KABARBURSA.COM – PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) menegaskan kembali komitmennya menjalankan aksi korporasi strategis melalui rencana buyback saham Fujikura Asia Limited yang menjadi sorotan investor dalam beberapa pekan terakhir.
Perseroan memastikan proses pembelian kembali saham berlangsung sesuai kesepakatan bersama pemegang saham dan akan dieksekusi pada Desember 2025, seiring keluarnya Fujikura dari industri kabel global.
Direktur Keuangan JECC, Antonius Benady, menjelaskan bahwa buyback ini bukan berasal dari inisiatif perusahaan semata, melainkan tindak lanjut dari keputusan pemegang saham Fujikura yang ingin melepas kepemilikannya.
Dari total 20 persen saham yang sebelumnya dimiliki Fujikura, sekitar 6,4 persen menjadi porsi yang diambil JECC untuk buyback, sementara sisanya akan diakuisisi PT Monaspermata persada. Dengan transaksi tersebut, kepemilikan Monas diperkirakan meningkat menjadi sekitar 60 persen dari sebelumnya 52 persen.
Antonius menggarisbawahi bahwa aksi buyback ini memiliki horizon waktu jelas dan akan dikelola secara hati-hati. “Buyback ini memang mengalir karena ada penawaran dari pemegang saham yang mau keluar dari industri kabel. Saham tersebut nantinya akan dilepas lagi, karena ketentuannya dalam dua tahun harus dilepas secara bertahap,” ujarnya dalam Publik Expose di Kemayoran, Jakarta Pusat pada Rabu, 26 November 2025.
Selain membahas buyback, manajemen turut menjelaskan arah ekspansi, strategi produksi, dan penguatan pasar untuk 2025–2026. Perseroan menargetkan pertumbuhan kinerja melalui optimalisasi utilisasi mesin utama, ekspansi pasar energi, data center, serta penyerapan peluang dari proyek strategis nasional seperti ekosistem kendaraan listrik dan pembangkit tenaga surya.
Di sisi investasi, JECC menyiapkan belanja modal sekitar 70 miliar rupiah untuk tahun depan, sejalan dengan rencana peningkatan kapasitas produksi. Realisasi capex tahun ini mencapai sekitar 70 miliar rupiah, terdiri atas pembelian mesin utama, alat pendukung produksi, dan penyelesaian beberapa unit yang masih dalam proses.
Antonius menjelaskan bahwa strategi produksi diarahkan pada mesin-mesin pendukung yang menjadi bottleneck. Tahun ini kapasitas lini tembaga meningkat signifikan dari 12.000 ton menjadi 24.800 ton per tahun. Tahun depan fokusnya adalah memperkuat peralatan penunjang agar kapasitas bisa dimaksimalkan secara menyeluruh.
Selain memperbesar kapasitas, manajemen membidik pertumbuhan pasar ekspor. ASEAN dan Timur Tengah tetap menjadi wilayah prioritas karena permintaan yang stabil, sementara pasar Amerika juga sedang dijajaki sebagai opsi jangka menengah untuk meningkatkan kontribusi ekspor terhadap pendapatan perusahaan.
Dari sisi permintaan dalam negeri, perseroan mencatat penjualan kuartal III 2025 mencapai 2,9 miliar rupiah, didominasi oleh segmen kabel low-voltage yang selama ini dikelola melalui distributor utama JECC. Seiring kenaikan konsumsi listrik dan investasi data center, perusahaan melihat ruang pertumbuhan yang lebih besar pada 2026.
Menjawab pertanyaan mengenai likuiditas saham, Antonius menyebut bahwa perseroan membuka peluang untuk melepas sebagian saham hasil buyback agar perdagangan saham lebih dinamis. JECC juga mempertimbangkan pemberian dividen lebih menarik dibandingkan deposito untuk meningkatkan ketertarikan investor ritel.
“Tentunya kami akan berusaha memberikan dividen yang persentasenya lebih tinggi daripada deposito. Itu akan menjadi daya tarik. Namun semuanya tetap disesuaikan dengan kebutuhan capex,” jelasnya.
Untuk pasar energi terbarukan, JECC mengandalkan anak usaha Jembo Energy New yang memproduksi panel surya dan berperan dalam penetrasi perseroan ke proyek-proyek PLTS. Kontribusi lini bisnis tersebut saat ini sekitar 2 sampai 3 persen, namun ditargetkan naik menjadi 5 sampai 10 persen dalam dua tahun mendatang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.