebih dari Rp51 triliun. Di sisi lain, rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.600 per dolar AS.
Dari faktor eksternal, pasar juga dibayangi oleh sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat atau The Fed setelah risalah Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan potensi inflasi AS yang masih tinggi sehingga suku bunga berpeluang bertahan lebih lama.
Secara teknikal, Hendra menilai posisi IHSG saat ini masih berada dalam tren bearish kuat dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kokoh.
“Penurunan tajam menembus area pendukung penting 6.200 dan 6.100 menandakan dominasi tekanan jual masih sangat tinggi,” ujar dia.
Menurut Hendra, level 6.000 kini menjadi area dukungan psikologis yang sangat kritis.
“Jika levelnya tembus, IHSG berpotensi kembali melemah ke area 5.880-5.900 sebagai support berikutnya,” katanya.
Sementara itu, area resistance jangka pendek berada pada kisaran 6.120 hingga 6.250.
“IHSG baru akan memiliki peluang rebound teknis yang lebih meyakinkan ketika dapat menolak lebih dari 6.200 dengan area volume yang ditingkatkan membeli,” ucapnya.
Untuk perdagangan selanjutnya, Hendra memperkirakan IHSG masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan volatilitas tinggi.
“Sentimen pasar masih akan dipengaruhi oleh pergerakan rupiah, aliran dana asing, pengembangan konflik geopolitik AS-Iran, dan respons pasar terhadap kebijakan ekonomi domestik,” ujar dia.
Meski demikian, ia menilai peluang rebound teknikal jangka pendek mulai terbuka setelah koreksi yang cukup dalam dalam beberapa hari terakhir.
“Peluang rebound teknis jangka pendek juga mulai buka terutama ketika perburuan tawar-menawar pada saham topi besar yang sudah mengalami oversold,” kata Hendra.
Sementara itu, analis pasar modal dari Traderindo, Wahyu Tri Laksono, mengatakan kondisi pasar saat ini sedang berada di bawah tekanan besar sehingga komentar maupun kebijakan pemerintah sulit menjadi sentimen positif bagi IHSG.
“Saat ini komentar atau bahkan kebijakan apapun sulit menjadi penggerak positif IHSG,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com.
Menurut dia, tekanan terbesar berasal dari keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dari indeks MSCI Global Standard.
“Pengalihan saham dan penggerak indeks seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT dari indeks standar global MSCI memicu tekanan penjualan besar-besaran dari dana manajer asing,” ujarnya.
Wahyu juga menyoroti pelemahan rupiah di atas Rp17.600 per dolar AS sebagai refleksi kekhawatiran pasar terhadap pengetatan likuiditas global dan beban pembayaran luar negeri.
“Level Rp17.600 lebih merefleksikan kekhawatiran pasar tentang pengetatan likuiditas global dan beban pembayaran luar negeri serta impor korporasi,” katanya.
Di sisi global, Wahyu menilai inflasi Amerika Serikat yang meningkat hingga 3,8 persen secara tahunan akibat lonjakan harga energi dan konflik Timur Tengah membuat pasar semakin khawatir.
“Lonjakan ini dipicu lonjakan harga energi yang dipindai dari ketegangan geopolitik dan konflik bersenjata di Timur Tengah,” ujar dia.
Menurut Wahyu, kondisi tersebut membuat The Fed masih bersikap hawkish dan mempertahankan suku bunga tinggi di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
“Suku bunga AS saat ini tinggi di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen,” tuturnya.
Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak naik ke kisaran 4,6 persen sehingga selisih yield dengan Indonesia semakin menyempit.
“Investor asing menilai resiko premium Indonesia tidak lagi sebanding,” kata Wahyu.
Ia menambahkan tekanan domestik semakin besar setelah pemerintah menggulirkan pembentukan badan pengelola ekspor sumber daya alam melalui PT Danantara Resources Indonesia (DSI)—badan baru yang dibuat pemerintah untuk mengurus ekspor satu pintu.
“Pasar saat ini merespons pengumuman pemerintah terkait pengangkatan Danantara melalui PT Danantara Resources Indonesia atau DSI yang akan mengelola dan memfasilitasi ekspor komoditas strategis,” ujar dia.
Menurut Wahyu, pasar masih mempertanyakan mekanisme teknis ekspor satu pintu tersebut dan khawatir terhadap dampaknya terhadap birokrasi hingga arus kas emiten.
“Pasar masih dinanti-nunggu dan dilihat dari mekanisme ekspor tunggal ini,” katanya.
Wahyu mencatat sektor energi dan bahan baku menjadi yang paling terpukul pada perdagangan Kamis kemarin. Pada sesi I, sektor energi turun 5,02 persen sementara sektor bahan baku ambles 6,49 persen.
Tekanan juga datang dari saham-saham konglomerasi dan kapitalisasi besar seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), serta saham komoditas lainnya seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Selain itu, pasar juga merespons kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen yang dinilai berpotensi menekan sektor properti dan saham berbasis pembiayaan.
“Jika tingkat dukungan di 6.100 meledak, investor perlu mengantisipasi koreksi lanjutan sebelum pasar menemukan titik jenuh,” ujar Wahyu.
Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai pidato Presiden Prabowo terkait ekspor satu pintu memperbesar kekhawatiran investor terhadap implementasi kebijakan di lapangan.
“Pidato Presiden Prabowo memperluas kekhawatiran pasar terhadap kebijakan dan implementasinya dalam lapangan,” kata Reydi kepada KabarBursa.com.
Menurut Reydi, IHSG sebenarnya telah berada di bawah tekanan sejak isu MSCI, HSC, pelemahan rupiah, hingga konflik geopolitik global.
Namun, menurut dia, kondisi pasar Indonesia kini semakin rapuh karena likuiditas terus berkurang dan aktivitas IPO sangat minim.
“Pasar Indonesia kini semakin rapuh karena likuiditas berkurang, IPO sepi, dan kepercayaan investor terhadap kualitas emiten juga diuji,” ujar Reydi.
Ia menambahkan hingga pertengahan tahun ini hanya terdapat satu IPO yang melantai di Bursa Efek Indonesia.
“Medium tahun ini cuma ada 1 IPO langsung diindikasikan bahwa HSC adalah sinyal kapital market Indonesia menghadapi tantangan,” katanya.
PT BSA Logistics Indonesia atau WBSA menjadi emiten pertama dan satu-satunya yang melantai di pasar modal tahun ini tepat 10 April 2026. Namun, pada 8 Mei 2026 kemarin WBSA terindikasi masuk HSC lantaran sahamnya hanya dimiliki segelintir orang.
Menurut Reydi, selama kepastian kebijakan dan kepercayaan investor belum pulih, IHSG masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek.
“Selama kepastian kebijakan dan kepercayaan investor belum pulih, IHSG masih berpotensi volatile,” tuturnya.(*)