KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah menguat sekitar 1 persen pada perdagangan Kamis. Kenaikan itu terasa terbatas. Untuk hari kedua secara beruntun, harga masih tertahan di bawah ambang psikologis USD100 per barel, di tengah volatilitas pasar yang dipicu eskalasi konflik Timur Tengah serta munculnya sinyal diplomatik baru antara Israel dan Lebanon.
Minyak mentah berjangka Brent—acuan internasional—ditutup naik USD1,17 atau 1,2 persen ke level USD95,92 per barel, setelah sempat menyentuh puncak intraday di USD99,50, merujuk laporan Reuters dari New York, Jumat 10 April 2026 pagi WIB. Di sisi lain, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan Amerika Serikat melonjak USD3,46 atau 3,7 persen menjadi USD97,87 per barel, meski masih terpaut cukup jauh dari level tertinggi hariannya di USD102,70.
Pergerakan harga yang fluktuatif mencerminkan respons pasar terhadap dinamika konflik kawasan. Pada awal sesi, kekhawatiran atas ketahanan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran sempat mendorong harga melesat lebih dari 5 persen. Kekhawatiran gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan tersebut.
Namun, reli itu tak berlangsung lama. Sentimen berubah setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan instruksi kepada pejabatnya untuk segera membuka negosiasi damai langsung dengan Lebanon. Agenda tersebut mencakup pembahasan sensitif, termasuk pelucutan senjata kelompok Hizbullah.
Pada sesi sebelumnya, kedua acuan minyak sempat tergelincir di bawah USD100 per barel. Bahkan, WTI mencatat penurunan harian paling tajam sejak April 2020. Pelemahan ini dipicu oleh harapan bahwa gencatan senjata dapat membuka kembali jalur distribusi energi global yang krusial.
Meski demikian, efektivitas gencatan senjata masih diragukan. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan anjlok drastis menjadi kurang dari 10 persen dari volume normal pada Kamis, setelah Iran memperingatkan kapal agar tetap berada di perairan teritorialnya. Situasi ini bahkan mendorong harga fisik sejumlah jenis minyak mencapai rekor tertinggi baru.
Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital energi dunia. Jalur ini menghubungkan ekspor dari negara-negara Teluk seperti Irak, Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar ke pasar global, dengan kontribusi sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dan gas dunia.
Kekhawatiran pasar kian meningkat setelah muncul laporan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Produksi minyak negara tersebut dilaporkan menyusut sekitar 600.000 barel per hari, sementara aliran melalui pipa East-West Pipeline berkurang sekitar 700.000 barel per hari. Informasi ini bahkan mendorong harga minyak kembali naik lebih dari USD1 per barel dalam perdagangan setelah penutupan.
Pelaku pasar menilai dampak gangguan ini tidak akan pulih dalam waktu singkat. Bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka, fleksibilitas ekspor Arab Saudi diperkirakan masih terganggu selama beberapa pekan, ujar Shohruh Zukhritdinov, trader minyak berbasis di Dubai.
Ketegangan di lapangan juga belum mereda. Israel kembali melancarkan serangan ke Lebanon, memperbesar risiko runtuhnya gencatan senjata. Di sisi lain, Iran dilaporkan terus menargetkan fasilitas energi di kawasan, termasuk jalur pipa di Arab Saudi yang selama ini menjadi alternatif distribusi di luar Selat Hormuz.
Risiko keamanan menjadi perhatian serius bagi industri pelayaran. Kapal tanker diperkirakan harus melintasi perairan berisiko tinggi—dengan potensi ranjau dan pengamanan militer ketat—yang pada akhirnya mendorong kenaikan premi asuransi serta biaya pengiriman.
Negara-negara Teluk seperti Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab juga melaporkan serangan rudal dan drone. Fakta ini mempertegas bahwa ketegangan geopolitik belum mereda.
Di tengah ketidakpastian tersebut, bank investasi Goldman Sachs merevisi turun proyeksi harga minyak untuk kuartal II 2026. Brent kini diperkirakan berada di kisaran USD90 per barel, sementara WTI di USD87, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang masing-masing berada di USD99 dan USD91 per barel.(*)