KABARBURSA.COM - Harga nikel global bergerak melemah pada perdagangan Kamis setelah pelaku pasar menelaah arah kebijakan anyar pemerintah Indonesia yang berencana menempatkan ekspor sejumlah produk nikel di bawah kendali negara. Langkah tersebut memunculkan spekulasi baru mengenai masa depan arus perdagangan logam strategis dunia.
Kontrak nikel tiga bulan di London Metal Exchange (LME) terkoreksi 1,39 persen menjadi USD18.665 per ton. Di saat bersamaan, kontrak nikel paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) turut merosot 1,23 persen ke posisi 142.770 yuan per ton.
Tekanan terhadap harga muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pengawasan ekspor komoditas strategis oleh negara. Pemerintah kemudian memperjelas bahwa unit usaha di bawah sovereign wealth fund Danantara akan berperan sebagai eksportir tunggal untuk sejumlah komoditas tertentu, termasuk batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferroalloy mulai 1 September 2026.
Produk ferronikel, termasuk nickel pig iron (NPI), juga akan masuk dalam pengawasan lembaga ekspor negara tersebut. Komoditas itu merupakan bahan baku vital industri stainless steel dan selama ini menyumbang porsi dominan terhadap produksi nikel nasional.
Pelaku pasar memandang kebijakan tersebut berpotensi mengubah lanskap perdagangan nikel global. Indonesia saat ini merupakan produsen nikel terbesar dunia sekaligus pemasok utama material baterai kendaraan listrik dan bahan baku stainless steel internasional.
Meski demikian, sebagian investor mempertanyakan efektivitas implementasinya. Pasar menilai akan sulit bagi satu entitas tunggal untuk menangani distribusi ekspor ke berbagai pembeli hilir lintas negara secara efisien dan terukur.
Di sisi lain, tekanan harga juga dipicu oleh membengkaknya persediaan logam di bursa. Stok nikel SHFE tercatat naik ke level tertinggi sejak Mei 2017, sedangkan inventori nikel LME terus bertambah dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut mengindikasikan suplai global masih berada dalam situasi berlimpah.
Sentimen negatif tambahan datang dari penguatan dolar Amerika Serikat serta kenaikan harga minyak dunia setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington siap menunggu tercapainya kesepakatan damai terbaik dengan Iran. Situasi itu menekan mayoritas logam industri, termasuk tembaga.
Harga tembaga acuan di LME turun 1,21 persen menjadi US$13.490 per ton. Sementara itu, logam industri lain seperti aluminium dan seng juga bergerak di zona merah, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap permintaan global serta ketidakpastian kebijakan perdagangan komoditas internasional.(*)