KABARBURSA.COM - Pendiri lembaga edukasi pasar modal Republik Investor, Hendra Wardana, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguji level psikologis 8.000 dalam jangka pendek. Hal ini terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian investor setelah Moody's Investors Service menurunkan outlook Indonesia dari ‘Stabil’ menjadi ‘Negatif’.
Menurut Hendra, perubahan outlook tersebut tidak mengubah peringkat kredit Indonesia yang tetap di Baa2 (investment grade), alias layak investasi. Namun, langkah ini menjadi sinyal adanya peningkatan risiko, terutama terkait tata kelola dan kepastian kebijakan, yang selanjutnya memengaruhi persepsi pasar.
“Dalam jangka pendek, IHSG memang rentan mengalami koreksi. Secara teknikal, indeks berpotensi menguji area psikologis 8.000 yang menjadi level krusial. Jika level ini ditembus, ruang penurunan terbuka menuju support berikutnya di 7.888,” kata Hendra dalam keterangannya, Jakarta, Jumat 6 Februari 2026.
Hendra menjelaskan, efek yang paling terasa saat ini adalah psikologi pasar dan peningkatan risk premium, bukan fundamental ekonomi. Kondisi ini tercermin pada kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor panjang, pelebaran spread obligasi, dan tekanan arus dana asing di pasar saham.
Untuk pasar saham, Hendra menilai reaksi investor cenderung berupa selective selling, bukan panic selling. Sejumlah saham bank BUMN dan emiten strategis milik negara dinilai lebih sensitif karena investor mulai memasukkan risiko tambahan dalam perhitungan valuasi.
Dia menambahkan, pergerakan saat ini lebih tepat dipandang sebagai fase konsolidasi, bukan awal tren bearish struktural. Hendra juga menilai risiko Indonesia turun kelas menjadi frontier market masih relatif kecil, selama stabilitas kebijakan, likuiditas pasar, dan kepercayaan investor tetap terjaga.(*)