Logo
>

Nasdaq dan S&P 500 Melemah, Saham Pertahanan Cetak Rekor Baru

Di sisi lain, saham sektor pertahanan justru menguat setelah Presiden Donald Trump menyerukan anggaran militer sebesar USD1,5 triliun

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Nasdaq dan S&P 500 Melemah, Saham Pertahanan Cetak Rekor Baru
Ilustrasi wall street. Foto: dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup melemah pada perdagangan Kamis, seiring tekanan dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Di sisi lain, saham sektor pertahanan justru menguat setelah Presiden Donald Trump menyerukan anggaran militer sebesar USD1,5 triliun.

    Saham teknologi mengalami penurunan tajam. Indeks sektor teknologi terkoreksi lebih dari 1,5 persen, menjadikannya salah satu sektor dengan kinerja terburuk hari itu. Saham Nvidia, Apple, Microsoft, dan Broadcom masing-masing turun di kisaran 1,1 persen hingga 2,1 persen, memberikan tekanan signifikan terhadap pergerakan indeks utama.

    Di tengah pelemahan tersebut, saham Alphabet justru menguat 0,7 persen. Kenaikan ini terjadi setelah induk Google tersebut pada Rabu berhasil melampaui Apple dalam kapitalisasi pasar untuk pertama kalinya sejak 2019, sekaligus menempatkannya sebagai perusahaan terbesar kedua di Amerika Serikat.

    Perhatian investor pada Kamis juga tertuju pada saham-saham pertahanan. Trump menyatakan bahwa anggaran militer Amerika Serikat untuk tahun 2027 seharusnya mencapai USD1,5 triliun, jauh di atas anggaran USD 901 miliar yang telah disetujui Kongres untuk tahun 2026.

    Sejumlah saham di sektor ini melonjak tajam. RTX naik 4,4 persen, Lockheed Martin menguat 8 persen, Northrop Grumman melonjak 9,5 persen, dan Kratos Defense mencatat kenaikan signifikan sebesar 16,4 persen. Secara keseluruhan, indeks kedirgantaraan dan pertahanan menguat 3,5 persen dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

    Penguatan tersebut terjadi setelah saham-saham pertahanan sempat tertekan pada Rabu, menyusul ancaman Trump untuk memblokir kontraktor pertahanan agar tidak membagikan dividen atau melakukan pembelian kembali saham hingga mereka mempercepat produksi persenjataan. Seperti dikutip reuters.

    Perkembangan ini muncul beberapa hari setelah pasukan militer AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Gedung Putih juga mengungkapkan pada Selasa bahwa Trump tengah membahas berbagai opsi terkait kemungkinan akuisisi Greenland.

    Pada pukul 09.52 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average naik 37,23 poin atau 0,08 persen ke level 49.033,31. Sementara itu, S&P 500 turun 6,27 poin atau 0,09 persen ke 6.914,66, dan Nasdaq Composite merosot 142,39 poin atau 0,58 persen ke posisi 23.448,17.

    Pergerakan ini mengikuti sesi perdagangan Rabu yang beragam. Saat itu, S&P 500 dan Dow Jones mundur dari rekor tertinggi dan ditutup melemah, sedangkan Nasdaq mampu bertahan berkat optimisme investor terhadap saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan.

    Dari sisi data ekonomi, jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim baru tunjangan pengangguran meningkat secara moderat pada pekan lalu. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pemutusan hubungan kerja masih relatif rendah pada akhir 2025, meskipun permintaan tenaga kerja tetap lesu.

    Merujuk pada laporan ADP yang dirilis Rabu, kepala strategi investasi CFRA Research Sam Stovall mengatakan bahwa kedua indikator tersebut menunjukkan pelunakan kondisi pasar tenaga kerja. Situasi ini menjadi sumber kekhawatiran pasar menjelang rilis data ketenagakerjaan pada Jumat.

    Laporan terpisah pada Rabu juga menggambarkan kondisi yang lemah, dengan jumlah lowongan pekerjaan di AS turun ke level terendah dalam 14 bulan, sementara aktivitas perekrutan masih berjalan lamban.

    Fokus utama pasar pekan ini tertuju pada laporan penggajian non-pertanian bulan Desember yang akan dirilis Jumat. Data tersebut dipandang sebagai salah satu indikator paling dapat diandalkan setelah penutupan pemerintahan AS terpanjang dalam sejarah.

    Di sisi lain, Fitch menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 2,1 persen pada 2025 dan memproyeksikan pertumbuhan sebesar 2,0 persen pada 2026, setelah memasukkan data ekonomi yang sebelumnya tertunda akibat penutupan pemerintah tahun lalu.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.