KABARBURSA.COM – Pergerakan dolar Amerika Serikat kembali melemah terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada perdagangan Jumat waktu internasional. Pelemahan ini terjadi ketika pasar mulai merespons potensi perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat meredakan tekanan geopolitik global.
Indeks dolar AS atau dollar index yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama tercatat bergerak datar di level 98,92. Meski terlihat stabil secara harian, indeks dolar tetap berada di jalur pelemahan mingguan untuk pekan kedua berturut-turut.
Pasar sebelumnya sempat mendorong dolar menguat pada awal konflik Iran karena statusnya sebagai aset safe haven. Namun penguatan tersebut mulai memudar seiring meningkatnya ketidakpastian arah konflik dan negosiasi geopolitik yang terus berubah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengambil keputusan final terkait proposal perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Kesepakatan tersebut disebut mencakup perpanjangan jeda konflik selama 60 hari serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Kondisi itu membuat pelaku pasar mulai mengurangi posisi defensif di dolar AS dan kembali masuk ke aset serta mata uang berisiko.
Euro Naik, Pounds Menguat 0,18 Persen
Euro tercatat naik 0,12 persen ke level USD1,1662 dan bergerak menuju penguatan mingguan. Sementara poundsterling Inggris menguat 0,18 persen ke posisi USD1,3466 sekaligus memperpanjang reli pekanan untuk dua minggu beruntun.
Director of Trading Monex USA Juan Perez, mengatakan pasar saat ini masih dipenuhi ketidakpastian sehingga pergerakan dolar menjadi cenderung tertahan.
“Kita belum memiliki jawaban pasti terhadap banyak hal dan itu menciptakan kurangnya konsensus di pasar, terutama bagi bank sentral,” ujar Perez.
Menurut dia, situasi tersebut membuat pasar valuta asing bergerak tanpa arah kuat meski ekspektasi suku bunga Amerika Serikat masih tinggi.
Dari sisi makroekonomi, data terbaru menunjukkan inflasi Amerika Serikat pada April naik paling cepat dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan harga energi akibat perang Iran menjadi salah satu pendorong utama kenaikan inflasi tersebut.
Kondisi ini memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Bahkan pasar mulai membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun.
Senior Analyst FXStreet Joseph Trevisani, menilai pasar sebenarnya masih melihat peluang kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Namun kondisi itu belum mampu mendorong dolar menguat signifikan.
“Tidak ada yang terlihat di depan selain potensi kenaikan suku bunga. Tapi dolar tetap tidak bergerak lebih tinggi,” ujar Trevisani.
Yen Dekati Area Psikologis
Di kawasan Asia, yen Jepang masih menjadi perhatian utama pasar global. Mata uang Jepang diperdagangkan di level 159,27 per dolar AS atau mendekati area psikologis 160 yang selama ini sering memicu intervensi pemerintah Jepang.
Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi pemerintah telah menggelontorkan sekitar 11,7 triliun yen atau setara USD73,5 miliar untuk melakukan intervensi pasar valuta asing dalam satu bulan terakhir demi menopang yen.
Langkah tersebut sebelumnya memang sudah banyak dicurigai pelaku pasar setelah yen beberapa kali bergerak tajam dalam waktu singkat.
Sementara itu, dolar Australia menguat 0,31 persen ke level USD0,7184. Dolar Selandia Baru atau kiwi bahkan melonjak hampir 0,85 persen ke level USD0,5985 dan mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir.
Penguatan kiwi terjadi setelah Reserve Bank of New Zealand memberi sinyal peluang kenaikan suku bunga tambahan di tengah tekanan inflasi domestik.
Pasar mata uang global saat ini berada dalam fase sensitif karena investor harus menyeimbangkan risiko geopolitik, inflasi energi, dan arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia secara bersamaan.
Rupiah Merosot 55 Poin
Pada sesi perdagangan terakhir Jumat, 29 Mei 2026, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 55 poin ke level Rp17.880.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi, mengatakan pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen positif pasar terkait laporan Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
"Prospek kesepakatan damai telah mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal," ujar dia dalam keterangannya.
Pelemahan ini, menurut Ibrahim, akan berlanjut pada perdagangan Senin pekan depan, 1 Juni 2026. Ia memperkirakan mata uang rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.880-Rp17.940.
"Sedangkan range untuk sepekan Rp17.800-Rp18.100," pungkas Ibrahim. (*)