KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin, 6 April 2026, turun 69,30 poin atau 0,99 persen ke level 6.957,48.
Sepanjang sesi awal perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 7.008,95 sebelum terkoreksi hingga level terendah di 6.955,82.
Data perdagangan menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar. Total volume transaksi tercatat sebesar 6,29 miliar lot dengan nilai perdagangan mencapai Rp327,14 miliar dari 74,18 ribu kali transaksi.
Pelemahan IHSG pada pembukaan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar di tengah sentimen global dan pergerakan komoditas.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berada di zona merah dan menjadi penekan utama pergerakan indeks.
Sektor infrastruktur mencatat penurunan paling dalam sebesar 2,15 persen, diikuti sektor bahan baku yang turun 1,83 persen serta sektor transportasi yang terkoreksi 1,76 persen. Sektor energi juga melemah 1,28 persen, sementara sektor teknologi turun 0,89 persen.
Adapun sektor properti mengalami penurunan 0,92 persen dan sektor non-siklikal turun 1,06 persen. Hanya sektor keuangan yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,39 persen, menahan tekanan lebih dalam pada IHSG.
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham justru mencatatkan penguatan signifikan. PT Chemstar Indonesia Tbk dengan kode emiten CHEM dari sektor bahan baku menguat 12,41 persen ke level 154. PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS) yang bergerak di sektor energi naik 10,22 persen ke 302.
Selanjutnya, PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA) dari sektor industri menguat 8,41 persen ke 232. PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) yang bergerak di sektor konsumer naik 7,69 persen ke 70, sementara PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk (TRON) dari sektor teknologi menguat 6,67 persen ke 144.
Sebaliknya, tekanan jual cukup dalam terjadi pada beberapa saham. PT Remala Abadi Tbk (DATA) dari sektor teknologi terkoreksi 14,91 persen ke 1.855. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) yang bergerak di sektor keuangan turun 14,58 persen ke 820. PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) dari sektor teknologi melemah 12,43 persen ke 324.
PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) di sektor bahan baku turun 11,88 persen ke 282, dan PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) dari sektor keuangan terkoreksi 11,67 persen ke 53.
Pergerakan IHSG pada awal pekan ini mencerminkan tekanan yang cukup merata di berbagai sektor, terutama sektor-sektor berbasis siklikal dan komoditas. Pelaku pasar terlihat melakukan aksi profit taking setelah reli sebelumnya, sekaligus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah dan harga energi global yang berpotensi mempengaruhi kinerja emiten domestik.
Dalam laporan MNC Sekuritas, IHSG disebut masih berada dalam fase koreksi lanjutan dengan potensi menguji area 6.745 hingga 6.849. Namun, dalam skenario terbaik, indeks berpeluang melanjutkan penguatan menuju kisaran 7.450 hingga 7.675 apabila tekanan mereda.
Sementara itu, IPOT memprediksi IHSG memasuki pekan ini diperkirakan masih berada dalam tekanan, seiring kombinasi sentimen global dan domestik yang belum mereda.
Setelah melewati pekan perdagangan yang menantang, IHSG ditutup di level 7.026 atau melemah sekitar 0,99 persen dibandingkan pekan sebelumnya pada penutupan Kamis, 2 April 2025, menjelang libur nasional Jumat Agung.
Pelemahan ini turut diiringi aksi jual investor asing yang mencatatkan outflow sebesar Rp2,8 triliun di pasar reguler, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap berbagai risiko yang berkembang.
Tekanan dari Dalam dan Luar Negeri
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih dipengaruhi kuat oleh dinamika global, terutama meningkatnya tensi geopolitik. Ia menyebut pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kesiapan menyerang Iran memicu kepanikan investor global dan mendorong peralihan dana ke aset safe haven.
"Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek," jelas David dalam keterantan tertulis pada Senin, 6 April 2026.
Selain faktor global, David menyebut sentimen domestik juga turut membebani pasar, khususnya terkait kebijakan pemerintah mengenai implementasi program B50. Kebijakan peningkatan campuran biodiesel berbasis sawit menjadi 50 persen mulai 1 Juli dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan pasokan crude palm oil (CPO) untuk kebutuhan pangan.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak goreng dan inflasi, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat. Sektor consumer goods pun dinilai menjadi salah satu yang paling rentan terdampak oleh kebijakan ini.
Memasuki periode perdagangan 6 hingga 10 April 2026, David mengingatkan pelaku pasar untuk mencermati dua indikator utama, yakni pergerakan nilai tukar Rupiah dan harga minyak dunia yang saat ini berada dalam tren meningkat.
"Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup drastis," ujarnya.
Menurutnya, jika harga minyak mentah mampu bertahan di atas level USD100 per barel, maka beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi meningkat signifikan. Hal ini berisiko memperlebar defisit fiskal dan menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per dolar AS turut memperbesar biaya impor bahan baku. Dampak lanjutannya adalah kenaikan inflasi yang dapat mempersempit ruang konsumsi masyarakat dan menekan kinerja emiten di berbagai sektor.
Tak hanya itu, sentimen tambahan juga datang dari penyesuaian komposisi kepemilikan saham global seiring proyeksi perubahan metodologi MSCI. Faktor ini dinilai dapat memicu tekanan lanjutan terhadap IHSG, terutama dari sisi aliran dana asing.
Menurut dia berbagai faktor tersebut, IHSG pada pekan ini diproyeksikan bergerak dalam tren melemah dengan rentang support di level 6.700 dan resistance di 7.250. Rentang ini mencerminkan ruang gerak indeks yang masih terbatas di tengah tingginya ketidakpastian pasar, sehingga investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam menerapkan strategi trading jangka pendek.(*)