Logo
>

Moody's Sematkan Baa2 Outlook Negatif ke Danantara Investment, ini Penyebabnya!

Lembaga pemeringkat global Moody's Ratings menetapkan peringkat Baa2 untuk PT Danantara Investment Management.

Ditulis oleh Syahrianto
Moody's Sematkan Baa2 Outlook Negatif ke Danantara Investment, ini Penyebabnya!
Lembaga pemeringkat global Moody's Ratings menyematkan peringkat emiten Baa2 untuk PT Danantara Investment Management (DIM). (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Lembaga pemeringkat global Moody's Ratings menyematkan peringkat emiten Baa2 untuk PT Danantara Investment Management (DIM). 

Peringkat perdana ini sayangnya dibarengi dengan penetapan prospek atau outlook negatif. Ketetapan lembaga internasional ini berjalan seirama dengan prospek peringkat kedaulatan utang pemerintah Indonesia.

Vice President dan Analis Senior Moody's Ratings, Rachel Chua, membeberkan dasar analisis dari pemberian peringkat tersebut. Ia menyebut keputusan lembaganya mencerminkan kuatnya hubungan kredit antara DIM dan entitas negara. Hubungan erat ini mencakup struktur kepemilikan perseroan di dalam kerangka institusional Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

"Peringkat emiten Baa2 Danantara Investment Management dengan prospek negatif ini diselaraskan dengan peringkat kedaulatan pemerintah Indonesia," kata Rachel dalam keterangan resminya, Rabu, 3 Juni 2026. 

Ia menegaskan penyelarasan ini didukung oleh ekspektasi para pelaku pasar. Ekspektasi tersebut menyoroti adanya dukungan luar biasa dan tepat waktu dari pihak pemerintah.

Peringkat sementara Baa2 juga berlaku untuk program surat utang jangka menengah global senior tanpa jaminan perseroan. Instrumen utang ini masuk ke dalam rencana besar pendanaan korporasi. Seluruh prospek penerbitan ragam surat utang tersebut tetap dikategorikan negatif oleh para analis.

Moody's secara resmi mengklasifikasikan DIM sebagai emiten yang memiliki keterkaitan langsung dengan pemerintah. Lembaga pemeringkat ini menerapkan pendekatan langsung dari atas ke bawah untuk menilai perseroan. Penilaian kredit dasar mandiri tidak diberikan karena DIM masih berada pada tahap awal pengembangan bisnis.

Rekam jejak operasi bisnis DIM yang masih terbatas menjadi alasan kuat lainnya bagi Moody's. Perusahaan sejauh ini tercatat belum memiliki operasi komersial mandiri yang cukup signifikan.

"Oleh karena itu, peringkat ini utamanya didorong oleh keterkaitan kedaulatan alih-alih kekuatan kredit mandiri," ujar Rachel menjelaskan landasan utama analisis lembaganya. 

Integrasi tata kelola antarlembaga menjadi bahan pertimbangan penting dalam menyusun peringkat ini. Moody's mengamati adanya posisi ganda pada struktur manajemen senior dan perwakilan dewan antara BPI Danantara dengan DIM. Kondisi birokrasi ini sangat mendukung keselarasan strategi dan eksekusi investasi di lapangan.

Anggaran tahunan DIM juga langsung dikonsolidasikan ke dalam struktur anggaran besar BPI Danantara. Proses penggabungan keuangan ini mendapat persetujuan mutlak dari 11 anggota Dewan Pengawas BPI Danantara. Sembilan menteri aktif yang menjabat turut mengawasi alokasi sumber daya serta arah prioritas perusahaan.

Kerangka hukum domestik ikut mewajibkan konsultasi rencana kerja dan anggaran DIM bersama Dewan Perwakilan Rakyat. Keputusan investasi DIM pada berbagai proyek harus selalu melewati tahapan persetujuan bertingkat. Proses ketat ini bergulir dari Komite Investasi internal, Direksi, Dewan Komisaris, hingga BPI Danantara sebagai pemegang saham tunggal.

Skema persetujuan berlapis tersebut dipastikan selalu menyesuaikan dengan ukuran maupun nilai transaksi setiap investasi. "Sehingga memperkuat kedalaman pengawasan terhadap aktivitas investasi DIM," kata Rachel menambahkan pandangan analisisnya. Skema penyaringan proyek ini menjamin kehati-hatian dalam setiap langkah strategis perusahaan.

Integrasi keuangan yang sangat solid menopang posisi likuiditas perseroan secara maksimal. BPI Danantara mengumpulkan dana segar berupa dividen dari berbagai perusahaan pelat merah untuk disuntikkan ke DIM. Dana abadi ini kemudian berputar sebagai modal utama berbagai penempatan investasi strategis.

BPI Danantara telah sukses menyuntikkan modal awal sebesar Rp70 triliun ke DIM pada tahun 2025. Tambahan modal segar senilai Rp50 triliun direncanakan kembali cair secara bertahap pada tahun 2026 mendatang. Dewan pengawas juga memegang wewenang penuh untuk menunjuk BPI Danantara sebagai penjamin langsung bagi DIM.

Likuiditas DIM masuk dalam kategori sangat baik berkat sokongan modal internal yang melimpah. Perusahaan investasi ini juga sudah berhasil membangun saluran pendanaan eksternal yang kredibel.

"DIM tidak memiliki kewajiban untuk membayar dividen dan tidak memiliki utang yang jatuh tempo dalam dua hingga tiga tahun ke depan," ujar Rachel merinci kondisi kesehatan kas perseroan. 

Hingga saat ini, DIM berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp68,4 triliun lewat penerbitan instrumen Obligasi Patriot. Perseroan juga berhasil mengamankan fasilitas kredit bergulir dengan nilai fantastis mencapai USD10 miliar. Sebagian dana pinjaman ini dialokasikan untuk membiayai proyek investasi seperti reksa dana swasta dan sektor properti.

Sebanyak 1 miliar dolar AS dari total fasilitas kredit tersebut saat ini sudah berstatus komitmen penuh. Manajemen memastikan sisa plafon kredit akan ditarik secara bertahap seiring membesarnya skala investasi. Langkah taktis ini membuktikan tingginya fleksibilitas perseroan dalam meramu ketersediaan arus kas.

Moody's kembali menegaskan status kepemilikan penuh pemerintah mendasari terbitnya peringkat kredit khusus ini. Pemerintah memegang kendali penuh dan pengawasan ketat atas seluruh strategi pengelolaan pendanaan investasi. Kehadiran negara sebagai aktor dominan ini memicu kuatnya ekspektasi pasar akan jaminan kelancaran bisnis DIM.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.