KABARBURSA.COM — Di tengah perdagangan yang cenderung selektif, satu nama kembali mencuat di layar pelaku pasar. PT Sentul City Tbk. atau BKSL tiba-tiba nongol di urutan teratas daftar net foreign buy tengah hari, Kamis, 8 Januari 2026. Angkanya tidak kecil. Aliran beli bersih asing mencapai puluhan juta saham, menempatkan BKSL di puncak daftar yang dirilis Stockbit Sekuritas.
Berdasarkan data yang dirilis Stockbit, saham BKSL mencatatkan beli bersih asing sebanyak 80,04 juta saham. Angka ini berasal dari foreign buy sebesar 101,07 juta saham, sementara foreign sell tercatat 21,03 juta saham. Artinya, dari setiap transaksi asing yang terjadi di BKSL pada paruh hari perdagangan itu, arus beli terlihat jauh lebih dominan dibanding jual.
Di bawah BKSL, nama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) menyusul di posisi kedua dengan net foreign buy sebesar 71,61 juta saham. Namun jika dilihat lebih dalam, dinamika GOTO berbeda. Saham teknologi ini mencatatkan foreign buy sangat besar, mencapai 791,84 juta saham, tetapi juga dibarengi foreign sell yang tidak kecil, yakni 720,23 juta saham.
Posisi ketiga ditempati PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) dengan net foreign buy sebesar 49,97 juta saham. Saham properti kawasan industri ini mencatatkan foreign buy sebanyak 147,54 juta saham, sementara foreign sell berada di level 97,57 juta saham. Polanya lebih seimbang dibanding BKSL, tetapi tetap menunjukkan kecenderungan beli yang lebih kuat.

Pertanyaannya kemudian ada apa dengan BKSL? Sebab bagi pelaku pasar yang rajin mengikuti pergerakan Desember 2025 lalu, lonjakan minat terhadap saham properti ini sejatinya bukan cerita baru. Ia seperti kelanjutan dari rangkaian transaksi besar yang sudah lebih dulu menghangatkan bursa menjelang tutup tahun.
Masuknya BKSL sebagai saham dengan net foreign buy terbesar di tengah hari terasa janggal sekaligus menarik. Janggal karena sektor properti belum sepenuhnya pulih dari tekanan suku bunga dan daya beli. Menarik karena pergerakan saham ini tidak berdiri sendiri, melainkan datang setelah serangkaian transaksi repo dan reverse repo yang sempat mengubah peta kepemilikan dalam waktu singkat.
Jika ditarik ke belakang, jejaknya terlihat jelas sejak pertengahan Desember 2025. Dalam sepekan perdagangan 15 hingga 19 Desember, saham BKSL tercatat sebagai salah satu saham terpadat di bursa. Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, volume transaksi BKSL selama periode tersebut mencapai 12,22 miliar saham, atau sekitar 5,20 persen dari total volume pasar. Angka itu menempatkannya di posisi keempat secara nasional, hanya kalah dari BUMI, GOTO, dan MDIY.
Dari sisi frekuensi, saham ini bahkan menempati posisi kedua setelah BUMI, dengan 336 ribu kali transaksi atau sekitar 2,40 persen dari total frekuensi pasar. Aktivitas setinggi itu membuat BKSL sulit diabaikan, meski pergerakan harganya relatif tidak liar.
Sorotan kemudian mengarah pada perubahan kepemilikan. Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan bahwa Samuel Sekuritas Indonesia menjadi salah satu pihak yang aktif mengutak-atik kepemilikannya di BKSL. Per 18 Desember 2025, Samuel Sekuritas tercatat mengenggam 8,84 miliar lembar saham atau setara 5,27 persen hak suara.
Namun kepemilikan tersebut tidak berjalan lurus. Berdasarkan laporan perubahan kepemilikan saham di atas 5 persen yang disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan melalui keterbukaan informasi di laman BEI, Samuel Sekuritas tercatat melakukan transaksi jual beli saham BKSL dalam tiga hari berturut-turut, yakni pada 16 hingga 18 Desember 2025.
Pada 16 Desember, Samuel Sekuritas menambah sebanyak 2,16 miliar lembar saham BKSL dengan nilai transaksi sekitar Rp307,14 miliar. Setelah transaksi tersebut, kepemilikannya melonjak dari 6,65 miliar lembar atau 3,97 persen menjadi 8,81 miliar lembar atau 5,26 persen.
Sehari berselang, 17 Desember, arah transaksi berbalik. Samuel Sekuritas melepas 541,41 juta lembar saham BKSL. Kepemilikannya pun turun menjadi 8,27 miliar lembar atau sekitar 4,94 persen, kembali di bawah ambang batas pelaporan pengendalian.
Namun cerita belum selesai. Pada 18 Desember 2025, kepemilikan Samuel Sekuritas kembali melonjak signifikan menjadi 8,84 miliar lembar atau 5,27 persen. Artinya, dalam satu hari, sekuritas tersebut memborong sekitar 569,45 juta lembar saham BKSL dengan harga Rp133 per saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp75,73 miliar.
Dalam dokumen keterbukaan informasi, Senin, 22 Desember 2025, manajemen Samuel Sekuritas menjelaskan bahwa berbagai transaksi tersebut dilakukan dengan tujuan repurchase agreement atau repo.
Manajemen juga menegaskan status kepemilikan saham dari transaksi tersebut bersifat langsung dan tidak berdampak pada pengendalian perseroan. “Tujuan transaksi penempatan saham repo,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi BEI. Manajemen juga menyatakan Samuel Sekuritas tidak berstatus sebagai pengendali BKSL dan tidak memiliki tujuan untuk mempertahankan pengendalian atas emiten properti tersebut.
Pergerakan Masih Berlanjut di Awal Januari
Memasuki awal 2026, dinamika BKSL belum sepenuhnya mereda. Pada 5 Januari 2026, emiten properti ini kembali mengumumkan perubahan kepemilikan saham oleh Samuel Sekuritas Indonesia melalui transaksi reverse repo.
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi, sebelum transaksi tersebut Samuel Sekuritas tercatat memiliki 8,85 miliar saham BKSL atau setara 5,27 persen hak suara. Setelah transaksi reverse repo, kepemilikan berkurang menjadi 8,66 miliar saham dengan porsi hak suara sekitar 5,17 persen.
Transaksi tersebut melibatkan sekitar 180,74 juta saham BKSL dan dilakukan pada harga Rp152 per saham. Harga ini berada di atas harga pasar saat itu, mengingat saham BKSL ditutup di level Rp144 per saham pada hari pengumuman.
Manajemen kembali menegaskan Samuel Sekuritas tidak berstatus sebagai pemegang saham pengendali dan tidak memiliki tujuan untuk mengambil alih pengendalian Sentul City. “SSI tidak berstatus sebagai pemegang saham pengendali dan tidak memiliki tujuan untuk mengambil alih pengendalian Sentul City,” demikian dikutip dari keterbukaan informasi BEI.
Fakta bahwa transaksi reverse repo dilakukan pada harga premium memberi lapisan cerita tersendiri. Ini menunjukkan bahwa sebagian pergerakan saham BKSL tidak semata-mata didorong oleh mekanisme jual beli konvensional, melainkan oleh skema pembiayaan berbasis saham yang membuat volume dan nilai transaksi tampak besar di layar perdagangan.
Di luar hiruk-pikuk transaksi repo dan reverse repo, BKSL tetap memiliki basis cerita bisnis yang membuatnya relevan. Perusahaan ini mengembangkan kawasan kota mandiri Sentul City seluas sekitar 3.100 hektare di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Portofolionya mencakup berbagai proyek perumahan dan residensial seperti Arcadia Residence, Spring Valley dan Extension, Parkville, Spring Residence, Centronia Residence, hingga Spring Garden.
Bagi sebagian pelaku pasar, aset lahan yang besar menjadi bantalan nilai tersendiri, terutama ketika sektor properti mulai berharap pada penurunan suku bunga dan pemulihan permintaan dalam jangka menengah. Namun di sisi lain, pasar juga menyadari bahwa pemulihan sektor ini tidak akan instan.
Dalam konteks inilah, aliran dana asing yang kembali masuk ke BKSL pada perdagangan 8 Januari 2026 menjadi menarik untuk dibaca dengan kacamata yang lebih dingin. Angka net foreign buy yang besar tidak serta-merta mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap fundamental, tetapi bisa menjadi kelanjutan dari pola transaksi taktis yang sudah berlangsung sejak Desember.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.