Logo
>

LPCK Berbalik Laba Rp215 Miliar, Saham Uji Area 800

Pendapatan melonjak ke Rp4,52 triliun dan laba usaha berbalik positif, namun saham LPCK bergerak fluktuatif di kisaran 775–840 dan ditutup melemah di area 800.

Ditulis oleh Yunila Wati
LPCK Berbalik Laba Rp215 Miliar, Saham Uji Area 800
Meskipun mencatatkan kinerja keuangan yang membaik, namun pergerakan saham sedikit tertekan, (Foto: Dok Lippo Cikarang)

KABARBURSA.COM - PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) mencatat pembalikan kinerja signifikan sepanjang tahun buku 2025, setelah pada tahun sebelumnya membukukan kerugian besar. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dipublikasikan pada Senin, 2 Maret 2026, LPCK berhasil meningkatkan pendapatan, membalikkan rugi usaha menjadi laba usaha, serta mencetak laba bersih.

Pendapatan LPCK pada 2025 tercatat sebesar Rp4,52 triliun, melonjak 132,5 persen dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp1,94 triliun. Kenaikan lebih dari dua kali lipat tersebut menjadi pendorong utama perbaikan struktur laba. 

Setelah dikurangi beban pokok pendapatan dan beban pajak final, laba bruto tercatat Rp682,9 miliar, naik 28,2 persen dibandingkan Rp532,7 miliar pada tahun sebelumnya.

Perbaikan kinerja operasional tercermin pada laba usaha yang berbalik positif. Jika pada 2024 LPCK mencatat rugi usaha sebesar Rp1,53 triliun, maka pada 2025 perseroan membukukan laba usaha Rp240,3 miliar. 

Perubahan ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam struktur biaya dan pengakuan pendapatan proyek.

Perbaikan berlanjut hingga ke laba bersih. LPCK mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp215,8 miliar pada 2025. Posisi ini berbanding terbalik dengan kerugian Rp1,62 triliun pada 2024. Dengan capaian tersebut, laba per saham (earnings per share/EPS) tercatat Rp48 per lembar, membaik dibandingkan EPS negatif Rp602 per lembar pada tahun sebelumnya.

Dari sisi neraca, total aset LPCK tercatat sebesar Rp11,17 triliun pada akhir 2025, turun dari Rp13,61 triliun pada akhir 2024. Penurunan terutama terjadi pada kas dan setara kas yang menyusut dari Rp675 miliar menjadi Rp247,5 miliar, serta persediaan yang turun dari Rp10,41 triliun menjadi Rp8,40 triliun. 

Penurunan persediaan ini sejalan dengan pengakuan pendapatan atas proyek-proyek yang telah berjalan.

Di sisi lain, total liabilitas turun signifikan sebesar 41 persen, dari Rp7,64 triliun menjadi Rp4,50 triliun. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya liabilitas kontrak jangka pendek maupun jangka panjang, yang mencerminkan realisasi proyek dan pengakuan pendapatan. 

Dengan penurunan liabilitas tersebut, struktur permodalan perseroan mengalami perbaikan.

Total ekuitas meningkat dari Rp5,97 triliun menjadi Rp6,67 triliun atau naik 11,7 persen pada akhir 2025. Kenaikan ekuitas didukung oleh perolehan laba bersih tahun berjalan serta penyelesaian aksi korporasi berupa penawaran umum terbatas (rights issue).

Namun demikian, laporan arus kas menunjukkan dinamika berbeda. Arus kas dari aktivitas operasional tercatat negatif Rp928,9 miliar pada 2025, berbalik dari posisi positif Rp81,4 miliar pada 2024. 

Kondisi ini dipengaruhi oleh menurunnya penerimaan dari pelanggan serta meningkatnya pembayaran kepada pemasok dan pihak terkait. Dampaknya tercermin pada saldo kas akhir tahun yang turun menjadi Rp247,5 miliar.

Secara keseluruhan, kinerja keuangan LPCK pada 2025 menunjukkan pemulihan pada sisi pendapatan dan profitabilitas, disertai perbaikan struktur liabilitas dan peningkatan ekuitas, meski di tengah tekanan pada arus kas operasional dan penurunan posisi kas pada akhir periode.

LPCK Masuk Fase Konsolidasi

Sementara itu, pergerakan saham PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) dalam sepekan terakhir menunjukkan fase konsolidasi setelah sebelumnya mengalami lonjakan tajam pada awal Februari 2026. 

Berdasarkan data historis harian, pada 24 Februari 2026 saham ini ditutup di level 835 atau naik 2,45 persen dengan nilai transaksi Rp13,83 miliar dan volume 158,7 ribu lot. Kenaikan tersebut diikuti fluktuasi moderat pada hari-hari berikutnya.

Pada 25 Februari 2026, LPCK terkoreksi ke level 820 atau turun 1,80 persen dengan nilai transaksi Rp4,46 miliar. Tekanan berlanjut pada 26 Februari 2026 ke level 810 atau minus 1,22 persen, sebelum kembali menguat pada 27 Februari 2026 ke level 830 atau naik 2,47 persen. 

Secara intraday pada 2 Maret 2026, LPCK dibuka di level 785, sama dengan harga pembukaan yang tercatat di data perdagangan. Saham sempat bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi 840, sebelum berbalik turun dan menyentuh level terendah 775. 

Hingga menjelang akhir sesi, harga berada di kisaran 800 atau turun 30 poin setara 3,61 persen dari harga sebelumnya 830. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp3,7 miliar dengan rata-rata harga di 812.

Rentang pergerakan antara 775 hingga 840 dalam satu hari mencerminkan volatilitas yang relatif lebar, dengan tekanan jual yang muncul setelah penguatan awal sesi. Posisi harga penutupan di bawah rata-rata transaksi harian menunjukkan bahwa tekanan lebih dominan pada paruh kedua perdagangan.

Jika dilihat dalam konteks grafik harian, LPCK sebelumnya mencatat lonjakan signifikan hingga mendekati area 1.100 pada awal Februari sebelum mengalami koreksi dan bergerak konsolidatif di rentang 750–900. 

Pergerakan sepekan terakhir memperlihatkan kecenderungan harga bertahan di area 800-an sebelum akhirnya turun kembali ke bawah 800 pada perdagangan 2 Maret 2026.

Dengan penutupan di area 795–800 dan nilai transaksi yang lebih rendah dibandingkan lonjakan volume pada fase kenaikan sebelumnya, pergerakan hingga akhir perdagangan hari ini menunjukkan fase penyesuaian harga setelah volatilitas yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79