Logo
>

Moody’s Tekan IHSG Hingga ke Level 7.874, Masih Ada Peluang Bangkit?

IHSG tertekan tajam di sesi pertama usai Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia, dengan tekanan jual merata dan level 8.000 kini menjadi area psikologis yang berat.

Ditulis oleh Yunila Wati
Moody’s Tekan IHSG Hingga ke Level 7.874, Masih Ada Peluang Bangkit?
IHSG bergerak melemah, kembali turun ke level 7.000-an. Foto: Dok KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Tekanan kuat menyelimuti pasar saham domestik pada perdagangan sesi pertama Jumat, 6 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok tajam ke zona merah. 

IHSG ambles 229 poin atau 2,83 persen ke level 7.874, pelemahan intraday terdalam dalam beberapa pekan terakhir. Aksi jual berlangsung luas dan cepat sejak pembukaan, pasar merespons dengan defensif terhadap memburuknya sentimen global dan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset Indonesia.

Pemicu utama datang dari keputusan Moody’s yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Perubahan outlook ini langsung diterjemahkan pelaku pasar sebagai sinyal peningkatan risiko makro dan fiskal ke depan, sehingga mendorong aksi pengurangan eksposur pada aset berisiko domestik. 

Dampaknya terlihat jelas pada pola perdagangan sesi pagi yang cenderung satu arah, dengan tekanan jual merata di hampir seluruh lapisan saham.

Aktivitas transaksi berlangsung cukup ramai, dengan volume mencapai 222,3 juta lot dan nilai transaksi sebesar Rp10,46 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa pelemahan tidak terjadi dalam kondisi sepi, melainkan disertai perpindahan posisi yang aktif, baik dari investor jangka pendek maupun pelaku pasar yang memilih bersikap lebih defensif. 

Di jajaran saham LQ45, tekanan paling berat menimpa saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang indeks, seperti BRPT, BUMI, SCMA, MBMA, MDKA, EMTK, dan ASII.

 Di tengah arus jual tersebut, hanya segelintir saham yang mampu bertahan di zona hijau, di antaranya AMRT, TLKM, dan MEDC, meski kontribusinya belum cukup untuk menahan laju penurunan indeks.

Tekanan paling dalam datang dari sektor konsumer siklikal yang anjlok 5,43 persen. Pasar sepertinya khawatir terhadap daya beli dan prospek permintaan di tengah tekanan eksternal. Saham-saham seperti ASII, UNTR, RALS, ERAA, IMAS, hingga MAPI bergerak serempak ke zona merah. 

Level 8.000 jadi Area Psikologis Berat

Jika dibaca dari struktur grafik harian, tekanan yang terjadi hari ini telah mematahkan pola kenaikan jangka pendek yang terbentuk sejak akhir 2025. Candle merah panjang dengan volume besar menunjukkan bahwa tekanan jual tidak hanya datang dari trader harian, tetapi juga dari pelaku pasar dengan horizon lebih panjang yang memilih mengurangi risiko. 

Lonjakan volume pada fase penurunan menandakan distribusi berlangsung agresif, bukan sekadar aksi ambil untung setelah reli.

Level 8.000 kini berubah menjadi area psikologis yang sangat berat. Pada sesi pagi, indeks sempat mendekati area ini namun langsung terpukul balik dengan tekanan jual lanjutan. Secara teknikal, zona 7.980–8.020 saat ini berfungsi sebagai resistance intraday yang kuat. 

Untuk bisa kembali ke atas 8.000 pada sesi sore, IHSG membutuhkan dorongan beli yang konsisten dan merata, bukan hanya pantulan teknikal sesaat. Dengan jarak hampir 130 poin dari posisi sekarang, rebound yang dibutuhkan tergolong besar untuk ukuran satu sesi di tengah sentimen negatif yang masih dominan.

Dari sisi aliran transaksi, karakter volume hari ini memperlihatkan bahwa setiap upaya rebound cepat langsung dimanfaatkan sebagai momentum jual. Pola ini biasanya muncul ketika pelaku pasar belum melihat alasan kuat untuk kembali masuk. 

Tekanan yang dipicu oleh penurunan outlook kredit Indonesia oleh Moody’s belum sepenuhnya terdiskon, sementara sentimen global masih rapuh seiring aksi jual di Wall Street dan volatilitas ekstrem di Asia. Kondisi ini membuat minat beli cenderung selektif dan defensif.

Secara teknikal jangka sangat pendek, area 7.850–7.870 menjadi penopang terdekat yang sedang diuji. Bertahannya IHSG di atas zona ini membuka peluang terjadinya technical rebound ke area 7.950–7.980 menjelang penutupan. 

Namun, selama indeks masih bergerak di bawah 8.000, rebound tersebut lebih tepat dibaca sebagai reaksi teknikal dalam tren turun intraday, bukan sinyal pemulihan yang utuh.

Struktur candlestick juga memperlihatkan bahwa tekanan hari ini telah membawa IHSG menjauh dari puncak sebelumnya di atas 8.300 dan mulai memasuki fase penyesuaian yang lebih dalam. 

Dalam konteks ini, peluang indeks langsung bangkit dan menutup sesi sore di atas 8.000 relatif terbatas, kecuali terjadi perubahan sentimen mendadak, misalnya dari stabilisasi bursa regional atau masuknya aliran beli besar pada saham-saham perbankan dan indeks berat lainnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79