Logo
>

MSCI Tak Banyak Mau, Mereka Cuma Minta Transparansi

Sorotan MSCI terhadap data kepemilikan investor membuka kembali isu tata kelola, free float, dan kredibilitas pasar saham Indonesia di mata global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
MSCI Tak Banyak Mau, Mereka Cuma Minta Transparansi
MSCI menyoroti transparansi data investor Indonesia. OJK, BEI, dan KSEI didorong memperbaiki pelaporan free float agar pasar tetap kredibel. Foto: Citywire

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Kegelisahan Morgan Stanley Capital International atau MSCI terhadap pasar saham Indonesia kian menemukan bentuknya. Bukan semata soal indeks atau bobot saham, melainkan perkara yang lebih mendasar bagaimana kepemilikan saham di Indonesia dicatat, dilaporkan, dan dipahami oleh investor global.

    Menurut pengamatan peneliti pasar modal dari Komunitas Pintar Saham, Skydrugz27, permintaan MSCI kepada Bursa Efek Indonesia dan Kustodian Sentral Efek Indonesia sejatinya sederhana. Intinya, pasar diminta lebih transparan soal komposisi investor.

    “Permintaan MSCI untuk BEI dan KSEI sebenarnya sederhana banget. Please, lebih transparan soal laporan komposisi investor,” kata Skydrugz27 dalam keterangan tertulis, Rabu, 28 Januari 2026.

    MSCI, dalam komunikasi resminya kepada pelaku pasar, memang mengakui bahwa sebagian investor global mendukung penggunaan Monthly Holding Composition Report milik KSEI sebagai data tambahan. Namun, laporan itu dinilai belum cukup menjawab kebutuhan utama. Kategorisasi pemegang saham yang disajikan KSEI dianggap belum andal untuk menilai free float dan kelayakan investasi secara akurat.

    Bagi Skydrugz27, persoalan ini bukan sekadar teknis pelaporan. Ia menilai ada masalah mendasar dalam keterbukaan data. “Itu artinya data KSEI dan BEI tipu-tipu aja, data nominee di KSEI disembunyikan,” katanya lugas.

    Kekhawatiran MSCI tidak berhenti di sana. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG juga dinilai menyimpan potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar. Dalam bahasa yang lebih gamblang, Skydrugz27 menyebut kondisi tersebut sebagai cerminan banyaknya saham gorengan di pasar domestik.

    “MSCI juga bilang, di IHSG itu banyak potensi perilaku perdagangan terkoordinasi. Itu artinya kebanyakan saham gorengan di IHSG,” ujarnya.

    Meski keras, ia menilai permintaan MSCI sebenarnya rasional. Bagi pasar yang ingin tetap terhubung dengan modal global, transparansi bukan tuntutan berlebihan. “Kalau saya lihat sih, permintaan MSCI ini sebenarnya masuk akal dan rasional,” kata Skydrugz27.

    Ia mempertanyakan mengapa permintaan tersebut terasa sulit dipenuhi. “Apa susahnya sih BEI dan KSEI ikuti permintaan MSCI agar lebih transparan melaporkan data kepemilikan saham agar sesuai standar internasional?” katanya.

    Menurutnya, jika otoritas pasar benar-benar jujur dan terbuka, permintaan ini justru mudah dilakukan. Kerumitan baru muncul bila ada kepentingan tertentu yang ingin dilindungi. “Yang susah itu adalah kalau ada kepentingan udang di balik bakwan. Apakah ada pihak di BEI dan KSEI yang coba melindungi bandar di IHSG? Hanya sekadar bertanya,” ujarnya.

    Di titik ini, MSCI bukan lagi sekadar indeks acuan. Bagi investor global besar seperti Vanguard, BlackRock, hingga JP Morgan, MSCI menjadi gerbang utama masuk ke sebuah pasar. Saham yang tidak masuk indeks sering kali otomatis tersingkir dari radar mereka.

    Kesadaran itulah yang, menurutnya, mendorong sebagian pelaku lokal menggoreng saham demi mengejar inklusi MSCI. Masuk indeks membuka banyak pintu. Mulai dari kemudahan repo saham, margin, gadai saham, rights issue, private placement, hingga exit liquidity. “Kalau masuk MSCI maka gampang repo saham, gampang margin saham, gampang cari exit liquidity,” katanya.

    Bagi investor ritel kecil, MSCI mungkin tidak terlalu relevan. Selama perusahaan mencetak laba, membagi dividen, dan valuasinya masuk akal, saham tetap bisa dikoleksi perlahan. Namun bagi bandar dengan kepemilikan besar, akses ke dana asing menjadi kebutuhan vital. Di situlah MSCI berperan sebagai penyedia likuiditas terakhir. “Bagi bandar lokal yang punya lot gede, mereka butuh dana asing untuk exit. Itulah kenapa MSCI adalah jawaban semua exit liquidity,” kata Skydrugz27.

    Masalahnya, menurut dia, MSCI kini mulai sadar akan peran tersebut dan tidak ingin terus menjadi penopang praktik yang dinilai merusak integritas pasar. “Masalahnya sekarang MSCI sudah menyadari hal itu dan mereka pun sudah capek jadi exit liquidity,” tulisnya.

    Di ujung analisisnya, Skydrugz27 menempatkan bola panas di tangan otoritas pasar. Pilihannya tegas. “Sekarang tinggal tunggu keputusan BEI dan KSEI. Mau ikut maunya MSCI atau ikut maunya konsorsium bandar lokal?” tulis Skydrugz27.

    Di tengah gejolak pasar dan anjloknya indeks, pertanyaan itu menjadi relevan. Apakah kegelisahan MSCI akan dijawab dengan reformasi transparansi, atau justru dibiarkan mengendap sebagai sumber ketidakpastian baru di pasar saham Indonesia.

    MSCI Tahan Penyesuaian Indeks

    Sebagai latar belakang, kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan hari ini tak bisa dilepaskan dari pengumuman terbaru MSCI terkait evaluasi free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. Pernyataan tersebut langsung menjadi katalis tekanan jual karena menyentuh isu sensitif, yakni transparansi kepemilikan saham di pasar domestik.

    Dalam keterangannya, MSCI mengakui adanya perbaikan terbatas pada data free float yang disampaikan Bursa Efek Indonesia. Namun, menurut mereka, langkah tersebut belum cukup meredakan kekhawatiran investor global. Struktur kepemilikan saham di Indonesia masih dinilai belum sepenuhnya transparan dan sulit dipetakan secara akurat.

    MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global sebenarnya mendukung pemanfaatan laporan Monthly Holding Composition Report yang diterbitkan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai sumber data tambahan. Meski demikian, banyak investor internasional masih menyimpan keraguan besar terhadap sistem kategorisasi pemegang saham yang digunakan KSEI. Klasifikasi tersebut dinilai belum cukup andal untuk menjadi dasar penilaian free float maupun kelayakan investasi.

    Lebih jauh, MSCI menilai persoalan inti tidak hanya berhenti pada kualitas data. Keterbatasan transparansi kepemilikan saham dinilai membuka ruang bagi potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu proses pembentukan harga wajar di pasar. Karena itu, MSCI menekankan perlunya informasi kepemilikan yang lebih rinci dan dapat dipercaya, termasuk pemantauan tingkat konsentrasi kepemilikan saham, agar penilaian free float bisa dilakukan secara lebih kuat dan konsisten.

    “Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera,” sebagaimana disampaikan dalam pengumuman di situs resminya.

    Kebijakan sementara tersebut, menurut MSCI, ditempuh untuk meredam risiko perputaran indeks sekaligus menjaga aspek investabilitas pasar Indonesia, sembari menunggu adanya perbaikan konkret dalam hal transparansi dari otoritas pasar.

    Dalam implementasinya, MSCI memutuskan untuk membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor dan jumlah saham atau Number of Shares, baik yang berasal dari hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, MSCI juga tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes serta menahan perpindahan naik antar segmen ukuran, termasuk migrasi dari Small Cap ke Standard.

    Dengan kebijakan tersebut, terbuka kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia di dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI juga membuka opsi lebih jauh berupa potensi reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, meskipun langkah tersebut tetap akan melalui proses konsultasi dengan pelaku pasar terlebih dahulu.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).