Logo
>

Rupiah Terpuruk, PTBA Siap Jaga Ketahanan Energi dan Aliran Devisa

Pelemahan rupiah hingga Rp17.456 per dolar AS dinilai memberi ruang keuntungan bagi emiten batu bara berbasis ekspor di tengah gejolak Timur Tengah.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Rupiah Terpuruk, PTBA Siap Jaga Ketahanan Energi dan Aliran Devisa
Pelemahan rupiah dinilai membuka ruang keuntungan bagi emiten batu bara berbasis ekspor. (Foto: Dok. Bukit Asam)

KABARBURSA.COM – Gejolak konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel mulai menekan perekonomian Indonesia. Beban semakin berat ketika rupiah menyentuh level terendahnya Rp17.400 hingga Rp17.456 per dolar AS pada awal Mei 2026.

Meski begitu, pada Kamis, 7 Mei 2026, rupiah terpantau mulai menguat dari titik kritisnya dan berada di level Rp17.357 per dolar AS. Namun ternyata nilai itu tak sebanding karena rupiah terus menunjukkan pelemahan sejak awal tahun 2026 dari sebelumnya di kisaran Rp16.700. Hal ini tentunya akan berdampak signifikan ke industri terutama sektor yang bahan baku utamanya dibeli menggunakan mata uang dolar AS.

Kendati demikian, Indonesia sendiri menjadi negara penghasil bahan baku energi terbesar di dunia. Salah satunya pengekspor batu bara terbesar sehingga pendapatan dari valuta asing (valas) tentunya akan bernilai lebih tinggi di dalam negeri. Hal ini nantinya juga akan berpengaruh ke pendapatan perusahaan dan apakah industri bara tersebut dapat menopang sebagian gejolak ekonomi di Indonesia.

Indonesia sendiri berada di peringkat ke-3 penghasil batu bara setelah Tiongkok dan India. Bahkan berdasarkan data Statista pada 2024 Amerika Serikat malah berada di peringkat ke-4 disusul Australia, Rusia, dan Afrika Selatan.

Produksi real time batu bara di Indonesia pada 2025 sebesar 790 juta ton yang 65 persennya dialokasikan untuk ekspor. Selain itu, pada Maret 2026, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar produksi batu bara ditingkatkan sebagai respons atas kenaikan harga minyak global serta kebutuhan untuk memperkuat penerimaan negara di tengah ancaman defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ada setidaknya 10 perusahaan tambang batu bara di Indonesia yang menyuplai angka itu. Namun, hanya satu perusahaan yang dimiliki seutuhnya oleh negara yakni PT Bukit Asam Tbk atau dalam kode saham PTBA yang dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau MIND ID.

Pada 2025, PTBA mencatatkan produksi sebesar 47,2 juta ton. “Kami terus berupaya menargetkan peningkatan hingga 100 juta ton dalam 3 hingga 4 tahun ke depan untuk mendukung ketahanan energi nasional,” tulis manajemen Bukit Asam.

Selain meningkatkan kapasitas produksi mereka juga melakukan pembangunan jalur angkutan Tanjung Enim-Kramasan, berupa Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6-7 untuk meningkatkan kapasitas angkutan batu bara hingga 20 juta ton per tahun. Tujuannya, agar biaya logistik domestik lebih efisien. Namun pembangunan belum final, pada 31 Januari 2026 progress pembangunannya mencapai 80,81 persen.

PTBA juga tengah mengembangkan batu bara untuk bahan baku artificial graphite, material utama yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik. 

“Rantai pasok graphite global saat ini masih sangat terkonsentrasi di beberapa negara, baik untuk graphite alam maupun sintetis. Kondisi ini menciptakan risiko ketergantungan impor dan tekanan geopolitik,” tutur manajemen. 

Jika produksi PTBA tersebut lancar, peluang perusahaan negara ini mengimpor graphite terbuka lebar untuk membangun kemandirian industri.

Trading Economic merilis harga batu bara global per 7 Mei 2026 berada di 132,05 USD per ton. Meski sempat mengalami penurunan dari titik tertingginya yakni 146,50 USD per ton pada 20 Maret 2026. Harga batu bara tergolong cukup tinggi jika dibandingkan dengan data 6 bulan ke belakang. Misal pada 11 November 2025 lalu, harga batu bara global masih di kisaran 107,85 USD per ton.

Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan di pasar Asia yang sensitif pada harga, ekportir Indonesia memperoleh ruang kompetitif. Terutama untuk batu bara termal kalori rendah-menengah yang banyak dipasok ke China, India dan Asia Tenggara.

Ia menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS ini sebenarnya malah memberikan keuntungan bagi perusahaan batu bara di Indonesia. “Terutama emiten yang memiliki pendapatan berbasis dolar. Setiap penerimaan menghasilkan nilai rupiah lebih besar,” kata Syafruddin kepada Kabarbursa.com Kamis, 7 Mei 2026.

PTBA, kata dia dan emiten batu bara lain dapat menikmati dorongan pendapatan rupiah jika penjualan ekspor, harga kontrak dan volume pengiriman tetap kuat. Harga batu bara sekitar 110 hingga 114 USD per ton untuk acuan Argus/McCloskey’s Coal Price Index (indeks kontrak jual beli Batu Bara) API2 dan API4 juga memberikan bantalan tambahan.

“Meski begitu, manfaat ini tidak pribadinya penuh karena PTBA memiliki porsi penjualan domestik,” kata dia. 

Kewajiban mengisi suplai domestik yakni dengan pasar obligasi, biaya logistik, bahan bakar serta investasi yang dapat berpengaruh oleh kurs. Menurut dia, pelemahan rupiah lebih menguntungkan untuk emiten batu bara yang memiliki porsi ekspor lebih besar, biaya rupiah dominan, utang valas rendah dan efisiensi operasi yang kuat. Sehingga tidak semua perusahaan bara dan energi menguat di tengah pelemahan mata uang ini.

“Pendapatan ekspor memang naik dari denominasi rupiah. Tapi biaya operasionalnya bisa ikut naik,” ujar dia.

Syafrudin tidak memungkiri, bahwa BUMN sektor energi memiliki peran strategis untuk menyangga ekonomi ketika rupiah melemah. “Perusahaan seperti PTBA, Pertamina, PLN, anggota MIND ID dan entitas tambang lain berperan melalui penerimaan negara, dividen, pajak, royalti, belanja investasi, serapan tenaga kerja dan pasokan energi domestik,” ucap dia.

Sementara peran BUMN sendiri dalam menghasilkan pendapatan dolar dinilai membantu memperkuat devisa. “Devisa dari ekspor batu bara dapat membantu menahan pelebaran tekanan akibat impor energi seperti LPG dan minyak,” ujar dia. 

Peran tersebut penting, namun harus dikelola secara disiplin. Syafruddin meminta BUMN untuk tidak hanya mengejar keuntungan kurs jangka pendek. Namun, tetap menjaga pasokan domestik. Memperkuat hilirisasi yang layak, mengelola utang valas dan memastikan manfaat ekspor benar-benar mendukung stabilitas fiskal serta nilai tukar.

Pelemahan rupiah dapat menjadi peluang bagi Indonesia sebagai produsen batu bara karena membuat pendapatan ekspor dalam rupiah lebih besar dan memperkuat daya saing harga.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".