Logo
>

Bitcoin Bergerak di Area USD74.000, CFTC Buka Peluang Rebound

Harga Bitcoin bertahan di area USD74.000 saat CFTC AS menyetujui kontrak perpetual futures yang selama ini mendominasi pasar derivatif kripto global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Bitcoin Bergerak di Area USD74.000, CFTC Buka Peluang Rebound
Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat resmi menyetujui perdagangan kontrak berjangka perpetual Bitcoin yang diatur secara penuh di dalam negeri. (Foto: Unsplash)

KABARBURSA.COM – Perdagangan Bitcoin bergerak fluktuatif pada akhir pekan di tengah respons pasar terhadap perkembangan regulasi baru di Amerika Serikat. Aset kripto terbesar dunia itu masih bertahan di area USD74.000 meski tekanan likuidasi dan arus keluar dana dari ETF kripto belum sepenuhnya reda.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga Bitcoin dalam denominasi rupiah berada di kisaran Rp1,305 miliar per koin atau turun sekitar 0,48 persen dalam perdagangan harian. Sepanjang sesi, Bitcoin bergerak dalam rentang Rp1,294 miliar hingga Rp1,322 miliar.

Tekanan harga terjadi setelah pasar sempat mengalami volatilitas tajam akibat aksi ambil untung dan keluarnya dana dari produk ETF Bitcoin serta Ethereum dalam beberapa pekan terakhir.

Peluang Rebound dari CFTC

Meski demikian, sentimen pasar kripto mulai membaik setelah Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat resmi menyetujui perdagangan kontrak berjangka perpetual Bitcoin yang diatur secara penuh di dalam negeri.

Persetujuan tersebut diberikan terhadap produk BTCPERP milik Kalshi, yakni kontrak perpetual Bitcoin tanpa tanggal jatuh tempo tetap. Instrumen ini selama bertahun-tahun menjadi salah satu produk derivatif kripto paling aktif di pasar global, tetapi akses investor Amerika Serikat sebelumnya masih terbatas.

Ketua CFTC Michael Selig, menyebut langkah tersebut sebagai perkembangan besar bagi industri aset digital Amerika Serikat.

“Tindakan hari ini untuk membawa perpetual aset kripto ke dalam negeri mencerminkan komitmen CFTC dalam mendorong inovasi yang bertanggung jawab sambil memastikan perlindungan investor dan integritas pasar tetap terjaga,” ujar Selig.

Pasar menilai keputusan itu cukup penting karena kontrak perpetual selama ini menjadi tulang punggung likuiditas perdagangan kripto global. Sebagian besar volume derivatif Bitcoin dunia memang berasal dari produk perpetual futures.

Berbeda dengan kontrak futures biasa yang memiliki tanggal jatuh tempo, perpetual futures dapat diperdagangkan tanpa batas waktu selama posisi tetap aktif dan memenuhi persyaratan margin.

Sebelumnya, banyak investor Amerika Serikat harus mengakses produk tersebut melalui platform luar negeri yang minim regulasi. Situasi itu membuat likuiditas pasar domestik Amerika tertinggal dibanding bursa global lain seperti Binance atau Deribit.

CEO Kalshi Tarek Mansour, mengatakan persetujuan ini menjadi titik penting transformasi bisnis perusahaan dari sekadar pasar prediksi menjadi bursa derivatif generasi baru.

“Ini menandai evolusi Kalshi menjadi bursa derivatif generasi berikutnya,” ujar Mansour.

Tidak hanya Kalshi, Coinbase juga mendapat lampu hijau regulasi untuk memperluas akses derivatif kripto global kepada investor Amerika Serikat melalui jalur yang diawasi CFTC.

Di bawah skema baru tersebut, investor AS kini bisa mengakses perpetual futures dan opsi kripto global melalui satu futures commission merchant atau FCM resmi yang teregulasi.

CEO Coinbase Brian Armstrong bahkan menyebut langkah ini membuka akses investor Amerika Serikat terhadap sekitar 80 persen pasar derivatif kripto global yang sebelumnya sulit dijangkau.

“Sampai sekarang pengguna AS terkunci dari sekitar 80 persen pasar kripto global, termasuk perpetual futures dan opsi. Tapi sekarang tidak lagi,” tulis Armstrong melalui platform X.

Area Teknikal Penting Bitcoin

Di tengah sentimen regulasi yang mulai positif, analis pasar tetap menyoroti area teknikal penting Bitcoin dalam jangka pendek.

Level USD74.200 saat ini menjadi area krusial yang dipantau pelaku pasar. Jika mampu bertahan di atas area tersebut, Bitcoin dinilai masih memiliki peluang melanjutkan penguatan.

Namun apabila tekanan jual kembali meningkat, pasar mulai melihat area support berikutnya di kisaran USD68.000 sebagai titik pertahanan utama.

Perdagangan kripto global saat ini juga masih dibayangi volatilitas tinggi akibat kombinasi sentimen suku bunga Amerika Serikat, arus ETF, dan perubahan regulasi aset digital global.

Meski begitu, keputusan CFTC dianggap menjadi sinyal bahwa Amerika Serikat mulai bergerak lebih agresif untuk menarik kembali likuiditas derivatif kripto ke pasar domestiknya sendiri.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79