KABARBURSA.COM - Pejabat Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik buka suara soal penurunan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini yang hampir menyentuh angka hampir 5 persen.
Menilik data perdagangan saham hari ini Senin, 18 Mei 2026 IHSG dibuka turun 124, 17 poin atau 1,85 persen ke level 6.599,15. Koreksi tersebut berlanjut pada pukul 11.04 WIB, IHSG turun 320 poin atau 4,77 persen ke 6.402,55.
Kendati demikian, sesi II perdagangan IHSG mulai mengembalikan harga, hingga pada penutupan sesi ia berada di 6.599,24. Namun tetap meengalami penurunan 124,08 poin atau 1,85 persen.
Ia mengakui ketidakpastian di pasar saham domestik masih tinggi di tengah tekanan hebat yang membuat IHSG sempat nyaris menyentuh penurunan 5 persen pada perdagangan awal pekan ini.
Jeffrey mengatakan, tekanan di pasar saham Indonesia masih sejalan dengan pelemahan yang terjadi di bursa global, khususnya pasar Asia, selama perdagangan domestik libur pada Kamis dan Jumat pekan lalu.
“Kalau IHSG hari ini, tentu kalau kami cermati memang ketidakpastian di pasar kita masih cukup tinggi. Tetapi kami juga melihat bahwa hari Kamis dan Jumat pasar kita libur. Di masa kita libur itu, pasar global khususnya pasar Asia itu juga mengalami koreksi,” kata Jeffrey di pressroom BEI, Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026.
Menurut dia, jika akumulasi koreksi bursa Asia selama dua hari ditambah pelemahan global pada perdagangan hari ini dihitung secara keseluruhan, maka tekanan yang dialami IHSG masih dinilai sejalan dengan pasar regional.
“Kalau kami akumulasikan koreksi dua hari di pasar global Asia ditambah dengan sedikit koreksi tambahan hari ini di pasar global, itu sama dengan koreksi yang kita alami hari ini. Jadi saya rasa masih inline dengan global market,” ujarnya.
Meski demikian, Jeffrey menegaskan kondisi pasar saat ini masih dipenuhi ketidakpastian sehingga investor diminta tidak mengambil keputusan secara emosional di tengah volatilitas yang tinggi.
“Tetapi memang ketidakpastian di pasar kita itu masih cukup tinggi. Oleh karena itu tentu tidak bosan-bosannya kami mengingatkan supaya investor tetap memperhatikan fundamental, tidak panik, menganalisis secara cermat, mengatur strategi berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing,” tutur Jeffrey.
Ia menambahkan kondisi pasar yang sangat dinamis membuat investor perlu lebih disiplin dalam mengelola risiko investasi. “Karena kondisi pasar sangat dinamis dan ketidakpastiannya masih cukup tinggi,” katanya.
Di tengah derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham domestik, Jeffrey memastikan BEI terus melakukan berbagai upaya agar investor asing tetap bertahan dan berpartisipasi dalam pasar modal Indonesia untuk jangka panjang.
“Nah tentu kami melakukan upaya terbaik agar investor asing akan terus masuk dan untuk jangka panjang tetap stay dan berpartisipasi di pasar kita,” ujar dia.
Selain menjaga minat investor asing, BEI juga mengandalkan pertumbuhan investor domestik untuk memperkuat kedalaman pasar modal Indonesia. Hingga Rabu pekan lalu, jumlah investor pasar modal Indonesia disebut telah menembus 27 juta investor.
“Nah tentu didukung dengan pertumbuhan investor retail kita yang mana per hari Rabu kemarin jumlah investor pasar modal kita sudah menembus angka 27 juta,” kata Jeffrey.
Ia menjelaskan, dari total 27 juta investor tersebut, sekitar 9,7 juta merupakan investor saham, sementara sisanya berasal dari investor reksadana yang tingkat partisipasinya juga terus meningkat.
“Dan harus diingat dari 27 juta investor di pasar modal itu yang khusus investor saham itu kira-kira 9,7 juta. Selebihnya adalah investor reksadana yang aktifannya juga meningkat,” ucapnya.
Menurut Jeffrey, peningkatan jumlah investor ritel dan investor institusi domestik diharapkan dapat membuat pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam dan lebih kuat menghadapi tekanan global maupun arus keluar dana asing.
“Tentu kami harapkan pasar kita akan lebih dalam. Jadi apa yang kita lakukan sekarang, upaya-upaya yang dengan sangat serius kita lakukan sekarang adalah untuk upaya perbaikan jangka panjang dari pasar kita,” kata Jeffrey.
Ia juga mengklaim tren pertumbuhan partisipasi investor domestik masih terus bergerak positif berdasarkan data keaktifan investor harian hingga tahunan.
“Sesuai data keaktifan investor baik yang harian, mingguan, bulanan, tahunan itu semuanya jadi inline dengan pertumbuhannya. Aktif bulannya sudah di atas 1 juta,” tutur Jeffrey.
Penurunan IHSG saat ini memang sudah diprediksi beberapa analis dan ekonom. Selain faktor indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengeluarkan 18 emiten Indonesia dari indeksnya,FTSE Russel, sentimen global ketegangan Timur Tengah antara Iran, Israel dan Amerika Serikat, hingga pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Selain itu, ada sentimen negatif dari statment mengenai dolar yang tidak dipakai oleh rakyat desa dari Presiden Prabowo Subianto pada 16 Mei 2026 kemarin.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai anggapan bahwa masyarakat desa tidak terdampak gejolak dolar merupakan kekeliruan mendasar dalam memahami hubungan ekonomi global dan domestik.
“Bukan soal orang desa pegang dolar atau tidak, namun soal seberapa dalam urat nadi perekonomian desa telah terikat pada rantai pasok global yang digerakkan oleh dolar Amerika Serikat,” ujar Achmad, Senin, 18 Mei 2026.
Menurut dia, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar perdagangan, tetapi berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat perdesaan, mulai dari pupuk, pakan ternak, bahan bakar minyak (BBM), hingga ongkos distribusi sembako.
Sementara itu, sebelumnya analis pasar modal dari Traderindo, Wahyu Tri Laksono, buka suara soal pernyataan Presiden lebih merupakan upaya komunikasi publik untuk menenangkan masyarakat.
“Pernyataan tersebut lebih kepentingan public relations soal pelemahan rupiah yang mengasumsikan lemahnya pemahaman masyarakat umum demi kepentingan status quo atau menenangkan masyarakat. Kurang berdasarkan kepentingan ekonomi investor,” ujar Wahyu kepada Kabarbursa.com.
Menurut dia, komentar Presiden bukan faktor utama pelemahan IHSG, tetapi berpotensi menjadi sentimen tambahan di tengah tekanan yang sudah besar akibat perubahan komposisi indeks MSCI.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 15 Mei 2026, IHSG melemah 135,58 poin atau 1,98 persen ke level 6.723,32. Secara mingguan, indeks turun 3,53 persen.
Wahyu mengatakan level 6.745 menjadi support penting. Jika level tersebut ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan penurunan menuju area 5.882.(*)