KABARBURSA.COM – Kinerja PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melonjak signifikan pada kuartal I 2026. Namun, di balik lonjakan laba tersebut, beban bunga yang tetap tinggi serta struktur keuangan berbasis utang masih menjadi tekanan bagi kualitas profitabilitas perusahaan.
Berdasarkan keterbukaan informasi, ARCI mencatat laba bersih sebesar USD30,18 juta pada tiga bulan pertama 2026, melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD10,48 juta.
Kenaikan laba ini ditopang oleh lonjakan pendapatan menjadi USD136,9 juta dari sebelumnya USD90,7 juta. Secara operasional, perusahaan juga mencatat perbaikan signifikan dengan laba usaha mencapai USD55,87 juta.
Meski begitu, peningkatan kinerja tersebut belum sepenuhnya tercermin pada laba bersih yang “bersih” dari tekanan finansial. Beban keuangan ARCI tercatat sebesar USD9 juta, menyerap porsi signifikan dari laba sebelum pajak yang sebesar USD47,84 juta.
Kondisi ini mencerminkan bahwa pertumbuhan laba perusahaan masih dibayangi oleh biaya bunga yang tinggi, seiring dengan struktur pendanaan yang agresif.
Dari sisi neraca, ARCI masih menanggung utang bank jangka panjang sebesar USD429,18 juta. Total liabilitas perusahaan mencapai USD668,26 juta, lebih besar dibandingkan ekuitas yang sebesar USD392,93 juta.
Sejalan dengan itu, data yang dihimpun dari platform Stockbit menunjukkan rasio solvabilitas yang mencerminkan tekanan leverage. Debt to equity ratio tercatat di kisaran 1,37 kali, sementara total liabilitas terhadap ekuitas mencapai 1,71 kali, dengan financial leverage di level 2,83 kali.
Sedangkan kemampuan perusahaan dalam menanggung beban bunga masih relatif terjaga, tercermin dari interest coverage ratio sekitar 5,07 kali. Namun, ruang perlindungan ini tetap bergantung pada stabilitas laba operasional.
Dari sisi likuiditas, current ratio berada di kisaran 1,02 kali, sementara quick ratio hanya 0,53 kali, mengindikasikan keterbatasan likuiditas jangka pendek tanpa mengandalkan persediaan.
Sementara itu, dari perspektif valuasi, data Stockbit menunjukkan saham ARCI saat ini diperdagangkan dengan price to earnings (PE) ratio sekitar 20 kali, jauh di atas median IHSG yang berada di kisaran 9 kali. Price to book value tercatat 6,08 kali.
Di sisi lain, price to cash flow dan price to free cash flow masing-masing berada di kisaran 30 kali, mencerminkan valuasi yang relatif tinggi dibandingkan kemampuan menghasilkan kas.
Meski demikian, PEG ratio yang rendah di kisaran 0,12 mengindikasikan bahwa secara pertumbuhan, saham ini masih memiliki daya tarik, dengan catatan risiko dari struktur keuangan yang perlu diperhatikan.
Pergerakan saham ARCI juga menunjukkan tren penguatan dalam jangka menengah hingga panjang. Berdasarkan data yang sama, dalam enam bulan terakhir saham ini naik sekitar 36,6 persen, dan dalam satu tahun melonjak lebih dari 320 persen. Namun, secara year-to-date, pergerakannya masih relatif terbatas.
Di tengah kondisi ini, ARCI menghadapi dilema antara melanjutkan ekspansi operasional dan mengurangi tekanan utang. Perusahaan tetap menjalankan belanja modal untuk pengembangan tambang, di saat beban bunga masih tinggi.
Dengan kombinasi kinerja operasional yang kuat dan tekanan finansial yang belum sepenuhnya mereda, kualitas pertumbuhan laba ARCI menjadi sorotan. Ke depan, arah strategi perusahaan dalam mengelola utang dan biaya pendanaan akan menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan kinerja.(*)