Logo
>

IHSG Dibuka Melemah ke 7.365, Saham  WBSA Masih Pimpin Top Gainers

Sepanjang awal sesi, indeks bergerak dalam tekanan seiring memburuknya sentimen global dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar

Ditulis oleh Desty Luthfiani
IHSG Dibuka Melemah ke 7.365, Saham  WBSA Masih Pimpin Top Gainers
Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin, 13 April 2026, turun 93,46 poin atau 1,25 persen ke level 7.365,04. Sepanjang awal sesi, indeks bergerak dalam tekanan seiring memburuknya sentimen global dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.

Dari sisi pergerakan saham, daftar top gainers dipimpin oleh BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) dari sektor logistik yang melonjak 56 poin atau 24,78 persen ke level 282. Saham ini menjadi sorotan karena baru saja melantai di bursa melalui aksi initial public offering pada Jumat, 10 April 2026, dan langsung menempati posisi teratas penguatan.

Penguatan juga terjadi pada Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) sektor perdagangan yang naik 475 poin atau 24,17 persen ke level 2.440. Selanjutnya, Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) sektor properti menguat 17 poin atau 20,00 persen ke level 102.

Saham lainnya yang mencatat kenaikan signifikan adalah Citra Tubindo Tbk (CTBN) dari sektor energi yang melonjak 1.025 poin atau 18,89 persen ke level 6.450, serta Multi Indocitra Tbk (MICE) sektor barang konsumsi yang naik 90 poin atau 17,82 persen ke level 595.

Di sisi lain, tekanan terlihat pada jajaran top losers. Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) dari sektor teknologi turun 19 poin atau 9,95 persen ke level 172. Disusul Hotel Fitra International Tbk (FITT) sektor pariwisata yang melemah 34 poin atau 9,94 persen ke level 308.

Selanjutnya, Putra Mandiri Jembar Tbk (PMJS) sektor konsumer turun 15 poin atau 9,87 persen ke level 137, serta Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS) sektor industri dasar yang turun 15 poin atau 9,15 persen ke level 149. Sementara itu, Vastland Indonesia Tbk (VAST) sektor properti melemah 11 poin atau 9,02 persen ke level 111.

Secara sektoral, hampir seluruh sektor berada di zona merah. Sektor infrastruktur mencatat pelemahan terdalam sebesar 2,19 persen, diikuti sektor industri turun 1,46 persen, sektor keuangan 1,43 persen, serta sektor properti turun 1,31 persen. Sektor teknologi juga terkoreksi 0,71 persen, sementara sektor transportasi melemah 0,69 persen. Adapun sektor energi menjadi satu-satunya yang masih mencatat penguatan tipis sebesar 0,03 persen.

Tekanan pada IHSG tidak lepas dari meningkatnya kekhawatiran global setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran belum mencapai kesepakatan, yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi ini mendorong pasar global kembali ke mode risk-off dan berdampak pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di dalam negeri, sentimen juga datang dari potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak non-subsidi serta pelemahan rupiah yang meningkatkan risiko inflasi dan potensi keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik. Kombinasi faktor ini membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see dalam jangka pendek.

Di sisi lain, proyeksi teknikal dari MNC Sekuritas menyebut IHSG masih berpeluang menguat untuk menguji level 7.592 hingga 7.856, dengan area koreksi minor di kisaran 7.281 hingga 7.409, serta level support di 7.274 dan 7.184 dan resistance di 7.500 hingga 7.585.

Sementara itu, Indo Premier Sekuritas melalui analisnya Hari Rachmansyah menilai bahwa pergerakan pasar masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

“Volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam sepekan ke depan,” ujarnya.

Dalam risetnya ia menyebut pelemahan ini terjadi setelah IHSG sebelumnya mencatatkan rebound kuat sebesar 6,14 persen dalam sepekan terakhir. Namun, memasuki awal pekan, pasar kembali dibayangi ketidakpastian global serta tekanan dari nilai tukar rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.000 terhadap dolar AS.

 IHSG diperkirakan akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, sehingga investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam mengelola risiko di tengah perubahan sentimen yang cepat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".