KABARBURSA.COM – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 2 Juni 2026 di Jakarta. Agenda rapat kali ini tidak hanya membahas laporan keuangan dan penggunaan laba, tetapi juga perubahan susunan pengurus perusahaan.
Berdasarkan keterbukaan informasi, terdapat enam agenda utama yang akan dibahas dalam RUPST tersebut. Salah satu agenda paling krusial ialah persetujuan laporan tahunan dan laporan keuangan tahun buku 2025.
Selain itu, rapat juga akan membahas penggunaan laba bersih perusahaan, termasuk potensi pembagian dividen kepada pemegang saham. Pasar biasanya menaruh perhatian besar pada agenda ini karena berkaitan langsung dengan arah distribusi kas perusahaan.
Agenda lainnya mencakup perubahan susunan direksi dan komisaris. Isu ini mulai diperhatikan investor karena dapat memengaruhi arah strategis INCO di tengah transisi industri nikel dan proyek hilirisasi nasional.
Manajemen INCO sebelumnya telah mengumumkan panggilan resmi RUPST pada 5 Mei 2026 melalui situs Bursa Efek Indonesia, laman perusahaan, dan platform eASY.KSEI.
Asing Masuk 56,03 Persen
Rapat ini juga datang di tengah perubahan komposisi kepemilikan saham INCO. Berdasarkan laporan terbaru per April 2026, kepemilikan investor asing naik menjadi 56,03 persen setelah terjadi penambahan sekitar 74,38 juta saham.
Meski porsi asing meningkat, struktur pemegang saham utama INCO tidak berubah. MIND ID tetap memegang sekitar 34 persen saham, Vale Canada 33,88 persen, dan Sumitomo Metal Mining sebesar 11,48 persen.
Kenaikan kepemilikan asing tersebut membuat pasar kembali memperhatikan pergerakan dana global di saham nikel besar Indonesia. Sementara itu, porsi saham free float INCO turun tipis menjadi sekitar 20,38 persen.
INCO Bergerak Lebar
Perubahan komposisi kepemilikan ini terjadi ketika pergerakan saham INCO sepanjang Mei 2026 terlihat sangat volatil. Dalam satu bulan terakhir, saham ini bergerak agresif dengan rentang harga lebar dan aktivitas transaksi asing yang cukup dominan.
Pada awal Mei, INCO sempat diperdagangkan di atas area 6.300. Namun tekanan jual membuat saham ini perlahan turun hingga sempat menyentuh area 4.460 pada 21 Mei.
Meski begitu, pasar juga melihat beberapa sesi akumulasi asing cukup besar. Pada 22 Mei misalnya, asing mencatat net buy sekitar Rp73,23 miliar bersamaan dengan lonjakan harga hampir 18,84 persen ke level 5.550.
Aktivitas asing kembali terlihat pada 29 Mei ketika INCO membukukan net foreign buy sekitar Rp77,85 miliar. Namun harga justru ditutup melemah 3,27 persen ke level 4.730.
Kondisi tersebut menunjukkan pergerakan INCO sepanjang Mei sangat dipengaruhi dinamika transaksi institusi besar dan rotasi cepat pasar terhadap sektor nikel.
Nilai transaksi saham ini juga tergolong tinggi. Pada 22 Mei, total nilai perdagangan mencapai Rp360,64 miliar dengan volume 688,23 ribu lot. Bahkan pada 29 Mei nilai transaksi kembali menyentuh Rp302,77 miliar.
Tanggapan INCO Soal Ekspor Satu Pintu
Di tengah volatilitas tersebut, INCO juga memberikan klarifikasi kepada Bursa Efek Indonesia terkait rencana pemerintah mengenai tata kelola ekspor sumber daya alam atau SDA.
Manajemen INCO menegaskan produk perusahaan saat ini tidak termasuk kategori yang terdampak langsung oleh rancangan Peraturan Pemerintah tersebut.
“Produk Perseroan saat ini tidak termasuk dalam kategori yang terdampak kebijakan dimaksud,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi kepada BEI.
INCO juga menyatakan hingga saat ini belum terdapat dampak langsung terhadap operasional maupun kondisi keuangan perusahaan akibat wacana regulasi tersebut.
Meski begitu, perusahaan menegaskan akan terus memantau perkembangan kebijakan dan aturan turunannya ke depan.
Pernyataan ini cukup penting bagi pasar karena isu tata kelola ekspor SDA sempat memunculkan kekhawatiran terhadap emiten berbasis komoditas, khususnya sektor tambang dan hilirisasi.
Kini perhatian investor mulai tertuju pada hasil RUPST 2 Juni nanti, terutama terkait arah pengurus baru, keputusan penggunaan laba, dan bagaimana strategi INCO menjaga momentum bisnis di tengah volatilitas harga nikel global.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.