Logo
>

Mencari Saham Dividen yang Konsisten, Bukan Sekadar Menggoda

Strategi dividend investing dinilai cocok bagi investor ritel pemula yang ingin menekan risiko emosi, dengan fokus pada laba, konsistensi dividen, dan valuasi wajar.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Mencari Saham Dividen yang Konsisten, Bukan Sekadar Menggoda
Dividend investing menawarkan strategi tenang bagi investor ritel dengan fokus laba, konsistensi dividen, dan valuasi wajar, bukan sekadar yield tinggi. Foto: Dok. KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Di tengah hiruk-pikuk pasar saham, pertanyaan paling klasik tetap berulang. Mau trading atau mau investasi. Di kolom-kolom diskusi investor ritel, terutama yang baru masuk, kebingungan ini hampir selalu muncul lebih dulu sebelum bicara untung-rugi. Grafik naik-turun, indikator teknikal, sampai istilah asing yang terasa seperti bahasa planet lain.

    Di titik itulah dividend investing kerap ditawarkan sebagai jalan yang lebih tenang. Tidak ribet membaca indikator, tidak harus menatap layar setiap menit. Logikanya sederhana. Selama perusahaan mencetak laba dan membagikan dividen, investor tinggal mencicil kepemilikan.

    “Beli saham hanya yang bagi dividen dan cetak laba. Jadi ndak pusing mikirin indikator, teknikal dll,” kata Founder Pintar Saham, Anak Agung Ngurah Mustakawarman, dalam keterangan tertulis, Selasa, 20 Januari 2026.

    Namun, ia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan soal hitung-hitungan, melainkan emosi. “Yang susah itu kalau laba anjlok dan tidak bisa mengatasi rasa iri akibat melihat porto tetangga lebih ijo,” katanya.

    Dividend investing, dalam pandangan ini, bukan strategi pasif. Ia menuntut disiplin yang sering kali justru lebih berat dibanding trading harian.

    Untuk menghindari jebakan dividen semu, Ngurah menyusun pendekatan skrining yang ketat. Bukan hanya sekadar mengejar yield tinggi, tetapi memaksa investor melihat mesin uang di balik angka.

    Rumusnya dimulai dari semesta saham IHSG, lalu disaring dengan lima kriteria. Dividend yield minimal 3 persen, dividen dibagikan konsisten minimal dua tahun, laba bersih tahun berjalan positif, serta valuasi yang tidak terlalu mahal dengan PE annualised di bawah 25.

    Tujuannya pertama, memastikan imbal hasil dividen punya peluang mengalahkan bunga deposito. Kedua, memastikan dividen bukan kejadian satu kali. Ketiga, mengurangi risiko dividen dibayar dari utang. Dan keempat, menghindari membeli saham mahal hanya karena yield terlihat manis.

    “Dividen besar itu sering jadi umpan yang bikin investor lupa lihat mesin uangnya,” katanya. “Yield 16,04 persen memang menggoda, tapi pasar jarang kasih hadiah tanpa alasan.”

    Karena itu, screener ini sengaja menggabungkan yield, konsistensi, laba, dan valuasi sekaligus. Angkanya jadi lebih adil untuk dibandingkan, bukan sekadar terlihat cantik di satu sisi.

    Sembilan Emiten yang Memenuhi Kriteria

    Dari hasil penyaringan itu, muncul sembilan emiten yang lolos seluruh kriteria. Angkanya tidak main-main. Dividend yield bergerak dari 11,13 persen hingga 16,04 persen, dengan rata-rata 13,15 persen. PE annualised mayoritas masih single digit, berkisar 5,27 sampai 15,25.

    1. Sembilan emiten yang dimaksud adalah:
      Matahari Department Store Tbk (LPPF)
    2. Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
    3. Bukit Asam Tbk (PTBA)
    4. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
    5. Trans Power Marine Tbk (TPMA)
    6. Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS)
    7. Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR)
    8. Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX)
    9. Panca Budi Idaman Tbk (PBID)


    Selain itu, net income year to date kesembilan emiten tersebut pun beragam, dari ratusan miliar hingga hampir Rp5 triliun. Artinya, yang lolos bukan hanya raksasa lama, tapi juga pemain menengah dengan laba yang masih “hidup”. Streak pembayaran dividen pun cukup panjang, dari empat tahun hingga 17 tahun berturut-turut.

    Harga sahamnya juga campur aduk, mulai dari ratusan rupiah hingga puluhan ribu. Ini menunjukkan bahwa strategi dividen tidak eksklusif untuk saham mahal atau murah saja.

    Jika ditarik lebih dalam, kombinasi angka-angka ini membentuk dua karakter ekstrem. Ada saham dengan yield sangat tinggi dan PE sangat rendah, seperti LPPF. Dividend yield 16,04 persen, PE hanya 5,27, tetapi streak baru lima tahun. Menggoda, tapi belum setua pemain mapan.

    Di sisi lain, ada trio dengan streak 17 tahun, ADRO, PTBA, dan ITMG. Kebiasaan membayar dividennya jauh lebih mapan, tetapi profil labanya berbeda jauh. ADRO mencatat laba hampir Rp5 triliun, ITMG Rp2,14 triliun, dan PTBA Rp1,39 triliun.

    Menariknya, PTBA justru memiliki PE paling tinggi di antara sembilan nama itu. Investor membayar lebih mahal per unit laba, meski yield tetap dua digit.

    Yield Tinggi Tidak Selalu Aman

    Satu lapisan lain yang sering luput diperhatikan adalah hubungan antara dividend yield dan earnings yield yang tersirat dari PE. Pada beberapa emiten, dividend yield jauh lebih tinggi daripada earnings yield. Ini bisa berarti pembagian dividen sangat agresif atau ada faktor non-rutin yang menopang.

    Sebaliknya, ada saham yang dividend yield-nya masih di bawah earnings yield. Secara teori terasa lebih tertutup oleh laba, meski tetap bukan jaminan aman.

    “Intinya, screener ini sudah memilih kandidat yang tampak menarik, tetapi karakter risikonya tetap berbeda walau sama-sama lolos,” kata Ngurah.

    Di sinilah investor dividen diuji. Angka boleh sama-sama cantik, tetapi ceritanya bisa sangat berbeda.

    Dividend investing, dalam sudut pandang ini, bukan soal mencari yang paling tinggi, melainkan yang paling masuk akal untuk ditahan. Pasar bisa berubah, laba bisa turun, dan sentimen bisa berbalik. Tapi disiplin menyaring sejak awal memberi peluang lebih besar untuk bertahan.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).