Logo
>

Analis Ungkap Penyebab IHSG Tertinggal dari Pasar Global

Tekanan rupiah, sorotan MSCI terhadap free float, dan minimnya peningkatan bobot saham Indonesia di indeks global dinilai menjadi faktor utama yang membuat IHSG tertinggal dari pasar negara berkembang lainnya.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Analis Ungkap Penyebab IHSG Tertinggal dari Pasar Global
Papan pantau IHSG di Bursa Efek Indonesia Foto: KabarBursa.com/Desty Luthfiani.

KABARBURSA.COM – Pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan yang membuat kinerjanya tertinggal dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya. Di tengah penguatan pasar global dan emerging markets, investor masih dibayangi sejumlah persoalan domestik, mulai dari pelemahan rupiah hingga sorotan indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap aspek free float dan kemudahan investasi di pasar modal Indonesia.

Dalam paparan Samuel Tumbuh Bersama yang disampaikan pada Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, Kamis, 4 Juni 2026, Head of Equity Sales PT Samuel Sekuritas Indonesia Tae Yong Shim mengungkapkan bahwa pasar saham Indonesia bergerak berlawanan arah dengan mayoritas pasar negara berkembang.

"Emerging market secara umum sedang bergerak positif, tetapi Indonesia justru bergerak berlawanan arah. Ketika MSCI EM naik 22,5 persen dan MSCI World naik 9,0 persen, pasar Indonesia masih turun 29,1 persen. Ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar domestik masih cukup kuat," ujar Tae Yong dalam keterangan tertulisnya dikutip Jumat, 5 Juni 2026.

Menurut dia, salah satu faktor yang masih menahan pemulihan pasar adalah perhatian MSCI terhadap kualitas dan keterbukaan pasar modal Indonesia.

Dalam kajian tersebut, MSCI masih menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, keandalan data free float, serta jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan investor di pasar.

"Isu MSCI menjadi penting karena berdampak langsung pada persepsi investor global. Ketika transparansi free float dan investability masih dipertanyakan, investor cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk lebih agresif ke pasar Indonesia," katanya.

Tae Yong menjelaskan pasar Indonesia membutuhkan tiga faktor utama untuk kembali memperoleh penilaian lebih baik dari investor global, yakni likuiditas yang memadai, pertumbuhan laba korporasi, dan dukungan kebijakan yang kondusif.

Dari sisi fundamental, kondisi emiten sebenarnya masih menunjukkan perbaikan. Proyeksi Weighted Earnings Per Share (EPS) indeks LQ45 diperkirakan meningkat dari 61,7 pada 2025 menjadi 66,7 pada 2026 dan kembali naik menjadi 76,0 pada 2027.

Meski demikian, perhatian investor masih tertuju pada hasil tinjauan MSCI. Dalam review Mei 2026, MSCI belum memberikan kenaikan bobot saham Indonesia, tidak menambahkan emiten baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak melakukan peningkatan status saham dari kategori Small Cap ke Standard Index.

"Isu MSCI perlu diperhatikan karena ini bukan hanya soal persepsi. Dalam review Mei 2026, MSCI masih tidak memberikan kenaikan bobot, tidak menambah saham baru, dan tidak melakukan upgrade dari Small Cap ke Standard Index," ujar Tae Yong.

Ia juga mengingatkan adanya risiko terhadap saham-saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi. Dalam kondisi tertentu, MSCI dapat menggunakan data pemegang saham di atas 1 persen untuk menghitung ulang free float yang berpotensi memengaruhi posisi saham dalam indeks global.

Sejumlah emiten besar tercatat terdampak dalam peninjauan MSCI pada 19 Mei 2026, di antaranya AMMN, TPIA, DSSA, BREN, dan CUAN. Penyesuaian tersebut terjadi setelah MSCI merevisi perhitungan free float sejumlah saham, yang pada akhirnya berdampak terhadap bobot masing-masing emiten dalam indeks.

Selain isu MSCI, Samuel Sekuritas juga menyoroti tekanan nilai tukar rupiah. Berdasarkan materi presentasi perusahaan, rupiah telah bergerak pada kisaran Rp16.650 hingga Rp17.874 per dolar Amerika Serikat berdasarkan harga penutupan 29 Mei 2026.

"Tekanan rupiah juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Rupiah sudah melewati level yang terlihat saat Krisis Finansial Asia, dengan kisaran sekitar Rp16.650 hingga Rp17.874 per dolar AS. Ini membuat investor semakin selektif, terutama terhadap aset berisiko di pasar domestik," kata Tae Yong.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya meminta investor tetap mengedepankan rasionalitas dalam mengambil keputusan investasi.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa kondisi fundamental perusahaan tercatat masih relatif kuat. Menurut dia, lebih dari 80 persen emiten membukukan laba bersih pada kuartal I 2026, menjadi persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Jeffrey juga meluruskan informasi yang sempat beredar di pasar terkait status Indonesia dalam klasifikasi MSCI.

"Kemarin di pasaran ada informasi kurang akurat yang beredar terkait screenshot. Seakan-akan ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia diletakkan di frontiermarket. Rupanya misinformasi," kata Jeffrey di Pressroom wartawan BEI, Jakarta pada Kamis, 4 Juni 2026.

Ia menegaskan BEI berharap Indonesia tetap berada dalam kelompok pasar negara berkembang atau emerging market.

"Mengenai MSCI, semua yang dapat kita katakan adalah hal-hal konkret yang telah kita lakukan, kita punya harapan tingginya Indonesia akan tetap di pasar negara berkembang," ujarnya.

Menurut Jeffrey, kebijakan stabilisasi pasar yang diterapkan BEI juga masih berlaku, termasuk relaksasi buyback tanpa RUPS serta penundaan aktivitas short selling.

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna memastikan proses penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) tetap berjalan sesuai jadwal. Saat ini terdapat 15 perusahaan dalam pipeline BEI, yakni daftar calon emiten yang sedang menjalani proses persiapan sebelum resmi mencatatkan sahamnya di bursa.

"Masih pada jadwal, kami memiliki 15 perusahaan dalam proses. Kami pantau setiap hari progresnya," kata Nyoman.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".