KABARBURSA.COM – Kinerja bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Himbara pada kuartal I 2026 tercatat lebih agresif dibanding bank swasta. Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai akselerasi kredit korporasi, investasi, hingga program pemerintah menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan laba kelompok bank pelat merah.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan pertumbuhan laba Himbara pada awal tahun ini tidak hanya ditopang ekspansi kredit, tetapi juga didukung perbaikan dana murah atau current account savings account (CASA), efisiensi biaya dana, serta kualitas aset yang relatif terjaga.
“Pendorong utama bukan semata volume kredit, tetapi kombinasi pertumbuhan kredit, perbaikan CASA, penurunan cost of fund, serta kualitas aset yang masih cukup terjaga,” ujar Liza dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kamis, 7 Mei 2026.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026 menunjukkan kredit perbankan nasional tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp8.659 triliun. Namun kredit bank BUMN tumbuh lebih tinggi yakni 13,66 persen yoy.
Pertumbuhan paling agresif datang dari kredit investasi yang naik 20,85 persen yoy serta kredit korporasi sebesar 14,88 persen yoy. Dua segmen tersebut selama ini menjadi kekuatan utama bank-bank Himbara.
Yang pertama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat laba bersih Rp15,4 triliun pada kuartal I 2026 atau naik 16,6 persen yoy. Kredit BMRI tumbuh 17,4 persen yoy menjadi Rp1.530 triliun.
Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan laba Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7 persen yoy. Penyaluran kredit BBRI naik 13,68 persen yoy menjadi Rp1.562 triliun, sementara beban bunga turun 9,31 persen.
Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi bank dengan pertumbuhan kredit paling agresif di kelompok bank besar. Kredit BBNI tumbuh 20,1 persen yoy dengan laba bersih mencapai Rp5,6 triliun.
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatat laba Rp1,1 triliun atau naik 22,6 persen yoy.
Kiwoom: Bank Swasta Lebih Hati-hati
Di sisi lain, pertumbuhan bank swasta cenderung lebih moderat. Kiwoom menilai hal tersebut terjadi karena strategi ekspansi kredit bank swasta lebih konservatif dibanding Himbara.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menjadi bank dengan laba terbesar yakni Rp14,7 triliun. Namun pertumbuhan laba BBCA hanya sekitar 3,8 persen yoy. Penyaluran kredit BBCA juga tumbuh lebih rendah yakni 5,6 persen yoy menjadi Rp994 triliun.
“Gap pertumbuhan laba Himbara versus bank swasta lebih banyak dipengaruhi perbedaan appetite kredit serta positioning Himbara yang lebih dominan di proyek pemerintah, pembiayaan korporasi, dan sektor prioritas nasional,” kata Liza.
Kiwoom juga menyoroti dampak penempatan dana SAL Rp200 triliun oleh pemerintah ke sektor perbankan. Program tersebut dinilai membantu menjaga likuiditas dan menekan biaya dana bank BUMN.
Dana tersebut ditempatkan pemerintah melalui Kementerian Keuangan untuk menjaga likuiditas perbankan sekaligus membuka ruang ekspansi kredit yang lebih besar. Program itu juga diperpanjang selama enam bulan.
Data OJK menunjukkan dana pihak ketiga (DPK) industri tumbuh 13,55 persen yoy menjadi Rp10.231 triliun. Giro tercatat naik 21,37 persen yoy sehingga memperkuat struktur pendanaan murah perbankan.
Meski demikian, Kiwoom menilai kenaikan laba bank tetap lebih banyak ditentukan kualitas kredit, pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII), efisiensi pencadangan, dan kemampuan menjaga kredit bermasalah.
Per Maret 2026, rasio non-performing loan (NPL) gross industri turun menjadi 2,14 persen. Sementara loan at risk (LaR) turun menjadi 8,94 persen.
Di sisi profitabilitas, return on asset (ROA) industri naik menjadi 2,47 persen dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tetap kuat di level 25,09 persen.
“Backdrop industri perbankan memang sedang cukup sehat, dan Himbara menjadi pihak yang paling optimal memanfaatkan momentum pertumbuhan kredit saat ini,” ujar Liza.
| Bank | Laba Bersih | Pertumbuhan Laba | Pertumbuhan Kredit | Total Kredit |
|---|---|---|---|---|
| BMRI | Rp15,4 triliun | +16,6 persen | +17,4 persen | Rp1.530 triliun |
| BBRI | Rp15,5 triliun | +13,7 persen | +13,68 persen | Rp1.562 triliun |
| BBNI | Rp5,6 triliun | n.a | +20,1 persen | n.a |
| BBTN | Rp1,1 triliun | +22,6 persen | n.a | n.a |
| BBCA | Rp14,7 triliun | +3,8 persen | +5,6 persen | Rp994 triliun |
BMRI dan BBNI Jadi Pilihan Utama
Dari sisi valuasi, Kiwoom menilai saham BBNI dan BBTN masih menjadi bank dengan valuasi paling murah di kelompok bank besar.
BBNI diperdagangkan pada price to book value (PBV) sekitar 0,9 kali. Sementara BBTN berada di PBV 0,54 kali dengan price earning ratio (PER) sekitar 5,36 kali.
Kiwoom menyebut valuasi BBTN mulai masuk kategori deep value play. Meski laba masih tumbuh dua digit, saham tersebut masih diperdagangkan dengan valuasi relatif rendah. Namun pasar masih memberikan diskon cukup besar terhadap BBTN karena sensitivitas terhadap cost of fund, likuiditas, dan siklus suku bunga properti lebih tinggi dibanding bank lain.
“BBTN lebih cocok untuk investor dengan profil agresif yang percaya pada peluang penurunan suku bunga di semester II 2026,” kata Liza.
Sementara itu, BMRI dinilai menjadi pilihan paling seimbang dari sisi valuasi, kualitas aset, pertumbuhan kredit, dan stabilitas laba.
Dengan PBV sekitar 1,5 kali, valuasi BMRI masih dianggap cukup rasional dibanding kualitas bisnis dan profitabilitasnya.
Kiwoom juga mulai melihat PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali menarik untuk akumulasi jangka menengah dengan PBV sekitar 1,5 kali dan PER 8 hingga 9 kali.
Di sisi lain, BBCA tetap dipandang sebagai tolok ukur kualitas industri perbankan Indonesia karena memiliki CASA paling kuat dan profil defensif terbaik. Namun valuasi BBCA dinilai sudah cukup premium dengan PBV sekitar 2,9 kali dan PER sekitar 13 kali.
Sedangkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dinilai masih menarik untuk investor yang mencari eksposur pertumbuhan bank syariah jangka panjang. Namun valuasi BRIS juga dinilai sudah relatif mahal dibanding bank BUMN lain dengan PBV sekitar 1,75 kali dan PER sekitar 12 kali.
“Secara keseluruhan, Kiwoom Research saat ini masih overweight pada BMRI dan BBNI karena kombinasi valuasi murah, dividend yield menarik, dan momentum earnings yang masih konsisten,” ujar Liza.(*)
| Bank | PBV | PER | Sorotan Kiwoom |
|---|---|---|---|
| BBNI | 0,9x | Single digit | Valuasi murah |
| BBTN | 0,54x | 5,36x | Deep value play |
| BMRI | 1,5x | n.a | Paling balance |
| BBRI | 1,5x | 8–9x | Mulai menarik |
| BBCA | 2,9x | 13x | Premium & defensif |
| BRIS | 1,75x | 12x | Growth syariah |