KABARBURSA.COM – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mulai menunjukkan perbaikan kinerja pada kuartal I 2026. Kenaikan volume penjualan dan laba memberi sinyal awal pemulihan setelah perseroan mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, perbaikan tersebut masih berlangsung di tengah persoalan struktural industri semen domestik yang belum reda.
Perusahaan berkode saham SMGR itu mencatat volume penjualan sebesar 8,71 juta ton pada kuartal I 2026, naik 1,7 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar 8,57 juta ton.
Adapun penopang dari kenaikan ini adalah pasar domestik yang tumbuh 5,4 persen secara tahunan, terutama ditopang penjualan semen kantong yang meningkat 11 persen dan melampaui pertumbuhan permintaan semen kantong nasional sebesar 7 persen. Di sisi lain, penjualan regional masih turun 8 persen secara tahunan.
Peningkatan volume mulai tercermin pada kinerja keuangan. Pendapatan SIG naik 8,3 persen pada kuartal I 2026, sementara laba tumbuh 88,7 persen dibanding periode sama tahun lalu, meski basis laba tahun sebelumnya relatif rendah.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari strategi transformasi yang difokuskan pada penguatan pasar mikro, efisiensi biaya, dan optimalisasi portofolio produk turunan semen.
“Transformasi bisnis yang dilakukan SIG berfokus pada tiga strategi utama yaitu peningkatan pengelolaan pasar mikro, efisiensi biaya, serta optimalisasi produk turunan semen dan portofolio yang menjadi katalis pertumbuhan kinerja perusahaan,” ujar Vita Mahreyni dalam keterangannya, dikutip Kamis, 7 Mei 2026.
Vita Mahreyni mengatakan tren perbaikan mulai terlihat sejak kuartal IV 2025 dan berlanjut pada awal 2026 seiring disiplin perseroan menjalankan transformasi bisnis di tengah tekanan industri semen domestik.
Meski kinerja awal tahun membaik, posisi SIG masih dibayangi tekanan profitabilitas yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Laba bersih perseroan tercatat turun tajam dari Rp2,17 triliun pada 2023 menjadi Rp720 miliar pada 2024, lalu kembali melemah menjadi Rp190 miliar pada 2025. Margin laba bersih turun ke level 0,54 persen, sementara rasio pengembalian terhadap ekuitas hanya sebesar 0,44 persen.
Pelemahan tersebut terjadi seiring menurunnya kinerja operasional. Pendapatan SIG turun dari Rp38,65 triliun pada 2023 menjadi Rp35,24 triliun pada 2025. Dalam periode yang sama, laba usaha menyusut dari Rp4,50 triliun menjadi Rp1,25 triliun, sedangkan EBITDA turun dari Rp7,78 triliun menjadi Rp4,49 triliun.
Tekanan tersebut tidak terlepas dari kondisi industri semen nasional yang masih mengalami kelebihan pasokan. Volume penjualan semen dan klinker SIG turun dari 40,6 juta ton pada 2023 menjadi 38,3 juta ton pada 2024, lalu kembali melemah menjadi 37,9 juta ton pada 2025. Di tengah kapasitas produksi industri yang tetap besar, persaingan harga antarprodusen semakin ketat dan menekan ruang perbaikan margin.
Kondisi itu diperburuk kenaikan biaya energi dan bahan bakar yang terus membebani biaya produksi. Pada kuartal I 2026, beban pokok pendapatan SIG naik 8,6 persen, sementara biaya operasional meningkat 9 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Bidik Pasar Ekspor
Di tengah tekanan tersebut, SIG mulai mengarahkan strategi ke pasar ekspor untuk menjaga utilisasi produksi. Langkah ini dilakukan seiring terbatasnya pertumbuhan permintaan domestik akibat kondisi overcapacity industri semen nasional.
Perseroan melalui PT Solusi Bangun Indonesia Tbk bersama Taiheiyo Cement Corporation telah menyelesaikan proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi untuk ekspor di Tuban, Jawa Timur. Proyek strategis senilai Rp1,4 triliun itu dirancang untuk mendukung ekspor semen tipe khusus dengan spesifikasi internasional.
Pengembangan fasilitas tersebut mencakup peningkatan kapasitas dermaga dari 15.000 DWT menjadi 50.000 DWT, pembangunan sistem logistik terintegrasi berupa tube conveyor sepanjang 4,1 kilometer, serta fasilitas penyimpanan modern untuk mendukung distribusi global.
Dengan infrastruktur tersebut, fasilitas di Tuban mampu menopang kapasitas ekspor hingga 1 juta ton semen per tahun sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok dan utilisasi produksi perseroan.
Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, mengatakan rampungnya proyek tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas penetrasi pasar ekspor bernilai tambah di tengah perlambatan pasar domestik.
“Selain memperluas penetrasi pasar ekspor bernilai tinggi, keunggulan portofolio ini juga memperkuat posisi SIG di kancah industri global,” ujar Indrieffouny Indra.
Vita Mahreyni menambahkan, ekspor akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan perseroan ke depan, terutama untuk menjaga utilisasi produksi di tengah tekanan industri domestik.
“Ekspor akan menjadi segmen penting tidak hanya untuk menyiasati overcapacity industri domestik, tetapi juga meningkatkan utilitas dan mendukung pertumbuhan kinerja yang stabil,” kata Vita Mahreyni.
Kinerja Saham SMGR
Meski mulai mencatatkan pemulihan operasional, profitabilitas SIG masih berada di level rendah. Berdasarkan data Stockbit, return on equity (ROE) trailing twelve months hanya sebesar 0,52 persen, sementara net profit margin kuartalan berada di bawah 1 persen.
Kondisi ini menunjukkan kenaikan volume penjualan belum sepenuhnya mampu mengembalikan daya laba perseroan seperti periode sebelum tekanan overcapacity industri semen.
Di sisi lain, biaya keuangan bersih SIG turun 35,4 persen pada kuartal I 2026 dan membantu menopang pertumbuhan laba di tengah kenaikan biaya operasional.
Namun, pasar tampaknya masih bersikap hati-hati terhadap prospek pemulihan perseroan. Hal itu tercermin dari kapitalisasi pasar SIG yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, sejalan dengan melemahnya laba dan margin perusahaan.
Kapitalisasi pasar SIG turun dari Rp43,20 triliun pada 2023 menjadi Rp22,21 triliun pada 2024, lalu kembali melemah menjadi Rp17,82 triliun pada 2025. Berdasarkan data Stockbit, kapitalisasi pasar terbaru SMGR kini berada di kisaran Rp14,5 triliun.
Dari sisi valuasi, saham SMGR juga masih mencerminkan keraguan pasar terhadap kualitas pemulihan laba perseroan. Price to book value (PBV) SMGR berada di level 0,33 kali, menunjukkan valuasi aset yang relatif murah. Namun price to earnings ratio (PE) trailing twelve months masih mencapai 63,5 kali akibat laba bersih yang masih rendah.
Dalam periode tersebut, SIG juga melakukan buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp300 miliar untuk 2025–2026. Perseroan menyebut langkah itu sebagai sinyal keyakinan terhadap fundamental perusahaan dan valuasi saham yang dinilai belum mencerminkan kondisi jangka panjang.
Perbaikan kinerja pada awal 2026 memberi sinyal bahwa tekanan terhadap SIG mulai mereda. Namun, kondisi industri semen domestik yang masih dibayangi overcapacity, persaingan harga, dan kenaikan biaya energi membuat proses pemulihan belum sepenuhnya aman.
Dalam situasi tersebut, ekspor dan efisiensi menjadi dua strategi utama yang kini menentukan arah kinerja perseroan. Keberhasilan SIG menjaga utilisasi produksi sekaligus memperbaiki margin akan menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan pemulihan perusahaan di tengah industri semen yang masih berada dalam fase tekanan.(*)